Belajar Bersama Polisi

Siswa MI Nurul Jannah NW Ampenan didampingi beberapa guru melakukan kunjungan dan pembelajaran di Kantor Polsek Ampenan.

Penyuluhan Kesehatan

Siswa dan Guru MI Nurul Jannah NW Ampenan diberikan penyuluhan kesehatan dari Puskesmas Tanjung Karang Ampenan Kota Mataram NTB.

Outing Class

Sebagian Siswa MI Nurul Jannah NW Ampenan belajar didampingi beberapa guru melakukan kunjungan dan pembelajaran di Museum Negeri Mataram NTB.

Wisuda

Wisuda Abdul Rasyid, S. Sy (Adik) di UIN Mataram didampingi oleh saudara, ipar, dan keponakan.

Diklat PTK

Diklat teknis substantif peningkatan kompetensi PTK oleh Badiklat Keagamaan Denpasar di Mataram NTB.

Mukhadarah(Pidato)

Para siswa MI Nurul Jannah NW Ampenan dilatih berani tampil di depan umum dengan cara mengikuti kegiatan mukhadarah (pidato), dan lain sebagainya.

Upacara Bendera

Guru dan Siswa MI Nurul Jannah NW Ampenan melakukan upacara bendera setiap hari Senin dan hari-hari besar nasional.

Shalat Zuhur Berjamaah

Guru dan Siswa MI Nurul Jannah NW Ampenan meningkatkan iman taqwa dengan cara shalat zuhur berjamaah di mushalla madrasah.

Buku Hasil Karya Individu

Musim pandemi covid-19 membawa dampak positif sehingga bisa memberikan hasil karya berupa terbitnya buku ber-ISBN.

Buku Kolaborasi

Covid-19 memberikan perintah untuk WFH sehingga bisa mengisinya dengan menerbitkan 1 buku karya kolaboratif bersama bapak kepala MIN 2 Mataram.

14 Buku Kolaborasi

Pandemi Covid-19 menjadi kenangan terindah karena bisa memberikan karya bersama bapak-ibu guru Se-Indonesia berupa 14 buku ber-ISBN.

Nara Sumber Sosialisasi 4 Pilar MPR-RI

Kegiatan sosialisasi 4 Pilar MPR-RI yang diselenggarakan oleh komunitas belajar atas prakarsa kepala SMPN 18 Mataram dan Alhamdulillah saya diamanahkan untuk menjadi nara sumber salah satu 4 Pilar tersebut.

Latihan Manasik Haji

Guru dan Siswa MI Nurul Jannah NW Ampenan mempraktikkan ilmu yang diperoleh tentang rukun Islam yang kelima dengan melakukan latihan manasik haji di kantor Embarkasi Lombok dan mudah-mudahan secepatnya bernasib menunaikan ibadah haji dan umrah ke baitullah.

Selasa, 30 Maret 2021

ISTANANYA SANG PEMAAF



Pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang berkumpul dgn para sahabatnya.
Di tengah perbincangan dengan para sahabat, tiba-tiba Rasulullah SAW tertawa ringan sampai terlihat gigi depannya.

Sayyidina Umar r.a. yang berada di situ, bertanya :
"apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah ?"

Rasulullah SAW menjawab :
"Aku diberitahu Malaikat, bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala di hadapan Allah SWT."

"Salah seorang mengadu kepada Allah sambil berkata :

‘Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku."

Allah SWT berfirman :
"Bagaimana mungkin Aku mengambil kebaikan saudaramu ini, karena tidak ada kebaikan di dalam dirinya sedikitpun..?"

Orang itu berkata :
"Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya"

Sampai disini, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca.
Rasulullah SAW tidak mampu menahan tetesan airmatanya.

Beliau menangis...

Lalu, beliau Rasulullah berkata :
"Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, dimana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosa nya."

Rasulullah SAW  melanjutkan kisahnya.

Lalu Allah berkata kepada orang yang mengadu tadi :

" Sekarang angkat kepalamu.."

Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata :

"Ya Rabb, aku melihat di depan ku ada istana-istana yang terbuat dari emas, dengan puri dan singgasananya yang terbuat dari emas & perak bertatahkan intan berlian..! "

"Istana-istana itu untuk Nabi yang mana, ya Rabb ?"

"Untuk orang shiddiq yang mana, ya Rabb ?"

"Untuk Syuhada yang mana, ya Rabb ?"

Allah SWT berfirman :
" Istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya."

Orang itu berkata :

"Siapakah yang  mampu membayar harganya, ya Rabb ?"

Allah berfirman :

"Engkaupun mampu membayar harganya."

Orang itu terheran-heran, sambil berkata :

" Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb ?"

Allah berfirman :

'CARAnya, engkau MAAFkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku’.

Orang itu berkata :

"Ya Rabb, kini aku memaafkannya."

Allah berfirman :

'Kalau begitu, gandeng tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu..."

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah Saw berkata :

"Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian SALING BERDAMAI dan MEMAAFkan, sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi diantara kaum muslimin."
Sumber: Hamdi Akhsan
Wallahu a'lam bish-shawab.

AIR NANAS PANAS_



Wooow ternyata ampuh

Air Nanas panas, tolong sebarkan !
Profesor Khairul Huseinn dari Rumah Sakit Umum Angkatan Darat Jakarta menekankan bahwa jika setiap orang yang menerima buletin ini dapat meneruskan sepuluh salinan kepada orang lain', pasti setidaknya satu kehidupan akan diselamatkan ...
Saya telah melakukan bagian saya, semoga Anda juga dapat membantu bagian Anda. terima kasih!

Air nanas panas bisa menyelamatkan Anda seumur hidup

Lihatlah lagi, lalu beri tahu yang lain,
Sebarkan cinta keluar!

Nanas panas ~ dapat membunuh sel kanker!

Potong 2 hingga 3 serpihan nanas tipis dalam secangkir, tambahkan air panas, itu akan menjadi "air alkali", tunggu hingga dingin kmudian minum. minum setiap hari, itu baik untuk siapa saja.

Air nanas panas melepaskan zat anti kanker, yang merupakan kemajuan terbaru dalam pengobatan kanker yang efektif di bidang medis.

Sari buah nanas panas memiliki efek untuk membunuh kista dan tumor. Terbukti untuk memperbaiki semua jenis kanker.

Air nanas panas dapat membunuh semua kuman dan racun dari dalam tubuh akibat dari alergi

Jenis pengobatan dengan ekstrak nanas hanya menghancurkan sel-sel ganas, itu tidak mempengaruhi sel-sel sehat.

Selain itu, asam amino dan polifenol nanas dalam jus nanas dapat mengatur tekanan darah tinggi, efektif mencegah penyumbatan pembuluh darah dalam, menyesuaikan sirkulasi darah dan mengurangi pembekuan darah.

Setelah membaca, beri tahu yang lain, keluarga, teman, sebarkan cinta! Jaga kesehatan Anda sendiri.

Wassalam
(DR. dr. Rahyussalim, SpOT) FK UI

Senin, 29 Maret 2021

RTGB dan TGB usai penandatanganan kesepakatan 'damai'.

 


Perseteruan dualisme organisasi Nahdlatul Wathan (NW) yang telah terjadi puluhan tahun akhirnya menemui solusi. Hari ini dua orang simbol di antara kedua kubu yakni TGB. KH. Muhammad Zainul Majdi dan RTGB Zainuddin Atsani bertemu untuk membuat kesepakatan antara kedua pihak.

Dari pihak TGB menyepakati nama organsasi yakni Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI). Sementara RTGB tetap menggunakan Nahdlatul Wathan (NW). Kedua nama itu merupakan karya Pahlawan Nasional TGKH M Zainuddin Abdul Madjid.

“Alhamdulillah, suasananya baik. Penuh persaudaraan, saling memaafkan, saling menghargai, saling mengakui.
Keduanya memiliki kesetaraan dalam meneruskan perjuangan Maulana Syekh. Kemarin ada satu organisasi dengan dua kepengurusan. Sekarang ada NW dan NWDI,” tulis TGB dalam WA yang beredar di berbagai grup, Selasa (23/03/2021).

Pada kesempatan itu, keduanya membuat akta kesepakan untuk tetap meneruskan perjuangan pahlawan nasional yang populer dengan panggilan Tuan Guru Pancor. “Itu semua ada dalam Akta Kesepakatan Perdamaian,” sambung TGB.

Disehutkan, keduanya mengakui keabsahan dan legalitas satu sama lain. “Saling menghormati,
menghindarkan silang sengketa dan perselisihan.
InsyaAlloh bergandengan tangan. Untuk kemajuan dan
kemaslahatan umat dan bangsa,” ungkap TGB.

Ditegaskan pula, saat ini semua nahdliyin bebas memilih afiliasi dari semua lembaga yang dimiliki kader di seluruh penjuru Nusantara tanpa ada pemaksaan atau intimidasi dari organsasi.

“Sekolah, madrasah, majelis taklim, panti asuhan, dan seluruh amal usaha Nahdlatul Wathan memiliki kebebasan untuk memilih menginduk kemana, apakah ke NW atau NWDI,” tegasnya.

“Tidak boleh ada intimidasi, persekusi, bullying, pengaduan ataupun laporan apapun terkait satu dengan yang lain.
Ini jalan terbaik saat ini.
Semoga Alloh memberi RidhoNya,” tutup TGB.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pendidikan Hamzanwadi HM. Djamaluddin menegaskan hal itu bukan ishlah organisasi. “Ini semua untuk menghindari mudarat yang lebih besar, karena posisi keduanya setara di mata hukum, tidak ada tuntut menuntut, membully dan lainnya,” tegas adik kandung TGB itu.

Sebelum kesepakatan hari ini, organisasi NW ada yang memegang SK Menkumham dan sekarang tetap dipegang oleh RTGB Zainuddin Tsani. Sekarang Pancor memilih nama organisasi NWDI. “Jadi ini bukan ishlah tapi perdamaian,” pungkas zurriyat Pahlawan Nasional itu.

dikutip dari http://www.koranmerah.com/2021/03/23/rtgb-dan-tgb-teken-kesepakatan-damai-ada-yang-pakai-nw-dan-nwdi/

DUALISME PB NW SUDAH BERAKHIR.


Ketua Umum  PB NW (Nahdlatul Wathan) adalah  RTGB. KH. LALU GEDE MUHAMMAD ZAINUDDIN TSANI.

Ketua Umum NWDI (Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah) adalah TGB Dr HM. ZAINUL MAJDI, MA.

ITULAH  KESIMPULAN AKHIR DARI MEDIASI YANG DIFASILITASI OLEH KEMENKUMHAM RI hari ini yang sudah ditandatangani oleh kedua cucu Maulanasyaikh (TGB dan RTGB).

Maulanasysyaikh TGKHM ZAINIDDIN ABD MADJID adalah pendiri Madrasah NWDI, NBDI dan NW.

Dr. TGB KH. Muhammad Zainul Majdi, MA adalah pendiri Organisasi baru dengan Nama NWDI.

Namun perlu dibedakan
NWDI Maulana Syaikh adalah Madrasah sedangkan NWDI TGB adalah organisasi.

Masing2 sudah mengalah untuk sama sama melangkah, tidak gaduh lagi.

Logo organisasi NWDI sama dengan logo NW tetapi yang membedakannya adalah pada organisasi NWDI bulan bintang bersinar limanya berwarna kuning sedangkan pada organisasi NW berwarna putih.

Lembaga-lembaga pendidikan, sekolah, madrasah, pondok pondok pesantren, dan seluruh masyarakat/jamaah diberikan kebebasan untuk memilih tanpa paksaan untuk berafiliasi ke organisasi NW ataupun organisasi NWDI.

Minggu, 28 Maret 2021

KEPUTUSAN ALLAH ITU BAIK, TAPI...



 
Sering kali kita latah mengatakan bahwa, apapun yang terjadi pada dirimu, itu adalah pilihan yang terbaik yang Allah berikan. Namun, engkau tahu bahwa tidak semua yang terjadi pada kehidupan manusia itu adalah sesuatu yang baik. Ingat dengan Qorun, diberi banyak kelebihan harta namun itu bukan pilihan terbaik bahkan sebaliknya. Ingat dengan Firaun, diberi kelebihan kekuasaan tapi ternyata itu bukan pilihan yang terbaik bahkan sebaliknya.  Masih banyak cerita-cerita yang lain. Bahwa kondisi seseorang itu belum tentu pilihan yang terbaik. Kenapa demikian karena pilihan terbaik dari Allah itu ada syaratnya, jika syarat itu tidak dipenuhi maka itu belum tentu pilihan terbaik, besar kemungkinan sebaliknya.

Coba perhatikan orang-orang di sekitarmu, ada yang tidak pernah sholat tapi selalu sehat dan umurnya panjang. Ada yang tidak pernah sedekah dan infaq tapi kekayaannya bertambah banyak. Itulah yang namanya istidraj. Adakalanya orang yang melakukan keburukan, tidak mau melakukan hal yang baik malah diberi kekayaan, kesehatan, panjang umur, dikaruniai anak banyak dan kenikmatan lainnya. Itulah istidraj. Dilenakan dengan berbagai kenikmatan tapi sebenarnya ditenggelamkan lebih dalam ke jurang kenistaan. Namun ada juga orang yang tidak punya apa-apa  tapi sering melakukan kesyirikan juga tidak tepat kita katakan bersabarlah atas cobaan kemiskinan, itu adalah keputusan Allah yang terbaik. Seorang yang miskin dan sakit-sakitan, tertimpa musibah belum tentu pilihan terbaik dari Allah jika masih tidak taat atas segala perintah dan larangan-Nya. Seseorang yang diam, tidak berusaha untuk berubah, tidak berusaha bekerja tidak pantas juga dikatakan bersabarlah itu keputusan Allah yang terbaik.

Keputusan Allah yang terbaik atas dirimu itu ada syaratnya.  penjagaan Allah atas dirimu itu ada syaratnya. Engkau harus senantiasa berada pada trackNya. Harus senantiasa berusaha untuk menjalankan apa yang diperintahkanNya dan menjauhi segala yang Dia larang. Jika tidak belum tentu itu keputusan yang terbaik. Bisa jadi sebaliknya. Bisa jadi itu istidraj.

“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain).

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44).

Semua Bentuk Permainan Dadu Haram


☑️ Hukum asal permainan adalah boleh selama tidak ada keharaman di dalamnya. Jika terdapat keharaman maka permainan itu pun menjadi terlarang. Salah satu permainan yang terlarang dalam Islam adalah permainan dadu (An-Nard). Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدَشِيرِ فَكَأَنَّمَا صَبَغَ يَدَهُ فِي لَحْمِ خِنْزِيرٍ وَدَمِهِ

"Barangsiapa bermain dadu, maka ia seakan-akan mencelupkan tangannya ke dalam daging babi dan darah babi." (HR. Muslim: 2260)

Dalam hadits yang lain, dari Abu Musa Al-Asy’ari, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدِ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ

"Barangsiapa yang bermain dadu maka ia telah berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya." (HR. Abu Dawud: 4938)

⛔ Bahkan permainan ini diharamkan meskipun tanpa taruhan. Disebutkan dalam fatwa Lajnah Da’imah 15/210 (Lembaga fatwa Arab Saudi):

لا يجوز اللعب بالنرد ولو كان بغير عوض ، خصوصا إذا شغل عن أداء الصلاة في وقتها ، فالواجب ترك ذلك ؛ لأنه من اللهو المحرم

“Tidak boleh bermain dengan menggunakan dadu walaupun tanpa taruhan, lebih khusus apabila sampai membuat sibuk dari melaksanakan shalat pada waktunya. Wajib meninggalkannya karena permainan tersebut merupakan permainan yang haram.” (disadur dari Islamqa.info dengan judul: Hukmu Al-La’b bi Ath-Thawilah)

✍️ Oleh sebab itu, sebagai seorang muslim kita wajib memperhatikan semua bentuk permainan yang ada dirumah kita. Semua permainan yang menggunakan dadu maka harus segera ditinggalkan dan dibuang agar kita tidak terjatuh pada dosa besar. Semoga Allah melindungi kita dan semua keluarga kita dari segala bentuk permainan yang haram.

NASEHAT UNTUKKU DAN KAMU, PARA PENUNTUT ILMU

 


📖 Imam Bukhari menyebutkan secara mu’allaq dalam Shahihnya Kitabul Ilmi Bab: Al-Haya’ fil Ilmi, sebuah atsar dari Mujahid rahimahullah, ia mengatakan:

لَا يَتَعَلَّمُ العِلْمَ مُسْتَحْي وَلَا مُسْتَكْبِر

“Tidak akan mendapatkan ilmu seorang yang pemalu dan seorang yang sombong.” (Shahih Bukhari hal: 34, cet. Darus Salam, Riyadh)

Malu dan tidak percaya diri dengan kemampuan diri sendiri adalah salah satu penyakit yang akan menjadikan seorang gagal memperoleh ilmu.

Malu adalah tabiat kita semua, namun apabila malu tersebut mengahalangi kita dari mempelajari agama maka itu adalah malu yang tidak pada tempatnya dan malu yang tercela. Oleh sebab itulah, salah satu kelebihan para wanita Anshar, mereka mampu menepis rasa malunya jika hal itu untuk kebaikan, dalam menuntut ilmu. Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu anha pernah menuturkan:

نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الأَنْصَارِ لَمْ يَمْنَعْهُنَّ الحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّيْنِ

“Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk tafakkuh (mempelajari) agama.” (Shahih Bukhari hal. 34)

✒️ Maka dari itu, sebagai seorang yang takkan berhenti belajar agama, kita harus bisa mencampakkan sifat malu dan tidak percaya diri ini. Tidak perlu minder dengan orang lain. Kita ini belajar agama dan belajar agama itu adalah ibadah.

Tidak perlu silau dengan kehebatan orang lain. Mungkin saja dia telah lama belajar sedangkan bisa baru memulai. Bisa jadi ketika dahulu dia berada pada posisi kita saat ini dia juga merasakan hal yang sama. Teruslah sajalah berjalan jangan hiraukan kehebatan orang lain, sudah lupakah kita dengan ucapan Aisyah radhiyallahu anha yang mengatakan:

إِذَا أَعْجَبَكَ حُسْنُ عَمَلِ امْرِئٍ فَقُلْ {اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ} وَلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ أَحَدٌ

"Apabila bagusnya amal seorang membuatmu takjub, maka katakanlah (Beramallah kalian, maka Allah akan melihat amalan kalian kemudian Rasul-Nya, orang-orang yang beriman) dan janganlah ada seorang pun membuatmu merasa rendah diri.” (Riwayat Al-Bukhari: 7529)

🖋️ Dan ingat juga, bahwa ketika melihat orang yang memiliki kelebihan, jangan lihat “hasilnya” saat ini, tapi lihatlah perjuangan mereka sebelumnya. Imam Bukhari adalah imam besar tapi lihatlah usahanya untuk menggapai kemulian itu. al-Khatib al-Baghdadi menuturkan:

كَانَ الإِمَامُ البُخَارِيُّ يَقُوْمُ فِيْ اللَّيْلَةِ الوَحِدَةِ مَا يَقْرُبُ مِنْ عِشْرِيْنَ مَرَّةً لِتَدْوِيْنِ حَدِيْثٍ أَوْ فِكْرَةٍ طَرَأَتْ عَلَيْهِ

“Dahulu Imam Bukhari terbangun dalam satu malam sampai dua puluh kali untuk menulis hadist atau ide yang terlintas secara tak sengaja olehnya.” (Mausua’ah Nadhratin Na’im: 3007)

Demikian juga dengan Imam ath-Thabarani, yang memiliki karya tulis yang banyak, tatkala ditanya bagaimana ia bisa malakukan hal itu, ia menjawab:

كُنْتُ أَنَامُ عَلَى الحَصِيْرِ ثَلَاثِيْنَ سَنَةً

“Aku tidur hanya di atas tikar jerami selama 30 tahun.” (ar-Rihlah fi Thalabil Hadits: 220-221, Mausu’ah Nadhratin Na’im: 3007)

Demikian juga dengan Imam Amir bin Syarahil asy-Sya’bi.

قِيْلَ لِلشَّعْبِيِّ: مِنْ أَيْنَ لَكَ كُلُّ هَذَا العِلْمِ؟ قَالَ: بِنَفْيِ الاغْتِمَامِ، وَالسَّيْرِ فِي البِلاَدِ، وَصَبْرٍ كَصَبْرِ الحَمَامِ، وَبُكُوْرٍ كَبُكُوْرِ الغُرَابِ.

 

"Pernah ditanyakan kepada Imam asy-Sya’bi: “Dari mana engkau memperoleh semua ilmu ini?” Ia menjawab: “Dengan membuang kesedihan, berkelana di berbagai negeri, bersabar seperti sabarnya merpati dan berpagi-pagi seperti burung gagak.” (Siyar A’lam an-Nubala’ 7/333-334)

“Kesungguhan,” itulah kata kuncinya. Bukankah pada dasarnya kita sama, sebagaimana Firman Allah ﷻ :

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl: 78)

Kita sama-sama dilahirkan dalam keadaan telanjang dan tidak tahu apa-apa. Imam Bukhari ketika lahir juga tidak hafal al-qur’an atau hadits-hadits. Tapi dengan “kesungguhan” sehingga beliau menjadi ulama. Begitu juga dengan para ulama yang lain.

✍🏻 Oleh sebab itu, sebagai nasehat bagi kita semua, marilah kita terus belajar agama sampai menutup mata. Siapapun kita, berapa pun umur kita saat ini, sekecil apa pun kemampuan kita, jangan sampai membuat kita lelah lantas kemudian merasa malu dan risih.

Ingat, bahwa Allah ﷻ melihat semua yang kita lakukan. Ilmu itu adalah cahaya Allah ﷻ yang diberikan kepada orang-orang yang dikehendakinya, maka bersungguh-sungguhlah dalam menggapainya. Allah ﷻ tahu siapa diantara kita yang memang jujur terhadap-Nya.

Cara syar’i mengobati dan melepaskan pengaruh sihir

 

🍂 Para ulama telah menyebutkan bahwa cara syar’i mengobati dan melepaskan pengaruh sihir ada dua yaitu:

Pertama, mengupayakan untuk mengeluarkan wasilah (buhul) sihir dari tempat dia diletakkan atau ditanam, kemudian menghancurkannya.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia menuturkan

سُحِرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى كَانَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا يَفْعَلُهُ حَتَّى كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ دَعَا وَدَعَا ثُمَّ قَالَ أَشَعَرْتِ أَنَّ اللَّهَ أَفْتَانِي فِيمَا فِيهِ شِفَائِي أَتَانِي رَجُلَانِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ مَا وَجَعُ الرَّجُلِ قَالَ مَطْبُوبٌ قَالَ وَمَنْ طَبَّهُ قَالَ لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ قَالَ فِيمَا ذَا قَالَ فِي مُشُطٍ وَمُشَاقَةٍ وَجُفِّ طَلْعَةٍ ذَكَرٍ قَالَ فَأَيْنَ هُوَ قَالَ فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ فَخَرَجَ إِلَيْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ لِعَائِشَةَ حِينَ رَجَعَ نَخْلُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ فَقُلْتُ اسْتَخْرَجْتَهُ فَقَالَ لَا أَمَّا أَنَا فَقَدْ شَفَانِي اللَّهُ وَخَشِيتُ أَنْ يُثِيرَ ذَلِكَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا ثُمَّ دُفِنَتْ الْبِئْرُ

"Nabi ﷺ telah disihir hingga terbayang oleh beliau seolah-olah berbuat sesuatu padahal tidak. Hingga pada suatu hari Beliau memanggil-manggil kemudian berkata: “Apakah kamu menyadari bahwa Allah telah memutuskan tentang kesembuhanku?. Telah datang kepadaku dua orang, satu diantaranya duduk dekat kepalaku dan yang satu lagi duduk di dekat kakiku. Yang satu bertanya kepada yang lainnya; “Sakit apa orang ini?”. Yang lain menjawab; “Kena sihir”. Yang satu bertanya lagi; “Siapa yang menyihirnya?”. Yang lain menjawab; “Labid bin Al A’sham”. Yang satu bertanya lagi; “Dengan cara apa?”. DIjawab; “Dengan cara melalui sisir, rambut yang rontok saat disisir dan putik kembang kurma jantan”. Yang satu bertanya lagi; “Sekarang sihir itu diletakkan dimana?”. Yang lain menjawab; “Di sumur Dzarwan”. Maka Nabi ﷺ pergi mendatangi tempat tersebut kemudian kembali dan berkata kepada ‘Aisyah setelah kembali; “Putik kurmanya bagaikan kepala-kepala setan”. Aku bertanya; “Apakah telah baginda keluarkan?”. Beliau berkata: “Tidak, karena Allah telah menyembuhkan aku. Namun aku khawatir bekasnya itu dapat mempengaruhi manusia maka sumur itu aku timbun.” (HR. Bukhari: 3268)

Kedua, ruqyah dengan ayat, dzikir dan do’a yang ma’tsurah.  Allah ﷻ berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang yang beriman. (QS. Al-Isra’: 82)

Untuk pengobatan dengan ruqyah maka ada tiga syarat yang harus dipenuhi:

1️⃣Ruqyah dengan menggunakan firman Allah ﷻ atau Asma’ dan Shifatnya atau sabda Rasulullah ﷺ

2️⃣Ruqyah harus diucapkan dalam bahasa Arab, diucapkan dengan makna yang jelas dan dapat dipahami maknanya.

3️⃣Harus diyakini bahwa bukanlah zat ruqyah itu sendiri yang memberi pengaruh, tetapi yang memberi pengaruh adalah kekuasaan Allah ﷻ, sedangkan ruqyah hanya merupakan salah satu sebab saja. (Lihat Fathul Bari: X/195)

👤Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah menjelaskan: “Apabila seseorang terkena sihir, santet, guna-guna, kesurupan jin dan lainnya, maka hendaklah ia berikhtiar sesuai dengan syariat dan mencari obatnya dengan usaha yang maksimal. Dalam usaha seorang hamba untuk mengobati penyakit yang diderita, haruslah memperhatikan dua hal:

▪️Pertama, bahwa obat dan dokter hanya sarana kesembuhan sedangkan yang benar-benar menyembuhkan adalah Allah ﷻ. Allah ﷻ mengisahkan Nabi Ibrahim:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara’: 80)

▪️Kedua, ikhtiyar tersebut tidak boleh dilakukan dengan cara-cara-cara yang haram dan syirik. Di antara yang haram ini seperti berobat dengan menggunakan obat yang terlarang atau barang-barang yang haram, karena Allah ﷻ tidak mengizinkan penyembuhan dari barang yang haram seperti sihir. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ, فَتَدَاوَوْا وَلَا تَتَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah dan jangan berobat dengan yang haram.” (HR. Ad-Daulabi, dihasankan Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 1633)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata:

إِنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ شِفَاءَكُمْ فِيمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan penyakit kalian pada apa-apa yang diharamkan atas kalian.” (HR. Bukhari, Fathul Bari: X/78-79)

Langkah yang ditempuh oleh orang yang terkena sihir, guna-guna santet, dan yang lainnya hendaklah ia berobat dengan pengobatan syar’i dengan cara memakan 7 butir kurma Ajwah (kurma Nabi) setiap pagi, minum habbatus sauda’ (jintan hitam), dibekam, dan diruqyah (dibacakan ayat-ayat al-Qur’an dan doa-doa dari Sunnah Rasulullah yang shahih), in syaa Allah akan sembuh dengan izin Allah. (Syarh Aqidah Ahlussunnah Waljamaah: 469-470)

✍️ Semoga Allah ﷻ melindungi kita dan keluarga dari pengaruh sihir. Amin.

Kamis, 25 Maret 2021

YANG MATI HARI JUM’AT SELAMAT DARI SIKSA KUBUR?

 

Dalam Rubrik Tazkiyatun Nufus edisi shafar 1433 H pada halaman 60 disebutkan bahwa diantara orang-orang yang terpelihara dari ujian dan siksa kubur (yang ke tiga) adalah seorang Muslim yang meninggal pada hari jumat.

Pertanyaanya adalah apakah hadist ini berlaku secara mutlaq ? Keterangan ini berlawanan dengan keterangan sebelumnya yang mengatakan bahwa diantara sebab siksa kubur adalah ahli riba. Bagaimana kalau yang mati pada hari jumat itu ahli riba atau pezina? Mohon dijelaskan supaya lebih jelas dan gamblang. Terima kasih. Jawaban. Hadits yang dimaksudkan oleh penanya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الْجُمْعَةِ، أَوْ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

Setiap Muslim yang meninggal pada hari Jum’at akan dijaga oleh Allah dari fitnah kubur. [HR. Ahmad dan Tirmidzi]

Hadits tersebut menunjukkan keutamaan orang yang meninggal pada malam atau siang hari Jum’at dan termasuk salah satu tanda khusnul khatimah, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Ahkâmul Janâiz, hlm. 49. al-Mubarakfûri dalam Tuhfatul Ahwâdzi Syarh Jâmi Tirmidzi, ketika menjelaskan hadits ini membawakan perkataan al-Hakim at-Tirmidzi, “Jika Allah Azza wa Jalla mewafatkan seseorang dan hari wafatnya itu bertepatan dengan hari Jum’at, maka itu merupakan tanda kebahagiannya dan tanda tempat kembalinya yang bagus. Karena tidaklah dicabut nyawa seseorang pada hari Jum’at kecuali orang yang telah ditulis kebahagiannyanya disisi-Nya. Oleh karena itu Allâh menjaganya dari fitnah kubur.

Lalu bagaimana kalau yang meninggal pada hari itu adalah pelaku maksiat bahkan pelaku dosa besar misalnya ? Menurut aqidah Ahlus Sunnah jika seorang Muslim meninggal dunia sedangkan ia dalam berada dalam kemaksiatan, misalnya melakukan dosa-dosa besar, seperti zina, menuduh wanita Muslimah berzina, atau mencuri maka urusan mereka di bawah kehendak Allâh. Jika Allah berkehendak maka Dia akan mengampuni dosa hamba tersebut dan jika tidak, maka Dia akan menyiksanya terlebih dahulu, lalu si hamba tadi akan dimasukan ke dalam surga, sebagaimana firman-Nya

 إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Allah mengampuni dosa yang selain dosa syirik itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.[An-Nisâ/4:48]

Dan banyak sekali hadits yang shahih dan mutawatir yang menjelaskan tentang dikeluarkannya kaum Muslimin pelaku kemasiatan dari neraka. [Lihat Fatâwâ Lajnah Dâimah, 1/728] Maka demikian pula halnya siksa kubur bagi pelaku dosa besar. Jika Allah Azza wa Jalla menghendaki, maka Allah Azza wa Jalla akan menyiksanya dan jika Allah Azza wa Jalla menghendaki untuk mengampuninya, maka Dia mengampuninya. Dan hanya Allâh Azza wa Jalla yang berhak memberikan siksa dan meringankan beban siksa seseorang dalam kubur atau bahkan meniadakan siksa kubur sama sekali terhadap hamba-hamba-Nya yang dikehendaki. Wallâhu’alam

disalin dari https://almanhaj.or.id/3825-yang-mati-hari-jumat-selamat-dari-siksa-kubur.html

 

Akhlak Islami Dalam Bertetangga

 Islam adalah agama rahmah yang penuh kasih sayang. Dan hidup rukun dalam bertetangga adalah moral yang sangat ditekankan dalam Islam. Jika umat Islam memberikan perhatian dan menjalankan poin penting ini, niscaya akan tercipta kehidupan masyarakat yang tentram, aman dan nyaman.

Batasan Tetangga

Siapakah yang tergolong tetangga? Apa batasannya? Karena besarnya hak tetangga bagi seorang muslim dan adanya hukum-hukum yang terkait dengannya, para ulama pun membahas mengenai batasan tetangga. Para ulama khalaf dalam banyak pendapat mengenai hal ini. Sebagian mereka mengatakan tetangga adalah ‘orang-orang yang shalat subuh bersamamu’, sebagian lagi mengatakan ’40 rumah dari setiap sisi’, sebagian lagi mengatakan ’40 rumah di sekitarmu, 10 rumah dari tiap sisi’ dan beberapa pendapat lainnya (lihat Fathul Baari, 10/367).

Namun pendapat-pendapat tersebut dibangun atas riwayat-riwayat yang lemah. Oleh karena itu Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata: “Semua riwayat dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang berbicara mengenai batasan tetangga adalah lemah tidak ada yang shahih. Maka zhahirnya, pembatasan yang benar adalah sesuai ‘urf” (Silsilah Ahadits Dha’ifah, 1/446). Sebagaimana kaidah fiqhiyyah yang berbunyi al ‘urfu haddu maa lam yuhaddidu bihi asy syar’u (adat kebiasaan adalah pembatas bagi hal-hal yang tidak dibatasi oleh syariat). Sehingga, yang tergolong tetangga bagi kita adalah setiap orang yang menurut adat kebiasaan setempat dianggap sebagai tetangga kita.

Kedudukan Tetangga Bagi Seorang Muslim

Hak dan kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangatlah besar dan mulia. Sampai-sampai sikap terhadap tetangga dijadikan sebagai indikasi keimanan. Rasulullah saw bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya” (HR. Bukhari 5589, Muslim 70)

Bahkan besar dan pentingnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangatlah ditekankan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْـجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris” (HR. Bukhari 6014, Muslim 2625)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan: “Bukan berarti dalam hadits ini Jibril mensyariatkan bagian harta waris untuk tetangga karena Jibril tidak memiliki hak dalam hal ini. Namun maknanya adalah beliau sampai mengira bahwa akan turun wahyu yang mensyariatkan tetangga mendapat bagian waris. Ini menunjukkan betapa ditekankannya wasiat Jibril tersebut kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam” (Syarh Riyadhis Shalihin, 3/177)

Anjuran Berbuat Baik Kepada Tetangga

Karena demikian penting dan besarnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim, Islam pun memerintahkan ummatnya untuk berbuat baik terhadap tetangga. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An Nisa: 36)

Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan ayat ini: “Tetangga yang lebih dekat tempatnya, lebih besar haknya. Maka sudah semestinya seseorang mempererat hubungannya terhadap tetangganya, dengan memberinya sebab-sebab hidayah, dengan sedekah, dakwah, lemah-lembut dalam perkataan dan perbuatan serta tidak memberikan gangguan baik berupa perkataan dan perbuatan” (Tafsir As Sa’di, 1/177)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

خَيْرُ اْلأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ ، وَخَيْرُ الْـجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِـجَارِهِ

Sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap sahabatnya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap tetangganya” (HR. At Tirmidzi 1944, Abu Daud 9/156)

Maka jelas sekali bahwa berbuat baik terhadap tetangga adalah akhlak yang sangat mulia dan sangat ditekankan penerapannya, karena diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Ancaman Atas Sikap Buruk Kepada Tetangga

Di samping anjuran, syariat Islam juga mengabarkan kepada kita ancaman terhadap orang yang enggan dan lalai dalam berbuat baik terhadap tetangga. Bahkan Rasulullah  saw menafikan keimanan dari orang yang lisannya kerap menyakiti tetangga. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ . قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Demi Allah, tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Ada yang bertanya: ‘Siapa itu wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak aman dari bawa’iq-nya (kejahatannya)‘” (HR. Bukhari 6016, Muslim 46)

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: “Bawa’iq maksudnya culas, khianat, zhalim dan jahat. Barangsiapa yang tetangganya tidak aman dari sifat itu, maka ia bukanlah seorang mukmin. Jika itu juga dilakukan dalam perbuatan, maka lebih parah lagi. Hadits ini juga dalil larangan menjahati tetangga, baik dengan perkataan atau perbuatan. Dalam bentuk perkataan, yaitu tetangga mendengar hal-hal yang membuatnya terganggu dan resah”. Beliau juga berkata: ”Jadi, haram hukumnya mengganggu tetangga dengan segala bentuk gangguan. Jika seseorang melakukannya, maka ia bukan seorang mukmin, dalam artian ia tidak memiliki sifat sebagaimana sifat orang mukmin dalam masalah ini” (Syarh Riyadhis Shalihin, 3/178)

Bahkan mengganggu tetangga termasuk dosa besar karena pelakunya diancam dengan neraka. Ada seorang sahabat berkata:

يا رسول الله! إن فلانة تصلي الليل وتصوم النهار، وفي لسانها شيء تؤذي جيرانها. قال: لا خير فيها، هي في النار

Wahai Rasulullah, si Fulanah sering shalat malam dan puasa. Namun lisannya pernah menyakiti tetangganya. Rasulullah bersabda: ‘Tidak ada kebaikan padanya, ia di neraka’” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak 7385)

Sebagaimana Imam Adz Dzahabi memasukan poin ‘mengganggu tetangga’ dalam kitabnya Al Kaba’ir (dosa-dosa besar). Al Mula Ali Al Qari menjelaskan mengapa wanita tersebut dikatakan masuk neraka: “Disebabkan ia mengamalkan amalan sunnah yang boleh ditinggalkan, namun ia malah memberikan gangguan yang hukumnya haram dalam Islam” (Mirqatul Mafatih, 8/3126).

Bentuk-Bentuk Perbuatan Baik Kepada Tetangga

Semua bentuk akhlak yang baik adalah sikap yang selayaknya diberikan kepada tetangga kita. Diantaranya adalah bersedekah kepada tetangga jika memang membutuhkan. Bahkan anjuran bersedekah kepada tetangga ini sangat ditekankan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :

لَيْسَ الْـمُؤْمِنُ الَّذيْ يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إلَى جَنْبِهِ

Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 18108, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 149)

Beliau juga bersabda:

إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ ، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيْرَانِكَ فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوْفٍ

Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik” (HR. Muslim 4766)

Dan juga segala bentuk akhlak yang baik lainnya, seperti memberi salam, menjenguknya ketika sakit, membantu kesulitannya, berkata lemah-lembut, bermuka cerah di depannya, menasehatinya dalam kebenaran, dan sebagainya.

Jika Bertetangga Dengan Non-Muslim

Dalam firman Allah Ta’ala pada surat An Nisa ayat 36 di atas, tentang anjuran berbuat baik pada tetangga, disebutkan dua jenis tetangga. Yaitu al jaar dzul qurbaa (tetangga dekat) dan al jaar al junub (tetangga jauh). Ibnu Katsir menjelaskan tafsir dua jenis tetangga ini: “Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa al jaar dzul qurbaa adalah tetangga yang masih ada hubungan kekerabatan dan al jaar al junub adalah tetangga yang tidak memiliki hubungan kekerabatan”. Beliau juga menjelaskan: “Dan Abu Ishaq meriwayatkan dari Nauf Al Bikali bahwa al jaar dzul qurbaa adalah muslim dan al jaar al junub adalah Yahudi dan Nasrani” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/298).

Anjuran berbuat baik kepada tetangga berlaku secara umum kepada setiap orang yang disebut tetangga, bagaimana pun keadaannya. Ketika menjelaskan hadits

مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْـجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris

Al ‘Aini menuturkan: “Kata al jaar (tetangga) di sini mencakup muslim, kafir, ahli ibadah, orang fasiq, orang jujur, orang jahat, orang pendatang, orang asli pribumi, orang yang memberi manfaaat, orang yang suka mengganggu, karib kerabat, ajnabi, baik yang dekat rumahnya atau agak jauh” (Umdatul Qaari, 22/108)

Demikianlah yang dilakukan para salafus shalih. Dikisahkan dari Abdullah bin ‘Amr Al Ash:

أَنَّهُ ذُبِحَتْ لَهُ شَاةٌ، فَجَعَلَ يقول لغلامه: أهديت لجارنا اليهوي؟ أَهْدَيْتَ لِجَارِنَا الْيَهُودِيِّ؟ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بالجارحتى ظننت أنه سيورثه

“Beliau menyembelih seekor kambing. Beliau lalu berkata kepada seorang pemuda: ‘akan aku hadiahkan sebagian untuk tetangga kita yang orang Yahudi’. Pemuda tadi berkata: ‘Hah? Engkau hadiahkan kepada tetangga kita orang Yahudi?’. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ‘Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris‘” (HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad 78/105, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad)

Oleh karena itu para ulama menjelaskan bahwa tetangga itu ada tiga macam:

  • Tetangga muslim yang memiliki hubungan kerabat. Maka ia memiliki 3 hak, yaitu: hak tetangga, hak kekerabatan, dan hak sesama muslim.
  • Tetangga muslim yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Maka ia memiliki 2 hak, yaitu: hak tetangga, dan hak sesama muslim.
  • Tetangga non-muslim. Maka ia hanya memiliki satu hak, yaitu hak tetangga.

Dengan demikian berbuat baik kepada tetangga ada tingkatannya. Semakin besar haknya, semakin besar tuntutan agama terhadap kita untuk berbuat baik kepadanya. Di sisi lain, walaupun tetangga kita non-muslim, ia tetap memiliki satu hak yaitu hak tetangga. Jika hak tersebut dilanggar, maka terjatuh pada perbuatan zhalim dan dosa. Sehingga sebagai muslim kita dituntut juga untuk berbuat baik pada tetangga non-muslim sebatas memenuhi haknya sebagai tetangga tanpa menunjukkan loyalitas kepadanya, agamanya dan kekufuran yang ia anut. Semoga dengan akhlak mulia yang kita tunjukkan tersebut menjadi jalan hidayah baginya untuk memeluk Islam. dicopas dari https://muslim.or.id/10417-akhlak-islami-dalam-bertetangga.html

 

Jangan Sampai Mengganggu Sesama Muslim

Sesungguhnya di antara hal yang wajib untuk ditinggalkan oleh setiap muslim adalah perbuatan mengganggu seorang muslim baik dengan lisan maupun tulisan. Allah swt berfirman:

وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Al-Ahzab: 58)

Dari Ibnu ‘Umar ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda:

يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيْمَانُ فِي قَلْبِه،ِ لاَ تُؤْذُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تُعَيِّرُوهُمْ وَلَا تَتَبَّعُوا عَوْرَاتِهِمْ؛ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ، يَتَتَبَّعِ اللهُ عَوْرَاتِهِ، يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِيجَوْفِ رَحْلِهِ

Wahai sekalian orang yang telah berislam dengan lisannya namun belum masuk keimanan ke dalam hatinya. Janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, jangan mencelanya, dan jangan mencari-cari aib mereka. karena sesungguhnya barangsiapa yang berupaya mencari aib saudaranya sesama muslim, niscaya Allah akan mencari aibnya, dan barangsiapa yang Allah cari aibnya maka pasti Allah akan membongkarnya walaupun dia berada di dalam rumahnya. (HR. At-Tirmidzi no. 2023).