Selasa, 10 November 2020

Teknologi, Menjadikan Daring dan Luring Kian Menggelinding

 

Pandemi covid-19 belum juga sirna dari muka bumi. Di Indonesia sendiri, sudah hampir 7 bulan para pendidik dan siswa-siswi tidak bisa bertatap muka secara langsung untuk melaksanakan pembelajaran seperti biasanya. Pemerintah masih belum mengizinkan daerah dengan zona merah dan zona oranye untuk melaksanakan pembelajaran di sekolah.

Demikian pula di daerah tempat saya mengajar. Tepatnya di kabupaten Gresik. Hingga saat tulisan ini ditulis, sekolah-sekolah di sini belum ada yang menggelar pembelajaran tatap muka seperti biasanya. Semuanya masih melaksanakan pembelajaran secara daring (online), luring (offline), dan guling (guru keliling). Belum ada yang berani untuk menggelar pembelajaran dengan tatap muka langsung meskipun badai pandemi sudah mereda.

Kejenuhan dan kesulitan saat pembelajaran dilaksanakan secara daring dan luring kian hari kian terasa. Meskipun sebenarnya, guru-guru juga sudah mulai belajar dan memahami sedikit demi sedikit bagaimana cara mengajar secara daring dan luring agar lebih terlihat menarik siswanya. Namun tetap belum bisa menghapus total rasa bosan yang melanda siswa-siswi saat belajar dari rumah.

Oleh karena itu, berbagai upaya terus dilakukan demi perbaikan kualitas pembelajaran secara daring dan luring itu sendiri. Pemanfaatan teknologi terkini adalah salah satu cara yang digunakan untuk mengoptimalkan kualitas pembelajaran daring dan luring.

Menggiring Daring biar Nggak Garing

Pembelajaran secara daring, sebenarnya bisa menjadikan guru agar selalu berimprovisasi membuat beragam media pembelajaran. Tentunya dengan bantuan beragam aplikasi di PC. smartphone, maupun media online lainnya. 

1. Memanfaatkan aplikasi untuk membuat video pembelajaran yang menarik

Selama ini, yang paling menjamur keberadaannya, dan paling mudah diaplikasikan guru, adalah mengunggah video pembelajaran di channel YouTube. Banyak teman-teman guru yang tiba-tiba belajar menyunting video pembelajaran menggunakan aplikasi-aplikasi di smartphone maupun laptop, lalu membuat channel YouTube pribadi. Kemudian mengunggah video pembelajaran hasil kreasi mereka ke channel YouTube tersebut.

mobile editing video apps

Selain mengunggah di channel YouTube, banyak pula yang menyebarkan langsung melalui grup WhatsApp. Seperti pembelajaran yang dilakukan pihak sekolah anak saya. Setelah diperlihatkan, ternyata anak-anak menyukai video pembelajaran yang dibuat oleh guru. Bahkan anak saya yang sekolah TK, sangat senang menonton video pembelajaran yang dikirim oleh gurunya. Smapai-sampai, video tersebut diputar berulang kali olehnya. Usai menonton, biasanya dia mulai meminta untuk mengerjakan tugas sekolahnya, dengan mencontoh dari video tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa video pembelajaran yang dibuat itu telah sesuai dengan masa perkembangan anak-anak. Selain itu, faktor keunikan dan kemenarikan gambar serta suara, juga materinya, patut menjadi pertimbangan tersendiri saat membuat video pembelajaran.

Keunggulan video pembelajaran yang lain yaitu, guru bisa menampilkan wajahnya. Hal ini dilakukan supaya siswa mengenali wajah gurunya. Walaupun guru dan siswa belum pernah bertatap muka secara langsung.

Tapi jika Anda ingin video yang siap saji, dan tidak ingin membuatnya lebih dahulu, Anda bisa melakukan pencarian di YouTube, atau di portal Rumah Belajar milik Kemdikbud. Di sana sudah tersedia beragam video yang bisa secara instan dimanfaatkan untuk proses belajar mengajar. 

Lalu, ada satu hal yang harus saya sampaikan. Sebaiknya berhati-hati saat membagikan video milik orang lain. Karena bisa jadi, di dalam video tersebut ada wajah guru lain. Sehingga siswa menjadi bingung saat melihat wajah guru yang berganti-ganti. Jadi, sebaiknya dipilah terlebih dahulu sebelum membagikan video pembelajaran kepada siswa.

2. Merancang media pembelajaran interaktif yang mirip game online

media pembelajaran interaktif
Tampilan media pembelajaran interaktif

Ada juga yang tiba-tiba menjadi tertarik untuk belajar membuat media pembelajaran interaktif. Misalnya dengan memanfaatkan aplikasi Articullate Storyline di laptop. Saya pun baru saja mempelajari cara membuat media pembelajaran interaktif menggunakan aplikasi ini. Ada sisi menarik dari media pembelajaran interaktif. Yaitu, siswa bisa memainkannya langsung di smartphone masing-masing layaknya sedang bermain game online.

Namun ternyata, hasilnya belum bisa disebarkan secara langsung ke siswa saya. Dikarenakan masih banyak smartphone siswa yang kurang mendukung. Jika smartphone siswa Anda sudah mendukung untuk memutar media pembelajaran interaktif, ada baiknya Anda coba untuk belajar membuatnya.

3. Menggunakan Learning Management System (LMS) untuk pembelajaran

Di sisi lain, kami para guru mulai mengenal beragam LMS (learning management system). Mulai dari google classroom, microsoft teams, hingga LMS buatan para programmer yang digunakan untuk kalangan sekolah itu sendiri. Ilmu-ilmu ini sungguh merupakan sesuatu yang baru dan tidak mudah untuk dipelajari. Apalagi bagi guru-guru yang sudah lanjut usia. Maka dari itu, banyak guru-guru muda yang harus bisa bekerja sama dengan mereka, demi kelancaran proses pembelajaran di masa pandemi.

contoh learning management system

Tak hanya guru, pada awalnya, anak-anak pun merasa sangat kesulitan dengan proses belajar daring. Terutama bagi anak-anak yang kedua orang tuanya bekerja di luar rumah. Kami kesulitan untuk mencari celah waktu yang bisa digunakan untuk belajar anak. Namun lama-kelamaan, kami pun menemukan jalan tengah untuk mewadahi permasalahan yang timbul. Tentunya, setelah kami melakukan beberapa diskusi kecil bersama-sama. Baik dengan cara bertemu langsung, maupun melalui telepon.

4. Mencoba cara baru untuk melaksanakan ujian

Baru di masa pandemi ini, anak-anak mengenal ujian secara online. Mulai dari tingkat SD kelas 1, anak-anak diajari untuk mengerjakan ujian secara online. Media yang banyak digunakan untuk belajar secara online adalah google form dan microsoft form. Pada awalnya, para guru dan siswa juga mengalami berbagai kendala. Ibarat membuka lahan untuk jalan baru, tentu saja prosesnya tidak serta-merta jadi jalan. Ada beragam kisah yang terjadi di baliknya. Tapi pada akhirnya, setelah segala kendala tersebut teratasi, kami mulai menikmati prosesnya. Ujian online tak lagi menakutkan.

Selain menggunakan kedua media tersebut, ada juga yang menggunakan aplikasi pihak ketiga dan aplikasi untuk mengerjakan kuis di smartphone. Misalnya menggunakan examora, exambrowser, quizizz, kahoot, dan sebagainya. Aplikasi-aplikasi ini banyak digunakan untuk siswa di sekolah dengan tingkat yang lebih tinggi.

online exam

Itulah suka duka belajar secara daring. Sebetulnya, tidak ada yang membuat garing alias membosankan. Karena belajar secara daring, juga mempunyai lika-liku tersendiri, Namun di balik itu, besar sekali manfaatnya. Pembelajaran daring bisa menambah wawasan anak-anak mengenai perkembangan teknologi yang sangat pesat. Maka, anak-anak juga harus cepat-cepat mempelajari dan mengikutinya, agar tidak tertinggal oleh kemajuan teknologi itu sendiri.

Luring Pun Setajam Taring

Kata siapa pembelajaran secara luring itu menggambarkan ketertinggalan? Tidak mesti demikian! Karena pembelajaran secara luring pun bisa dimodifikasi sedemikian rupa agar menarik. Sehingga anak-anak bisa belajar dengan mudah. Hasilnya, ilmu yang ditransfer oleh para guru bisa tersampaikan dengan baik.

pembelajaran luring


1. Merancang modul yang menarik dan sesuai usia siswa

Salah satu cara yang bisa dilakukan guru adalah dengan membuat modul pembelajaran yang bisa dicetak oleh siswa secara mandiri, maupun dicetak secara kolektif dari sekolah. Satu hal yang perlu diperhatikan saat mencetak modul: diusahakan menggunakan mesin pencetak yang bagus. Supaya hasilnya bisa terbaca jelas oleh siswa.

Sejelas apapun itu, pembuatan modul pun tetap harus disesuaikan dengan usia siswa. Contohnya, guru harus bisa membuat modul sengan sisipan gambar yang lucu-lucu untuk anak usia SD. 

Keahlian membuat modul seperti ini juga tidak tiba-tiba muncul layaknya sulapan. Sebagai guru, saya pun belajar membuat modul mulai dari awal. Saya berusaha mempelajari cara membuat modul yang bisa menarik dan jelas materinya bagi siswa. Adakah guru yang sedang proses belajar membuat modul juga di sini? Kita sama ya....

Oh iya. modul yang kita rancang ini nanti juga bisa diintegrasikan dengan pembelajaran daring. Misalnya diberi link atau barcode menuju YouTube untuk penjelasan materinya.

2. Menonton TV edukasi dari TVRI, dan mendengarkan radio edukasi

Alternatif ini bisa dilakukan apabila di rumah siswa memiliki televisi atau radio. Siswa bisa menonton program belajar dari rumah yang diselenggarakan setiap hari di TVRI. Di sana akan diputarkan video-video dari TV edukasi. Ada jadwal acara harian, yang bisa diikuti siswa untuk belajar.

Selain itu, siswa juga bisa belajar dari radio edukasi milik Kemdikbud. Radio ini mengudara pada frekuensi 1251 AM pada pukul 12.25 sampai 19.30 WIB. Lokasinya terletak di wilayah Yogyakarta. Di radio edukasi, diputarkan beragam materi untuk siswa sekolah, kisah tokoh, dongeng, hingga ensiklopedi populer.

3. Meminjamkan Buku Sekolah Elektronik atau buku pendamping lain milik perpustakaan sekolah

Cara pembelajaran luring yang satu ini, cocok dimanfaatkan bagi sekolah-sekolah yang memiliki perpustakaan dengan buku lengkap. Siswa bisa memanfaatkan fasilitas sekolah dengan dipinjami buku-buku sebagai penunjang proses belajar mengajar selama pembelajaran jarak jauh.

Itulah beberapa ulasan dari saya mengenai teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran jarak jauh berupa daring dan luring. Semoga ulasan saya membawa manfaat bagi semua pembaca yang sedang mampir di blog ini. Akhir kata saya ucapkan, semangat bagi para guru penggerak Indonesia!

dikutip dari https://www.amiwidya.com/2020/10/teknologi-untuk-daring-dan-luring.html

0 komentar:

Posting Komentar