Kamis, 26 November 2020

SHOLATLAH SEBELUM DISHOLATI BAG. 47

(Sunnah Fi’il Dalam Sholat-3)

Klik _ www.hamhas095.blogspot.com
(Dakwah Bit-Tadwin Online)

"Jangan lihat siapa yang menyampaikan,
tapi lihat apa yang disampaikannya"
(Ali bin Abi Tholib r.a)

(Bagian Ke-47)

Bissmillaahirrahmaanirraahiim
Assalaamu’alaikum wr. Wb

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,
Washsholaatu wassalaamu
’Alaa asyrofil ambiyaai wal mursaliin
Wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi aj-maiin,
Amma ba’du

Sobat Netizen Rohimakumulloh

#SUNNAH “PERBUATAN” (FI’IL) DALAM SHOLAT (lanjutan).
(4). KETIKA MELAKUKAN RUKU’.
@Keadaan ketika melakukan ruku’ adalah:
*>Menaruh tapak tangan di atas lutut sambil menggenggamnya;
*>Merenggangkan jemarinya;
*>Punggung rata atau lurus (tidak terlalu bungkuk);
*>Posisi kepala lurus, tidak mendongak dan tidak menunduk, mata lurus ke tempat sujud.

@Cara Ruku’ menurut Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ”…dengan meletakkan telapak tangan di lutut sampai persendian yang ada dalam keadaan thuma’ninah (tidak tergesa-gesa) dan tenang.” (HR. Ad Darimi no. 1329. shahih).

@Rasululullah Sholallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda: _“Apabila ruku’, letakkanlah tapak tanganmu di atas lutut, lalu renggangkan jemari dan diamlah, sehingga anggota tubuh terletah pada posisinya.” _ (HR. Ibnu Hibban)

@Dalam hadits lain: “Apabila ruku’, letakkanlah tapak tangan di atas lutut, luruskan punggung (rata air) dan kokohkan ruku’.”  (HR. Ibnu Majah : 169, Abu Dawud : 731)

@Diriwayatkan dari Siti ‘Aisyah r.a., dalam hadits yang panjang : “Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi Wasallam jika ruku’, tidak mengangkat kepalanya dan tidak menundukkannya sampai ke bawah, tetapi pertengahan antara itu (lurus antara kepala dengan punggung).” _ HR. Imam Muslim)

@Dari Salim Al-Barrod, ia berkata: “Kami beserta ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari mendatangi Abu Mas’ud, lalu kami mengatakan kepadanya : ‘Ceritakanlah kepada kami mengenai shalat Rasulullah _Sholallohu ‘Alaihi Wasallam. Lalu dia berdiri di hadapan kami – di dalam masjid – lalu ia bertakbir dan ketika ruku’, ia meletakkan kedua tangannya pada kedua lututnya dan jari-jarinya di bawah lutut. Ia merenggangkan kedua sikunya sehingga setiap anggota tubuhnya menjadi tegak, (lalu berdiri atau bangkit dari ruku’) sambil mengucapkan ‘sami’allaahu li man hamidah’.” _ (HR. Imam Nasa’i dan Abu Dawud)

@Dari Anas r.a., sesungguhnya Nabi saw. Bersabda kepadanya: _“Hai anakku, jika kamu melakukan ruku’, letakkanlah kedua telapak tanganmu pada kedua lututmu, renggangkan antara jari tanganmu dan jauhkanlah kedua (siku) tanganmu dari kedua sisi pinggangmu.” _ (HR. Imam Thobroni).

^^^^^
*^(5). SAAT I’TIDAL/BANGKIT DARI RUKUK#
@Posisi tangan ketika I’tikal, Terjadi  ikhtilaf dari para ulama yang sudah ada semenjak zaman dahulu, Sebabnya karena tidak ada hadits shohih sekaligus shorih (hadits yang kuat dan lafaznya jelas menerangkan) mengenai posisi tangan ketika i'tidal.  

^Pendapat pertama: Posisi Tangan Lurus kebawah / Irsal.
>Hadits (1): “Kemudian angkatlah kepalamu sampai engkau berdiri dengan tegak, sehingga tiap-tiap ruas tulang belakangmu kembali pata tempatnya.”  Dalam riwayat lain disebutkan: “Jika kamu berdiri i’tidal, luruskanlah punggungmu dan tegakkanlah kepalamu sampai ruas tulang punggungmu mapan ke tempatnya.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

>Hadits (2): “…Apabila mengangkat kepalanya (bangkit dari ruku’), maka beliau saw meluruskan (badannya) hingga semua rangkaian tulang belakangnya kembali keposisinya…”.  (HR. Bukhari)

>Hadits (3): “…Apabila kamu mengangkat kepalamu maka tegakkanlah tulang punggungmu (sulbi-mu) hingga kembali tulang tersebut kepersendiannya…” (HR. Ahmad)

>Hadits (4): _ “Allah, Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia tidak mau melihat shalat seseorang yang tidak meluruskan punggungnya ketika berdiri di antara ruku’ dan sujudnya (i’tidal ).”_   (HR. Ahmad dan Thabarani)

>Hadits (5):  ”Dari ‘Aisyah radhiyallahuanha berkata bahwa apabila beliau SAW mengangkat kepalanya dari ruku', maka tidak langsung sujud sebelum berdiri lurus terlebih dahulu”  (HR. Muslim)

>Hadits (6):_"Aku mendengar Abu Humaid berkata, Rasulullah SAW ketika shalat…kemudian beliau i’tidal sampai semua tulangnya kembali ke tempat semula.” (HR. Ibnu Hibban, dari Ibnu Atho’)

>>Hadits-hadits di atas ditafsirkan oleh pendukung pendapat pertama ini, bahwa ”semua tulangnya kembali ke tempat semula.” dipahami sebagai  dasar untuk meluruskan tulang-tulang termasuk *tulang tangan sehingga posisinya ketika i'tidal adalah “istal / lurus kebawah.

^^^^^
^Pendapat kedua, _Posisi Tangan Bersedekap_
>Hadits dari Wa’il bin Hujr radhiallahu’anhu ia berkata: ^ROAITU ROSULULLOHI IDZAA KAANA QOO`AMAN FIISH-SHOLLATI QOBADHO BIYAMIINIHI ‘ALAA SYAMAALIHI / “Aku Melihat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berdiri dalam shalat beliau melingkari tangan kirinya dengan tangan kanannya” (HR. An Nasa-i 886, Al Baihaqi 2/28, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa-i).

>Hadits dari Wa-il bin Hujr berkata:* _“Saya melihat Rasulullah SAW apabila beliau berdiri dalam shalat, beliau memegang tangan kirinya dengan tangan kanannya.” (HR. An-Nasa’i)

>>Hadits-hadits di atas ditafsirkan oleh pendukung pendapat kedua ini, bahwa Lafadz ^IDZAA KAANA QOO`AMAN FIISH-SHOLLAATI/ _*ketika beliau berdiri dalam shalat_  dipahami bahwa sedekap itu dilakukan dalam setiap kondisi berdiri dalam shalat kapan pun itu, baik sebelum rukuk maupun sesudah rukuk. Karena i'tidal itu berdiri, maka posisi tangan ikut bersedekap.

@Imam Ahmad Dan Madzab Hambali berpendapat: Bersedekap dan tidak bersedekap dalam i’tidal hukumnya sama, sehingga diperbolehkan memilih salah satunya. Karena tidak ada dalam sunnah Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi wasallam  yang shohih dan shorih (sandaran dalil yang kuat dan lafaznya jelas) tentang hal itu, sehingga keduanya diperbolehkan.”_ Wallohua’lam.*

(In Syaa Alloh Bersambung)

Wall├┤hu a’lam bishshowab
Al haqqu min robikum
Nas-alulloh as-salamah wal ‘afiyah

Wassalamu’alaikum warohmatull├┤hi wabarokatuh
*^(posting : Hamhas)^

@Posisi tangan saat i’tidal/bangkit dari rukuk terjadi  ikhtilaf dari para ulama   yang sudah ada semenjak zaman dahulu, Sebabnya karena tidak ada hadits shahih sekaligus sharih yang menjelaskan posisi tangan itu ketika i'tidal.  

^Pendapat pertama : Posisi Tangan Lurus kebawah (Irsal).
>Hadits (1): “Kemudian angkatlah kepalamu sampai engkau berdiri dengan tegak (sehingga tiap-tiap ruas tulang belakangmu kembali pata tempatnya).”

^^Dalam riwayat lain disebutkan:* _“Jika kamu berdiri i’tidal, luruskanlah punggungmu dan tegakkanlah kepalamu sampai ruas tulang punggungmu mapan ke tempatnya.” _ (HR. Bukhari dan Muslim)

>Hadits (2): “Allah, Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia tidak mau melihat shalat seseorang yang tidak meluruskan punggungnya ketika berdiri di antara ruku’ dan sujudnya (i’tidal).”   (HR. Ahmad dan Thabarani)

>Hadits (3):  “”Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata bahwa apabila Beliau Sholallohu ‘Alaihi Wasalam mengangkat kepalanya dari ruku', maka tidak langsung sujud sebelum berdiri lurus (I’tidal) terlebih dahulu.”_  (HR. Muslim)

>Hadits (4): Dari Ibnu Atho’, ia berkata: "Aku mendengar Abu Humaid berkata, Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi Wasalam  ketika shalat…, kemudian beliau i’tidal sampai semua tulangnya kembali ke tempat semula.”  (HR. Ibnu Hibban)

#Hadits-hadits di atas ditafsirkan oleh pendukung pendapat pertama ini sebagai dasar untuk meluruskan tangan ketika beri'tidal dan *bukan bersedekap.

^^^^^
^Pendapat Kedua : Posisi Tangan Bersedekap.
>Hadits (1): Wa-il bin Hujr berkata: _“Saya melihat Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi Wasalam apabila beliau berdiri dalam shalat, beliau memegang tangan kirinya dengan tangan kanannya (bersedekap).” _ (HR. An-Nasa’i)

>Hadits (2): Dari Sahl bin Sa’d ia berkata bahwa para sahabat diperintah agar meletakkan tangan kanannya atas lengan kirinya (bersedekap) *dalam shalat.” (HR. Bukhari)

#Para pendukung pendapat ini *menggunakan keumuman hadits-hadits di atas sebagai dasar bahwa posisi berdiri dalam sholat itu maka keadaan tangan adalah bersedekap. Karena “i'tidal itu berdiri,” maka posisi tangan adalah bersedekap.

@Kemudian pendapat mana yang kita ikuti, kedua pendapat berdasar dalil sunnah yang shahih, keduanya tidak membatalkan sholat, kalau mau mencari afdholnya, silahkan tarjih mana dalil yang lebih kuat dan yang banyak dicontohkan oleh Rosululloh Sholalohu ‘Alaihi Wasalam. Wallohu’alam.***

0 komentar:

Posting Komentar