Kamis, 26 November 2020

SHOLATLAH SEBELUM DISHOLATI BAG. 46

(Sunnah Fi’il Dalam Sholat-2)

Klik _ www.hamhas095.blogspot.com
(Dakwah Bit-Tadwin Online)

"Jangan lihat siapa yang menyampaikan,
tapi lihat apa yang disampaikannya"
(Ali bin Abi Tholib r.a)

(Bagian Ke-46)

Bissmillaahirrahmaanirraahiim
Assalaamu’alaikum wr. Wb

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,
Washsholaatu wassalaamu
’Alaa asyrofil ambiyaai wal mursaliin
Wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi aj-maiin,
Amma ba’du

Sobat Netizen Rohimakumulloh

#SUNNAH “PERBUATAN” (FI’IL) DALAM SHOLAT (lanjutan).
(3). BERSEDEKAP, MELETAKKAN TANGAN KANAN DI ATAS TANGAN KIRI.
@Keadaan bersendekap, dengan posisi: Para ulama bersepakat bahwa tangan kanan berada di atas tangan kiri, sebagaimana dijelaskan hadits dibawah ini:

>Dari Wa-il bin Hujr, dia berkata,  _“Aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas dada.” _ [Shahiih Ibni Khuzaimah (I/243 no. 479)].

>Dari Wail bin Hujr, ia berkata bahwa, ”Ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya ketika memulai shalat dan beliau bertakbir (Hammam menyebutkan beliau mengangkatnya sejajar telinga), lalu beliau memasukkan kedua tangannya di bajunya, kemudian beliau meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri.’” (HR. Muslim no. 401).

>Dari Sahl bin Sa’d, dia berkata, _“Dulu orang-orang diperintahkan agar masing-masing mereka meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya dalam shalat.” Abu Hazim berkata, “Aku tidak mengetahui melainkan hal itu dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” _ [Mukhtashor Shahiih al-Bukhari (no. 402)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/224 no. 740), dan Muwaththo’ Malik (CXI/376).


>Dari Jabir r.a, dia berkata: “Rasulullah pernah berjalan melewati seorang yang sedang shalat. orang tersebut meletakkan tangan kirinya di atas tangan kanannya. Lalu beliau melepaskan tangan tersebut dan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya.” (HR.Ahmad dengan sanad sahih).

*@Namun ada ikhtilaf terkait TANAWWU’ (perbedaan dalam variasi posisi), yaitu cara yang bersedekap yang benar ada dua cara:

^Cara Pertama, _AL WADH’U._  yaitu meletakkan kanan di atas kiri tanpa menggenggamnya. Ada 3 keadaan atau posisinya:

>Dari Wa’il bin Hujr,  ^TUSAMMA WAZHO’A YADAHUL YUMNA’ALAA DHOHRI KAFFAHIL YUSROO, WARRUSGHI, WASSAA ’IDI / Kemudian meletakkan tangan kanan  (1) di atas punggung telapak tangan kiri, (2)di pergelangan tangan, atau (3)di lengan tangan kiri.” (Shahih, HR. Ahmad 4: 318, Abu Daud 727).

^Cara Kedua, _AL QOBDHU_  yaitu jari-jari tangan kanan melingkari atau menggenggam tangan kiri.

>Dari Wail bin Hujr _radhiallahu’anhu_  ia berkata, ^ROAITU ROSULULLOH SHOLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM IDZAA KAANA QOO`IMAN FIISH-SHOLAATI QOBADHO BIYAMIINIHI ‘ALAA SYIMAALIHI / “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berdiri dalam shalat, tangan kanan beliau menggenggam tangan kirinya.” (HR. An Nasai no. 8878; Ahmad 4: 316. Dan Al Baihaqi 2/28, Al Hafizh Abu Thohir mengatakan sanad hadits ini shahih).

>>Apabila ada yang melakukan *diluar cara diatas, perlu di cari dalilnya untuk mendukungnya.

>>Sebagian ulama membedakan tata cara bersedekap laki-laki dengan wanita, namun yang tepat tata cara bersedekap laki-laki dengan wanita adalah sama. Karena pada asalnya tata cara ibadah yang dicontohkan oleh Nabi itu berlaku untuk laki-laki dengan wanita kecuali ada dalil yang membedakannya. Allohu’alam***

^^^^^
*@LETAK SEDEKAP. Para ulama berbeda pendapat mengenai letak sedekap, tangan diletakkan di dada, di pusar, atau bawah pusar.

^Mayoritas ulama berpendapat bahwa meletakkan tangan ketika sedekap *tidak pada tempat tertentu. Jadi sah-sah saja meletakkan tangan di dada, di pusar, di perut atau di bawah itu. Karena yang dimaksud mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sini adalah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri.

*>Sedangkan yang lebih dari itu dengan menentukan posisi tangan sedekap tersebut butuh pada dalil. Meletakkan tangan di dada maupun di bawah pusar sama-sama berasal dari hadits yang dho’if. (Baca: Kitab Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal. 87-90 karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath Athorifi).

^^^^^
^Madzhab Hanafi dan Hambali, berpendapat bahwa letak sedekap adalah di bawah pusar.

>Berdasarkan hadits: ^ANNA ‘ALIYYA RODHIYALLOHU ‘ANHU, QOOLA: MINASSUNNATI WADH’UL KAFFA ‘ALAA KAFFA FIISH-SHOLLATI TAH̬TAS-SURROTI / _”Ali rodhiallohu’anhu berkata: Termasuk sunnah, meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan dalam shalat di bawah pusar” (HR. Abu Daud 758, Al Baihaqi, 2/31), Namun hadits ini sangat lemah karena ada perowinya yang bernama Ziad bin Zaid Al Kufi dan Abdurrahman bin Ishaq yang berstatus _dhoiful hadits.

^^^^^
^Madzhyab Syafi’iyyah dan Malikiyyah, berpendapat di bawah dada dan di atas pusar.

>Dalilnya hadits dari Wail bin Hujr: ^KAANA ROSULULLOHI SHOLALLOHU ‘ALAHI WASALLAM, YADHO’U YADAHUL YUMNAA ‘ALAA YADIHIL YUSROO TSUMMA YASYUDDU BAINAHUMAA ‘ALAA SHODRIHI WAHUWA FIISH-SHOLAATI.

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya kemudian mengencangkan keduanya di atas dadanya ketika beliau shalat” (HR,. Abu Daud 759, Al Baihaqi 4/38, Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 3322)
 
>>Syafi’iyyah dan Malikiyyah memaknai bahwa maksud lafadz ’alaa shodrihi adalah bagian akhir dari dada. (Namun keshahihan hadits ini diperselisihkan oleh para ulama karena pada perowinya Mu’ammal bin Isma’il)

^^^^^
^Madzhab Imam Achmad, berpendapat bahwa letak sedekap adalah persis di atas dada, sesuai zhahir hadits. Ini juga yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan juga Syaikh Al Albani rahimahumallah.

*>Namun karena tidak ada hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tentang “letak bersedekap” ini secara gambalng, maka yang tepat tidak ada batasan letak sedekap. Dalam hal ini perkaranya luas. Sedekap boleh di atas dada, di bawah dada, di perut, di atas pusar maupun di bawah pusar (Baca Sifat Sholat Nabi, oleh Lit Thorifi, 90).

>Adapun bersedekap di dada kiri atau di rusuk kiri, dilakukan dengan alasan disitu letaknya “jantung”, sehingga posisinya “seperti orang lagi bertolak pinggang, jelas ini tidak ada dasar dalilnya, dan bahkan dilarang. Hadits dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu mengatakan: “Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam melarang seseorang bertolak pinggang ketika sedang shalat”  (HR. Bukhari 1220, Muslim 545)

>>Memang  perbuatan demikian tidak sama dengan tolak pinggang, namun itu mendekati tolak pinggang. Selain itu juga, perbuatan ini membuat badan tidak seimbang (Baca: Syarhul Mumthi’, 3/37-38).***

(In Syaa Alloh Bersambung)

Wall├┤hu a’lam bishshowab
Al haqqu min robikum
Nas-alulloh as-salamah wal ‘afiyah

Wassalamu’alaikum warohmatull├┤hi wabarokatuh
*^(posting : Hamhas)^

0 komentar:

Posting Komentar