Kamis, 26 November 2020

SHOLATLAH SEBELUM DISHOLATI BAG. 55

(Sunnah Qouliyah Dalam Sholat-4)

_ www.hamhas095.blogspot.com
(Dakwah Bit-Tadwin Online)

"Jangan lihat siapa yang menyampaikan,
tapi lihat apa yang disampaikannya"
(Ali bin Abi Tholib r.a)

(Bagian Ke-55)

Bissmillaahirrahmaanirraahiim
Assalaamu’alaikum wr. Wb

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,
Washsholaatu wassalaamu
’Alaa asyrofil ambiyaai wal mursaliin
Wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi aj-maiin,
Amma ba’du

Sobat Netizen Rohimakumulloh

*@Sunnah “UCAPAN” (qouliyah) dalam sholat (lanjutan)*yaitu:
^5. TAKBIR “INTIQOL” (TAKBIR BERPINDAH RUKUN);
@Selain takbirotul ihrom, terdapat takbir “intiqol,” intiqol artinya perpindahan, takbir intiqol adalah takbir yang dilakukan setiap perpindahan rukun sholat.

@Syaikh Abdul Aziz Ath Thorifi dalam Kitabnya Shifatu Sholatin Nabi  menjelaskan: “perpindahan antara rukun dan antara gerakan wajib dalamm sholat tidak dilakukan *kecuali dengan ucapan takbir.  Dikecualikan berdasakan ijma, ketika bangkit dari  ruku’.

@Terdapat ikhtilaf diantara ulama tentang “takbir intiqol”. Jumhur ulama berpendapat takbir intiqom hukumnya sunnah. Pendapat Imam Ahmad, bahwa takbir intiqom itu wajib dalam sholat fardhu, namun sunnah dalam sholat sunnah.

*>Dalil yang mewajibkan “takbir intiqol” adalah hadits dari Abu Huroiroh r.a, bahwa : ”Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasallam keika sholat, beliau bertakbir saat berdiri, kemudian bertakbir ketika akan ruku’ dan mengucapkan: – sami’allohu liman hamidah – ketika beliau mengangkat punggungnya dari ruku’, dan ketika sudah berdiri Beliau mengucapkan: -robbanaa wa lakal hamd – kemudian Beliau bertakbir ketika akan bersujud. Kemudian bertakbir lagi ketika mengangkat kepalanya (bangun dari sujud). Kemudian Beliau melakukan hal itu dalam semua roka’at hingga selesai sholat.” (HR. Bukhari, 789).

*>Juga dikuatkan dengan hadits: ^SHOLU KAMAA ROAITUMUUNII USHOLLI / ”Sholatlah sebagaimana kalian melihat aku sholat.” (HR. Bukhori, 631, 6008).

^^^^^
^6. BACAAN DO’A KETIKA RUKUK.
(Banyak ragamnya, silahkan dipilih)

^1. Dari Hudzaifah _radhiyallahu ‘anhu,_ dia berkata, “Aku shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam *ruku’nya*beliau membaca: ^SUBḪAANA ROBBIYAL’AZHIIM / ”Mahasuci Rabb-ku Yang Mahaagung.”  [HR. Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1001), Sunan an-Nasa-i (II/190), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/123 no. 857), Sunan at-Tirmidzi (I/164 no. 261)].

^2. Dari ‘Utbah bin ‘Amir _radhiyallahu ‘anhu,_ dia berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, … Dan jika *sujud*membaca: ^^SUBḪAANA ROBBIYAL A’LAA WA BIHAMDIHI / ”Mahasuci Rabb-ku Yang Mahatinggi dan dengan memuji-Nya,’ tiga kali.” [Shifatush Shalaah (h. 127), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/121 no. 856), al-Baihaqi (II/86)].

^3. ^SUBH̬AANAKALLOHUMMA WA BI Ḫ̮AMDIKA ALLOOHUMMAGHFIRLII. / Mahasuci Engkau, ya Tuhanku dan dengan memuji-Mu, ya Tuhanku, ampunilah aku.”   

>Do’a ini diucapkan oleh Rasulullah Sholalohu ‘Alaihi Wasallam setelah turunnya QS. An Nasr [110]:3) ^FA SABBIH BIHAMDI ROBBIKA WASTAGHFIRHU, INAHUU KAANA TAWWAABAA / ”maka bertasbihlah dengan memuji Robbmu dan mohonlah ampunan kepadaNya, sungguh Dia Maha Penerima Taubat”  (HR. Bukhari dan Muslim). Ayat ini memerintahkan untuk ”bertasbih, bertahmid dan istighfar” dan ketiganya telah terangkum dalam *do’a untuk ruku’ dan sujud.

^4. ^SUBBUUHUN QUDDUUSUR ROBBUL MALAA’IKATI WAR RUUH / ”Mahasuci, Mahabersih, (ya) Tuhan malaikat dan ruh.” (HR. Muslim dan Abu ‘Awanah)

^5. ^ALLOHUMMA LAKA ROKA’TU WA BIKA AAMANTU WA LAKA ASLAMTU ANTA ROBBII, H̬ASYA’A LAKA SAM’II WA BASHORII WA MUḪII WA ‘AZHOMII. / _“Ya Tuhanku, kepada-Mulah aku ruku’, kepada-Mu aku beriman dan kepada-Mu aku menyerah. Engkau adalah Tuhanku. Kepada-Mu pendengaran dan penglihatanku tunduk, begitu juga otak dan tulang-tulangku.” _ (HR. Muslim dan Abu ‘Awanah).

^6. ^ALLAAHUMMA LAKA RAKA’TU WA BIKA AAMANTU WA LAKA ASLAMTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU ANTA RABBII KHASYA’A SAM’II WA BASHARII WA DAMII WA LAHMII WA ‘AZHAMII WA ‘ASHABII LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN. /“Ya Tuhanku, kepada-Mulah aku ruku’, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku menyerah dan kepada-Mu aku tawakal. Engkau adalah Tuhanku. Pendengaranku, penglihatanku, darahku, dagingku, tulangku dan urat syarafku tunduk kepada Allah Dzat yang mengatur semesta alam.”  (HR. Nasa’i)

^7. ^SUBHAANA DZIL JABARUUTI WAL MALAKUUTI WAL KIBRIYAA’I WAL ‘AZHAMAH. / “Mahasuci Dzat yang mempunyai seluruh kekuasaan, seluruh kerajaan, kebesaran dan keagungan.”  (HR. Abu Dawud dan Nasa’i

^^^^^
^7. I’TIDAL (BANGUN DARI RUKU).*
@Disunnahkan tatkala bangun dari ruku (i’tidal), mengucapkan tasmi’ ^SAMI’ALLAHU LIMAN H̬AMIDAH / ”Semoga Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya”.   (Ini berlaku bagi imam dan orang yang shalat sendirian.).

>Sampai berdiri lurus, kemudian melanjutkan membaca *tahmid:  ^ROBBANAA WA LAKAL H̬AMDU ?”Wahai Rabb kami, bagi-Mu lah segala pujian.”  (HR. Bukhori, Abu Daud dari Abu Huroiroh r.a)

*>Dalam hadits dari Anas bin Malik disebutkan,: “Jika imam bangkit dari ruku’, maka bangkitlah. Jika ia mengucapkan SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Allah mendengar pujian dari orang yang memuji-Nya), ucapkanlah : ROBBANA WA LAKAL HAMDU (Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji).”  (HR. Bukhari no. 689 dan Muslim no. 411)

@Bagi makmum, ketika imam mengucapkan  Jumhur ulama mensunahkan cukup dengan membaca ^ROBBANAA LAKAL HAMDU.

>Imam Ahmad meriwayatkan dengan kata-kata: _“Apabila imam mengucapkan SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH, orang yang di belakangnya hendaklah mengucapkan ALLAAHUMMA RABBANA LAKAL HAMDU, maka ucapan itu (pasti) akan bersamaan dengan ucapan ahli langit (malaikat), yakni ALLAAHUMMA RABBANAA LAKAL HAMDU, maka diampunilah dosanya yang telah lalu.”

>Pada Hadits lain dari Abu Hurairah r.a.  disebutkan bahwa Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda : _“Jika imam mengucapkan sami’allaahu li man hamidah, ucapkanlah oleh kalian (makmum) allaahumma rabbanaa lakal hamdu, sebab barang siapa yang bacaannya bersamaan dengan bacaan malaikat, dia akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Malik, Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i)

>Juga pada hadits dari  Abu Musa Al-Asyar’i r.a., menyebutkan bahwa Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda: _“Jika imam mengucapkan sami’allaahu liman hamidah, lalu ma’mum mengucapkan rabbanaa wa lakal hamdu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mendengarkan kalian.” _ (HR. Imam Muslim, Nasa’i dan Ibnu Majah)

@Ucapan “robbana wa lakal hamdu,” bisa dipilih dari 4 macam bacaan:
*(1). ALLOOHUMMA ROBBANAA LAKAL HAMDU. (HR. Muslim no. 404);
*(2). ALLOOHUMMA ROBBANAA WA LAKAL HAMDU. (HR. Bukhari no. 795);
*(3). ROBBANAA LAKAL HAMDU. (HR. Bukhari no. 722 dan Muslim no. 477)
*(4). ROBBANAA WA LAKAL HAMDU. (HR. Bukhari no. 689 dan Muslim no. 411).

>Sambil:
*^Mengangkat tangan (sama dengan takbiratul ihram / takbir intiqol);
*^Meluruskan tulang belakang sehingga tulang-tulang itu kembali ke sendinya.
^Tangan lurus kebawah / *irsal (HR/ Bukhari, Muslim), bersedekapkan (HR. Bukhari dan An Nasa’i,).

@Keutamaan membaca: “ROBBANA WA LAKAL HAMDU”,*  disebutkan dalam Hadits: Dari Abu Hurairah r.a, _“Jika imam mengucapkan sami’allahu liman hamidah, maka hendaklah kalian mengucapkan ‘robbana wa lakal hamdu’. Karena siapa saja yang ucapannya tadi berbarengan dengan ucapan malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan dihapus.” (HR. Bukhari no. 796 dan Muslim no. 409).

@Setelah membaca tahmid, disunnahkan untuk membaca dzikir: Sebagaimana disebutkan didalam riwayat Abu Daud dari Ali bin Abi Thalib r.a bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam apabila i’tidal maka beliau mengucapkan;

^HAMDAN KATSIRRON THOYYIBAAN MUBAAROKAAN FIIHI (MUBAAROKAAN ‘ALAIHI) KAMAA YUHIBBU ROBBUNAA WAYARDHOO. / “Ya Rabb kami, bagi-Mu-lah segenap pujian yang baik dan penuh berkah. Sebagaimana yang disukai Rabb kami dan di-ridhai-Nya.” _ [Shahih: HR. Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/121 no. 856), al-Baihaqi (II/86). _Shifatush Sholaah h. 119].

*^ATAU:
^MIL`AS SAMAAWAATI WAL MIL `ARDHI, WA MAA BAINAHUMAA, WA MIL`A MAA SYI`TA MIN SYAI`IN BA’DU / Sepenuh langit, bumi, dan sepenuh isi langit dan bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu).”_ [Shahih: HR. Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/121 no. 856), al-Baihaqi (II/86). Shifatush Sholaah h. 127)].

@Keutamaan membaca: “ROBBANA WALAKAL HAMDU, HAMDAN KATSIRON THOYYIBAN MUBAAROKAN FIIH” (artinya: wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh dengan berkah).” Disebutkan dalam hadits dari Rifa’ah bin Rofi’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat ada 30-an malaikat, berlomba-lomba siapakah di antara mereka yang lebih duluan mencatat amalannya.”  (HR. Bukhari no. 799).***

(In Syaa Alloh Bersambung)

Wall├┤hu a’lam bishshowab
Al haqqu min robikum
Nas-alulloh as-salamah wal ‘afiyah

Wassalamu’alaikum warohmatull├┤hi wabarokatuh
*^(posting : Hamhas)^

0 komentar:

Posting Komentar