Kamis, 26 November 2020

SHOLATLAH SEBELUM DISHOLATI BAG. 51

(Sunnah Fi’il Dalam Sholat-7)

Klik _ www.hamhas095.blogspot.com
(Dakwah Bit-Tadwin Online)

"Jangan lihat siapa yang menyampaikan,
tapi lihat apa yang disampaikannya"
(Ali bin Abi Tholib r.a)

(Bagian Ke-51)

Bissmillaahirrahmaanirraahiim
Assalaamu’alaikum wr. Wb

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,
Washsholaatu wassalaamu
’Alaa asyrofil ambiyaai wal mursaliin
Wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi aj-maiin,
Amma ba’du

Sobat Netizen Rohimakumulloh

#SUNNAH “PERBUATAN” (FI’IL) DALAM SHOLAT (lanjutan).
(10). BERDIRI KEMBALI UNTUK ROKAAT BERIKUTNYA.

@Dalam _Manhajus Sholihin,_ karya Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di, pada “Kitab Sholat”, dijelaskan bahwa cara bangkit dari sujud menuju berdiri, para ulama ada beda pendapat / ikhtilaf.

>Pendapat pertama, yang dipilih oleh madzhab Hanafiyyah, Hambali, Daud Azh-Zhahiriy, pilihan Ibnul Qayyim, Ibnu Baz, dan Ibnu 'Utsaimin. Syaikh As-Sa'di,  yang menyatakan bahwa disunnahkan mengangkat tangan sebelum lutut ketika bangkit dari sujud kecuali memberatkan barulah bertumpu pada tangan.

*^Mengambil dalil hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia menyatakan, ^KAANAN-NABIYYU SHOLLAALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM YANHADHU FIISH-SHOLAATI ‘ALAA SHUDUURI QODAMAIHI / “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa bangkit dalam shalat dengan *bertumpu pada kedua kakinya.” (HR. Tirmidzi, no. 287)

>Namun ada perawi bernama Khalid bin Ilyas ia adalah seorang perawi yang dhaif menurut ahli hadits. Imam Nawawi dalam Al-Majmu ' , 3: 445, menyatakan bahwa hadits ini dhaif.
>Pendapat kedua: Inilah pendapat dalam madzhab Imam Malik, Syafii, juga teman sekumpulan salaf (seperti Ibnu 'Umar, Makhul,' Umar bin 'Abdul' Aziz), pendapat ini juga dipilih oleh Al-Albani, yang mengatakan bahwa disunnahkan berdiri bertumpu pada kedua tangan.

^Riwayat yang berasal dari Syaikh Al-Albani dalam Sifat Shalat Nabi, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa *bertumpu pada kedua tangan di tanah ketika bangkit ke rakaat kedua.”_

^Imam Nawawi rahimahullah  berkata: “Ketika bangkit ke rakaat kedua dilakukan bertumpu pada tangan, begitu pula ketika bangkit dari tasyahud awal. Hal ini dilakukan oleh orang yang kondisinya kuat atau lemah, begitu pula bagi laki-laki maupun perempuan.

>>Demikian dari pendapat Imam Syafi'i. Hal ini disepakati oleh ulama Syafi'iyah berdasarkan hadits dari Malik bin Al-Huwairits dan tidak ada dalil dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam  yang menyelisihinya. Jika tangan jadi tumpuan, maka bagian dalam telapak tangan dan jari jemarinya yang berada di lantai. ” ( Al-Majmu ' , 3: 292).

>Dengan bertumpu pada tangan, maka itu lebih menunjukkan kekhusyukan, tawadhu ', menolong orang yang shalat agar tidak sampai terjatuh. Pernyataan pernyataan Imam Nawawi dalam Al-Majm '.

@Dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dia berkata: Malik bin al-Huwairits mendatangi kami. Lalu dia mengimami kami shalat dalam masjid kami ini. Lalu dia berkata, _“Sesungguhnya aku tidak ingin mengimami kalian dan tidak ingin shalat.
Akan tetapi aku ingin menunjukkan pada kalian bagaimana aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat.”_

>Ayyub berkata, “Aku berkata pada Abu Qilabah”, “Bagaimanakah shalat beliau?” Dia berkata, “Seperti shalat syaikh kita ini, yaitu ‘Amr bin Salamah.” Ayyub berkata, “Amr bin Salamah menyempurnakan takbir. _”Jika mengangkat kepalanya dari sujud kedua, dia duduk dan bertumpu pada lantai kemudian berdiri.”*
[Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 437)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/303 no. 824), al-Baihaqi (II/123), dan asy-Syafi’i (al-Umm) (I/116)].

^Asy-Syafi’i berkata, “Inilah yang kami ambil. Kami menyuruh orang yang bangkit dari sujud atau duduk dalam shalat agar bertumpu pada lantai dengan kedua tangannya bersama-sama, karena mengikuti sunnah. Sebab, hal itu lebih menyerupai ketawadhu’an dan lebih mudah bagi orang yang shalat. Selain itu juga lebih pas agar tidak terjungkal ke belakang atau hampir ter-jungkal. Kami membenci model bangkit mana saja selain itu. Namun dia tidak wajib mengulang dan tidak pula sujud sahwi.” _ [Kitab _Al-Umm (I/117)].

@Bangkit ke rakaat berikutnya. dilakukan dengan bertumpu pada kedua tangan, artinya lutut lebih dulu naik, sebelum kedua tangan. Dan kedua telapak tangan dalam posisi ‘ajn (seperti orang membuat adonan / mengepal). Bisa dalam posisi terbuka atau dikepalkan.

*>Sebagaimana keterangan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ^ROAITU ROSULULLOHI SHOLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM YA’JINU FIISH-SHOLLATI /  “Saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan ‘ajn ketika shalat.”  (HR. Thobroni dalam Al-Ausath, dan dishahihkan dalam Silsilah As-Shahihah, no. 2674).

>Dalam riwayat yang lain: dari Al-Azraq bin Qais, beliau mengatakan: ^ROAITU ‘ABDALLOHU BIN ‘UMAR WAHUWA YA’JINU FIISH-SHOLAATI YA’TAMIDU ‘ALAA YADAIHI IDZAA QOOMA / “Saya melihat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, melakukan ‘ajn ketika shalat, bertumpu dengan kedua tanganya ketika hendak berdiri.”  (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath).***

(In Syaa Alloh Bersambung)

Wall├┤hu a’lam bishshowab
Al haqqu min robikum
Nas-alulloh as-salamah wal ‘afiyah

Wassalamu’alaikum warohmatull├┤hi wabarokatuh
*^(posting : Hamhas)^

0 komentar:

Posting Komentar