Kamis, 26 November 2020

SHOLATLAH SEBELUM DISHOLATI BAG. 48

(Sunnah Fi’il Dalam Sholat-4)

Klik _ www.hamhas095.blogspot.com
(Dakwah Bit-Tadwin Online)

"Jangan lihat siapa yang menyampaikan,
tapi lihat apa yang disampaikannya"
(Ali bin Abi Tholib r.a)

(Bagian Ke-48)

Bissmillaahirrahmaanirraahiim
Assalaamu’alaikum wr. Wb

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,
Washsholaatu wassalaamu
’Alaa asyrofil ambiyaai wal mursaliin
Wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi aj-maiin,
Amma ba’du

Sobat Netizen Rohimakumulloh

#SUNNAH “PERBUATAN” (FI’IL) DALAM SHOLAT (lanjutan).
(6). MELAKUKAN SUJUD.
@Saat turun sujud dari ruku’ mana yang di dahulukan, “tangan atau lutut”. Para ulama terjadi i’tilaf, mana yang harus didahulukan, lutut atau tangan.

^Pendapat pertama, Tangan yang didahulukan
>Dari Ibnu Umar r.a, berkata: ^WA KAANA YADHO’U YADAIHI ‘ALAAL ARDHI QOBLA RUKBATAIHI / _”BeliauSholallohu ‘Alaihi Wasalam, *meletakkan kedua tangannya diatas tanah sebelum kedua lututnya”_
[HR. Ibnu Khuzaimah (1/76/1); Ad Daroquthni (131); Al Baihaqi (2/100); Al Hakim (1/226). Al hakim mengatakan hadits ini shahih sesuai dengan kritria Sahih Muslim]

>Dalam hadits yang lain: ^IDZAA SAJADA `AH̬ADUKUM FALAA YABRUK KAMAA YABRUKUL BA’IIRU / “Janganlah salah satu kalian turun untuk sujud sebagaimana bentuk turunnya unta ketika hendak menderum.” (HR. Abu Daud no. 840 dan An Nasai no. 1092. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

*>Kemudian ditambahkan: ^ WALYADHO’ YADAIHI QOBLA RUKBATAIHI / “Hendaknya dia letakkan tangannya sebelum lututnya.”

^Pendapat kedua, Lutut yang didahulukan
*>Dari Anas r.a, beliau berkata: ^ROAITU ROSULULLOHI SHOLALLOHU ‘ALAIHI WASALAM, AN H̬ATHO BITTAKBIIR, FASABAQOT RUKBATAHU YADAIHI / ”Saya telah melihat Rosululloh Sholallohu ‘’Alaihi Wasalam turun (untuk sujud) sambil takbir, dan kedua lutut beliau mendahului kedua tangannya.” [HR. Ad Daroquthni (132); Al Hakim (1/226); Al Baihaqi (2/99)]

*>Dalam Hadits yang lain: ^IDZAA SAJADA `AH̬ADUKUM FALAA YABRUK KAMAA YABRUKUL BA’IIRU / “Janganlah salah satu kalian turun untuk sujud sebagaimana bentuk turunnya unta ketika hendak menderum.” (HR. Abu Daud no. 840 dan An Nasai no. 1092. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

*>Kemudian ditambahkan: ^ WALYADHO’ RUKBATAIHI QOBLA YADAIHI / “Hendaknya dia letakkan lututnya sebelum tangannya.”

@Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,  “Adapun shalat (ruku’ turum kr sujud) dengan kedua cara tersebut maka diperbolehkan dengan kesepakatan ulama, kalau dia mau maka meletakkan kedua lutut sebelum kedua telapak tangan, dan kalau mau maka meletakkan kedua telapak tangan sebelum kedua lutut, dan shalatnya sah pada kedua keadaan tersebut dengan kesepakatan para ulama. Hanya saja mereka berselisih pendapat tentang yang afdhal.”  (Majmu’ Al Fatawa, 22: 449).

@Pendapat yang paling baik, manakah yang mesti didahulukan apakah tangan ataukah lutut, ini menimbang pada kondisi masing-masing orang. Mana yang lebih mudah baginya, itulah yang ia lakukan. Ada orang yang berat badannya, ada orang yang ringan. Intinya, tidak ada hadits shahih yang marfu’ -sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang membicarakan hal tadi. (Lihat Shifat Shalat Nabi karya Syaikh Abdul ‘Aziz Ath Thorifi, hal. 129).*

^^^^^
*@Melakukan sujud yang disunnahkan dan dicontohkan Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasalam (Kitab Sifat Sholat Nabi Syaikh Muhammad Nashiruddin Al AlBani, Bagian ke-10):

^Sujud dengan menempelkan 7 tulang.
^UMIRTU AN ASJUDA ‘ALAA SAB’ATI,  A’THUM  ‘ALAAL JABHATI, WA `ASYAARO BIYADIHI ‘ALAA ANFIHI, WALYADAIN, WARRUKBATAINI, WA ATHOROOFIL QODAMAIN. / “Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan: (1) Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya), (2,3) telapak tangan kanan dan kiri, (4,5) lutut kanan dan kiri, dan (6,7) ujung kaki kanan dan kiri. ” (HR. Bukhari no. 812 dan Muslim no. 490)

>Dalam Hadits yang lain:, _“Kami diperintah sujud dengan *tujuh tulang, yaitu [1] dahi dan ia isyaratkan juga pada hidung, [2,3] dua tangannya, [4,5] dua lutut dan [6,7] dua ujung tapak kakinya.”_  (HR. Bukhari I : 197, Muslim I : 203)

>Hadits ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib r.a., _“Jika seorang hamba bersujud, bersujudlah bersamanya *tujuh anggota tubuhnya, yakni mukanya (dahi dan hidung), kedua tapak tangannya, kedua lututnya, dan kedua tapak kakinya.” _ (HR. Imam Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah).

>Jumhur ulama berpendapat bahwa dahi dan hidung itu seperti satu anggota tubuh. Untuk lima anggota tubuh lainnya wajib bersujud dengan anggota tubuh tersebut.

>Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Jika dari anggota tubuh tersebut tidak menyentuh lantai, shalatnya berarti tidak sah. Namun jika kita katakan wajib bukan berarti telapak kaki dan lutut harus dalam keadaan terbuka. Adapun untuk telapak tangan wajib terbuka menurut salah satu pendapat ulama Syafi’iyah sebagaimana dahi demikian. Namun yang lebih tepat, *tidaklah wajib terbuka untuk dahi dan kedua telapak tangan.” *_ (Syarh Shahih Muslim, 4:185)
^Meletakkan tangan juga wajah ke tempat sujud,
^WA KAANA YAQUULU: INNAL YADAINI TASJUDUUNI KAMAA YASJUDUL WAJHU / ”Beliau Sholallohu ‘Alaihi Wasalam bersabda: “Kedua tangan sujud sebagaimana wajah sujud.”

^FAIDZAA WADHO’A AḪADUKUM WAJAHADU FALYADHO’ YADAIHA, / ”Apabila seseorang di antara kalian meletakkan wajahnya, hendaknya dia meletakkan kedua tangannya.

^WA IDZAA ROFA’A, FALYAR FA’HUMAA / ”Dan apabila dia mengangkatnya, hendaknya dia mengangkat kedua tangannya.” [HR. Abu Daud (1/142); an Nasa’i (1/165);  Ibnu Khuzaimah (1/79/2), dari Abdullah bin Umar r.a].


^Rapatkan jari-jari tangan,  
@Dari Wail bin Hujr, ia berkata, ^ANNAN-NABIYYA SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAMA KAANA, IDZAA SAJADA DHUMMA `ASHOOBI’AHU / _“Ketika sujud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam *merapatkan jari jemarinya.” (HR. Hakim dalam Mustadrok 1:350. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

*>Dalam hadits lain, dari Wa’il bin Hujr, ia berkata: ”Bahwa keadaan Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wasalam bila ruku’, beliau renggangkan jari-jarinya dan apabila *sujud beliau kepit jarijarinya.” (HR. Hakim, Fiqhus Sunnah I : 136, Bukhari I : 197)


^Bertumpu pada telapak tangan, lengan diangkat: _“Janganlah membentangkan hasta (lengan), bertumpulah dengan tapak tangan dan renggangkanlah kedua tanganmu.” _ (HR. Ibnu Khuzaimah, Sifat Shalat Nabi : 148)

^Menegakkan siku-siku sehingga sejajar dengan bahu, Dari Barra’ bin ‘Ajib, Rsululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasalam bersabda:  ”Dan apabila kamu sujud, maka letakkan dua tapak tanganmu dan angkatlah dua sikumu.”  (HR. Muslim  I/204)

^Posisi perut dan paha dijauhkan, tidak menempel, tetapi juga tidak terlalu jauh seperti posisi “ndelosor” (spt anjing mau tidur) : _“Janganlah kamu menghamparkan hasta seperti anjing menghampar.” _ (HR. Ibnu Majah : 891, Tirmidzi : 274, Muslim I : 204)

^Lengan / hasta direnggangkan dari rusuk, jari kaki menghadap ke kiblat _”Ketika sujud diletakkannya dua tapak tangannya, lengannya (hasta) tidak diletakkan ke tempat sujud dan tidak dikepitkan ke rusuknya dan ujung jari kakinya dihadapkan ke arah kiblat.” _ (HR. Bukhari,  I/201)

^Melebarkan lengannya, ”Beliau melebarkan lengannya, sehingga anak kambing bisa lewat di bawah lengan beliau” (HR. Muslim dan Abu ‘Awanah).

>Keadaan diatas, (melebarkan lengan saat sujud), dikecualikan jika berada dalam shalat jamaah. karena kemungkinan akan manggangu jamaah yang berada  disebelahnya.  (Ini dapat dilakukan dalam keadaan sholat berjamaah yang shofnya agak direnggangkan seperti di saat pandemic ini)

>Syaikh Muhammad bin Shalih bin Shalih Al ‘Utsaimin membawakan suatu kaedah dalam masalah ini: ^INNA TARKAS-SUNNATI LIDAF’I, ADZAA AULAA MIN FI’LIS-SUNNATI MA’AL ADZAA / “Meninggalkan perkara yang hukumnya sunnah untuk menghindarkan diri dari mengganggu orang lain lebih utama dari mengerjakan hal yang sunnah namun mengganggu orang lain.”  (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 3: 264).

>Imam Nawawi rahimahullah  menjelaskan dua adab awal ketika sujud, ini dengan mengatakan:

^“Hendaknya yang sujud meletakkan kedua telapak tangannya ke lantai dan mengangkat sikunya dari lantai.

^Hendaklah lengannya dijauhkan dari sisi tubuhnya sehingga nampak bagian dalam ketiaknya ketika ia tidak berpakaian tertutup (misalnya ketika ber ihrom)

>Inilah cara sujud yang disepakati oleh para ulama. Jika ada yang tidak melakukannya, maka dapat dihukumi shalatnya itu jelek, namun shalatnya itu sah.” Wallahu a’lam. (Syarh Shahih Muslim, 4: 187).***

(In Syaa Alloh Bersambung)

Wall├┤hu a’lam bishshowab
Al haqqu min robikum
Nas-alulloh as-salamah wal ‘afiyah

Wassalamu’alaikum warohmatull├┤hi wabarokatuh
*^(posting : Hamhas)^

0 komentar:

Posting Komentar