Kamis, 26 November 2020

SHOLATLAH SEBELUM DISHOLATI BAG. 54

(Sunnah Qouliyah Dalam Sholat-3)

_ www.hamhas095.blogspot.com
(Dakwah Bit-Tadwin Online)

"Jangan lihat siapa yang menyampaikan,
tapi lihat apa yang disampaikannya"
(Ali bin Abi Tholib r.a)

(Bagian Ke-54)

Bissmillaahirrahmaanirraahiim
Assalaamu’alaikum wr. Wb

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,
Washsholaatu wassalaamu
’Alaa asyrofil ambiyaai wal mursaliin
Wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi aj-maiin,
Amma ba’du

Sobat Netizen Rohimakumulloh

*@Sunnah “UCAPAN” (qouliyah) dalam sholat (lanjutan)*yaitu:
^4. MEMBACA SURAH (SETELAH AL-FATIHAH);
@Para sahabat ijma (sepakat) bahwa disunnahkan membaca Al-Qur’an setelah Al-Fatihah pada dua rakaat pertama di semua shalat.  Ibnu Sirin mengatakan: “saya tidak mengetahui mereka (para sahabat) berbeda pendapat dalam masalah ini” (Sifat Shalat Nabi, 101).

@Hadits dari Abu Qotadah, Rasululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasallam_ bersabda:
^INAN-NABIYYU SHOLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM YAQRO`U FII ROK’ATAINI UULAYAINI MIN SHOLAATIDH-DHUHRI BIFAATIH̬ATI ALKITAAB, WASUUROTAINI YUTHOWALU FIIL `UULAA, WAYUQOSH-SHORU FIITS-TSANIYATI WAYUSMI’U AAYAH.

>“Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam membaca Al-Fatihah di dua rakaat pertama shalat zhuhur dan juga membaca dua surat yang panjang pada rakaat pertama dan pendek pada rakaat kedua dan terkadang hanya satu ayat.

^AḪYAANA, WA KAANA YAQRO`A FII ‘ASHRI BIFAATIH̬ATI KITAABI QASUUROTAINI, WA KAANA YUTHOWWALA FIIL `UULAA, WA KAANA YUTHOWWALA FIIROK’ATIL ‘UULAA MIN SHOLAATISHUBḪI, WAYUQOSH-SHORU FIITS-TSANIYAH.

(Beliau membaca Al-Fatihah di dua rakaat pertama shalat ashar dan juga membaca dua surat dengan surat yang panjang pada rakaat pertama. Beliau juga biasanya memperpanjang bacaan surat di rakaat pertama shalat subuh dan memperpendeknya di rakaat kedua”_ (HR Al-Bukhari 759, Muslim 451, An Nasa’I, 932).

>Namun para ulama ada ikhtilaf, mengenai bacaan Al-Qur’an pada rakaat ketiga atau keempat. Jumhur ulama berpendapat tidak disunnahkan membaca  Al-Qur’an pada rakaat ketiga atau keempat, namun amalan ini tidak terlarang sebagaimana dilakukan oleh para salaf.

*@Dalam hadits lain,*dari Abu Qatadah rodhiyallohu ‘anhu,dia berkata, “Pada dua raka’at pertama shalat Zhuhur dan ‘Ashar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca al-Faatihah dan surat. Beliau terkadang memperdengarkan (bacaan) ayatnya. Pada dua raka’at terakhir beliau membaca al-Faatihah.” [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 286) dan Shahiih Muslim (I/333 no. 421 (155)].

@Disunnahkan membaca (surat) pada dua raka’at terakhir, jika dilakukan secara temporer (kadang-kadang) Berdasarkan hadits Abu Sa’id: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca (surat) pada dua raka’at shalat Zhuhur. Pada dua raka’at pertama sekitar tiga puluh ayat. Dan pada dua raka’at terakhir sekitar lima belas ayat. Atau dia berkata, “Separuhnya.” Dan pada shalat ‘Ashar pada dua raka’at pertama setiap raka’atnya membaca sekitar lima belas ayat. Sedang pada dua raka’at terakhir sekitar setengahnya.”  [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 287) dan Shahiih Muslim (I/334 no. 452 (157)].

@Disunnahkan mengeraskan (jahr) bacaannya,*dalam shalat Shubuh dan dua raka’at pertama pada shalat maghrib dan ‘isya’. Serta *memelankannya (sirr) pada shalat Dzuhur dan ‘Ashar, juga pada raka’at ketiga dari shalat Maghrib dan dua raka’at terakhir pada shalat ‘Isya’.

@Bagaimana kalau membaca ayat atau surat Al Qur’an tidak berurutan,
>Fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah (Disidangkan pada hari Jum’at, 4 Syakban 1431 H / 16 Juli 2010), berkenaan dengan membaca ayat tidak berdasarkan urutan dalam rakaat pertama dan rakaat kedua, _*tidaklah dilarang, karena tidak ada nashnya_ yang secara tegas melarangnya.  Namun hal tersebut adalah sesuatu yang mafdhul (tidak afdhol)  karena tidak sesuai dengan sunah Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wasallam_  Wallohu’alam.


#SURAT-SURAT YANG JADI KEBIASAAN NABI SAW
#Syaikh Abdul Aziz Ath Tharifi menjelaskan,* (dalam Kitab Sifatush shollaah Nabi), “Disyariatkan bagi imam (sholat berjamaah) , demikian juga munfarid (orang yang shalat sendirian),  dalam kebanyakan yang ia lakukan :

>dalam *shalat shubuh membaca surat yang thiwal mufashol (surat-surat panjang); ndalam shalat maghrib membaca yang qishor mufashol (surat-surat pendek), dan shalat yang lainnya membaca yang wasath mufashal (surat-surat yang agak panjang seperti “sabbihis /a’la) (Kitab Sifat Shalat Nabi, 103).

@Hadits dari Abu Hurairah, ia berkata:
>Tidak pernah aku melihat orang yang shalatnya lebih mirip dengan shalat rasulullah shallallahu’alaihi wasallam selain Fulan (ketika itu di Madinah). Sulaiman berkata, “maka aku pun shalat di belakangnya, ia memperpanjang dua rakaat pertama dalam shalat zhuhur dan memperpendek sisanya.

>Ia juga memperpendek bacaan shalat ashar, dan pada shalat maghrib membaca surat-surat qishor mufashol (surat-surat pendek), dan pada shalat Isya membaca yang wasath mufashol (surat-surat agak panjang), dan pada shalat subuh membaca thiwal mufashal‘ (Surat-surat panjang)” (HR. Ibnu Hibban 1837, dishahihkan Al Albani dalam Sifat Shalat Nabi).

@Meringankan Bacaan Dalam Keadaan Safar.
>Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi mengatakan: _“Dalam keadaan safar, tidak perlu mengkhususkan diri dengan surat tertentu, bahkan yang *disyariatkan adalah memperingan bacaan._

>Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wasallam  bahwa beliau membaca surat-surat *mu’awwidzatain (Al Ikhlas, Al Alaq dan Annas) dalam shalat shubuh. Demikian diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud dari ‘Uqbah bin Amir dan dishahihkan oleh Abu Hatim.

>Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dari Ma’rur bin Suwaid dari ‘Umar bahwa *ketika ‘Umar sedang safar berhaji, beliau shalat shubuh dengan membaca *li iila fi quraisy.

*>Dari Amr bin Maimun, bahwa ketika shalat dalam safar ia membaca surat “al Kafirun dan Al Ikhlas” _ (Lihat Kitab _Sifat Shalat Nabi, 105).


@Anjuran Bacaan Surat / Ayat Menyesuaikan Kondisi Makmum.
*>Dianjurkan bagi imam sholat jamaah untuk menyesuaikan diri dengan kondisi makmum, jika terdapat orang yang lemah, orang sakit, atau anak-anak, dianjurkan untuk memperingan bacaan sholatnya.

>Hadits Shahih: _“Jika salah seorang dari kalian *menjadi imam bagi suatu kaum, maka permudahlah shalatnya. Karena di antara mereka ada anak kecil, orang tua, orang lemah dan orang sakit. Jika kalian shalat sendirian maka silakan shalat sebagaimana kalian mau”_  (HR. Al Bukhari 90, Muslim 467).

@Mengulang bacaan surah yang sama pada rakaat yang berbeda
*^^Ada 2 pendapat ulama:
>_Pendapat Pertama: _ Diperbolehkan,  membaca surat tertentu setelah Al Fatihah pada rakaat pertama kemudian membaca surat yang sama di rakaat kedua.

>Dalilnya Haditsnya diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 816), _”Dari seorang lelaki dari Juhainah, bahwasanya ia mendengar Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa Sallam membaca (surat Az Zalzalah) pada kedua raka’at shalat shubuh. Dan aku tidak tahu apakah Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam lupa, ataukah beliau membacanya dengan sengaja.” (Dihasankan oleh Syaikh Al Albani –rahimahullaahu– dalam “Shahih Sunan Abi Dawud“.

*>Syaikh Al Albani –rahimahullaahu– menulis dalam kitabnya “Sifat Shalat Nabi” (h. 90): “Tampaknya Nabi –Shallallaahu ‘alaihi wa sallam– melakukannya dengan sengaja, sebagai bentuk pensyariatan (atas hal tersebut).”


*>Pendapat Kedua, Tidak dianjurkan, Bukan termasuk sunnah * Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi menjelaskan: mengulang bacaan Al-Qur’an yang sama di kedua rakaat, bahkan yang lebih utama adalah membaca bacaan yang berbeda antara rakaat pertama dan kedua. Dan terkadang dianjurkan pada rakaat kedua lebih pendek dari rakaat pertama”. (Baca Kitab Sifat Shalat Nabi, 103).

>>Dan Al-Qur’an itu tidak turun dengan cara berulang-ulang untuk ayat yang sama. Tidak ada bagian dari Al-Qur’an itu yang sia-sia. Telah diisyaratkan bahwa perbuatan ini menyelisihi sunnah oleh imam Asy- Syathibi dalam kitab Al-I’tisham” (Kitab Sifat Shalat Nabi, 109-110). Wallohu’alam.***

(In Syaa Alloh Bersambung)

Wall├┤hu a’lam bishshowab
Al haqqu min robikum
Nas-alulloh as-salamah wal ‘afiyah

Wassalamu’alaikum warohmatull├┤hi wabarokatuh
*^(posting : Hamhas)^

0 komentar:

Posting Komentar