Kamis, 26 November 2020

SHOLATLAH SEBELUM DISHOLATI BAG. 49

 (Syarat Rukun Sholat-5)

_ www.hamhas095.blogspot.com
(Dakwah Bit-Tadwin Online)

"Jangan lihat siapa yang menyampaikan,
tapi lihat apa yang disampaikannya"
(Ali bin Abi Tholib r.a)

(Bagian Ke-49)

Bissmillaahirrahmaanirraahiim
Assalaamu’alaikum wr. Wb

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,
Washsholaatu wassalaamu
’Alaa asyrofil ambiyaai wal mursaliin
Wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi aj-maiin,
Amma ba’du

Sobat Netizen Rohimakumulloh

#SUNNAH “PERBUATAN” (FI’IL) DALAM SHOLAT (lanjutan).
(7). DUDUK DIANTARA DUA SUJUD
@Duduk diantara dua sujud dilakukan, dengan bertakbir bangkit dari sujud tanpa mengangkat tangan, sebagaimana hadits dari Muthorrif bin Abdullah, ia berkata:  
>“Aku dan Imron bin Hushain pernah shalat di belakang ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu. Jika turun sujud, beliau bertakbir.”

>Ketika bangkit dari sujud, beliau pun bertakbir. Jika bangkit setelah dua raka’at, beliau bertakbir. Ketika selesai shalat, Imron bin Hushain memegang tanganku lantas berkata:

>“Cara shalat Ali ini mengingatkanku dengan tata cara shalat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”  Atau ia mengatakan, “Sungguh Ali telah shalat bersama kita dengan shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”  (HR. Bukhari no. 786 dan Muslim no. 393).

@Posisi duduknya, adalah “Iftirosy”, Yaitu posisi duduk dengan membentangkan kaki kiri, kemudian diduduki dan kaki kanan ditegakkan.

>Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wasallam_ bersabda,
>“Apabila kamu sujud, sujudlah dengan meletakkan semua anggota sujud, dan jika kamu bangkit untuk duduk, duduklah dengan bertumpu pada kakimu yang kiri.”  (HR. Bukhari dan Baihaqi).

_>”Dari sunnah shalat menegakkan tapak kaki yang kanan dan menghadapkan jari-jarinya ke arah kiblat dan duduk di atas kaki kirinya.” (HR. An-Nasa’i II : 235, dari Ibnu Umar r.a)

*>Atau, Duduk “Iq’a,” yaitu  kedua kaki ditegakkan, lalu digabungkan, kemudian duduk di atas tumit. Kedua kaki dibentangkan, digabungkan, kemudian diduduki. Thowus pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang iq’a. Ibnu Abbas menjawab: *“Itu Sunah.” (HR. Muslim dan Abu Daud)

>Posisi punggung, saat duduk diantara dua sujud harus tegak sempurna dan tidak boleh condong. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada orang yang shalatnya salah, : Dia harus sujud sampai ruas-ruas tulang menempati posisinya. Kemudian dia membaca ‘Allahu akbar’ dan mengangkat kepalanya sampai tegak sempurna.”  (HR. Nasai , Abu Daud).

>Posisi jati-jari tangan ke arah kiblat, Umar bin Khatab mengatakan,: “Termasuk sunah dalam shalat (ketika duduk), kaki kanan ditegakkan, mengarahkan jari-jari tangan ke arah kiblat, dan duduk di atas kaki kiri.”  (HR. Nasai dan dishahihkan Al-Albani)

>Duduk diantara dua sujud wajib tuma’ninah. Diam sejenak sehingga cukup untuk membaca doa duduk diantara dua sujud. ”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlama duduk diantara dua sujud, seperti ketika sujud.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sampai ada orang yang mengatakan, “Beliau lupa.”***

^^^^^
(8). DUDUK _”JALSAH ISTOROHAH”_
*@Duduk ”Jalsah Istirohah”  yaitu duduk sebentar sebelum berdiri setelah selesai raka’at yang pertama dan ketiga. Kedua madzhab (Maliki dan Syafi’i) juga sepakat dalam hal ini.

>Hadist dari Malik bin Al-Huwairits r.a berkata:  Bahwa dia melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat, jika sampai pada rakaat yang ganjil, maka beliau tidak bangkit berdiri hingga duduk sejenak."_  (HR : Aljama’ah kecuali Muslim dan Ibnu Majah)

*>Dari Abu Qilabah ‘Abdullah bin Zaid Al Jarmi Al Bashri, ia berkata, “Malik bin Al Huwairits pernah mendatangi kami di masjid kami.  Ia pun berkata, _“Sesungguhnya aku ingin mengerjakan shalat sebagai contoh untuk kalian meskipun aku tidak ingin mengerjakan shalat. Aku akan mengerjakan shalat sebagaimana shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah aku lihat.” _

>>Ayub kemudian bertanya kepada Abu Qilabah, “Bagaimana Malik bin Al Huwairits mengerjakan shalat?” Abu Qilabah menjawab: “Seperti shalat syaikh kami ini. Beliau duduk ketika mengangkat kepalanya setelah sujud sebelum beliau bangkit dari raka’at pertama.” (HR. Bukhari no. 677).

@Namun hukumnya _Jalsah Istirohah_ terdapat ikhtilaf diantara para ulama, amalan ini disunnahkan untuk siapa?.    
^_Pendapat pertama_ Hukumnya sunnah, jika yang shalat dalam keadaan lemah karena sakit, sudah tua atau sebab lainnya, Inilah pendapat dari Abu Ishaq Al Maruzi.

>_Pendapat kedua,_  Hukumnya sunnah bagi setiap orang untuk melakukan duduk istirahat. Inilah pendapat dari Imam Al Haromain dan Imam Al Ghozali. Al Ghozali berkata bahwa ulama madzhab Syafi’i sepakat pada pendapat ini.

>Pendapat yang kuat dalam hal ini, bahwa _Jalsah Istirohah_  atau duduk sejenak / istirahat tetap disyari’atkan, dan sunnah untuk dilakukan.*  Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya. Ini menunjukkan bahwa hal itu disunnahkan. Duduk istirahat adalah duduk yang ringan (bukan lama) ketika bangkit ke raka’at berikut, bukan bangkit dari tasyahud. (Baca: Al Majmu’, 3: 291).

>Allah Ta’ala berfirman, yang artinya:
>“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imran [3]:31).

>“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr [59]:7).

^^^^^
@Tentang “Jalsah Istirohah”  ini, Imam Nawawi berkata:
>”Duduk istirahat tidak ada pada sujud tilawah, tanpa ada khilaf di antara para ulama.” _ (_Al Majmu’, 3: 292).

_“Jika imam tidak melakukan duduk istirahat, sedangkan makmum melakukannya, itu dibolehkan karena duduknya hanyalah sesaat dan ketertinggalan yang ada cumalah sebentar.” _ (_Al Majmu’, 3: 292).

>“Sudah sepantasnya duduk istirahat ini dilakukan oleh setiap orang karena hadits yang membicarakan hal itu adalah hadits yang shahih dan tidak ada bertentangan dengan hadits shahih yang lain.”


(In Syaa Alloh Bersambung)

Wall├┤hu a’lam bishshowab
Al haqqu min robikum
Nas-alulloh as-salamah wal ‘afiyah

Wassalamu’alaikum warohmatull├┤hi wabarokatuh
*^(posting : Hamhas)^

0 komentar:

Posting Komentar