Minggu, 15 November 2020

SHOLATLAH SEBELUM DISHOLATI BAG. 45

(Sunnah Fi’il Dalam Sholat-1)

Klik _ www.hamhas095.blogspot.com
(Dakwah Bit-Tadwin Online)

"Jangan lihat siapa yang menyampaikan,
tapi lihat apa yang disampaikannya"
(Ali bin Abi Tholib r.a)

(Bagian Ke-45)

Bissmillaahirrahmaanirraahiim
Assalaamu’alaikum wr. Wb

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,
Washsholaatu wassalaamu
’Alaa asyrofil ambiyaai wal mursaliin
Wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi aj-maiin,
Amma ba’du

Sobat Netizen Rohimakumulloh

@Sunnah-sunnah dalam sholat, adalah setiap amalan baik berupa perbuatan (fi’il) atau ucapan (qouli) yang akan menyempurnakan sholat.

@Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah  dalam Kitab Manhajus Salikin, setelah menyebutkan rukun sholat dan wajib sholat, beliau mengetakan: ^WALBAAQII SUNANU AQWAALIN WA AF’AALI MUKMILI LISH-SHOLAAH /. “Dan lainnya adalah sunnah dalam bentuk ucapan dan perbuatan menjadi penyempurna shalat.”

^^^^^
#SUNNAH “PERBUATAN” (FI’IL) DALAMSHOLAT.
(1). MENGANGKAT KEDUA TANGAN.
>Dari Nafi’: _“Jika Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma memulai shalat, dia bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Jika hendak ruku’, dia angkat kedua tangannya. Dan saat mengucapkan: ^SAMI’ALLOOHU LIMAN ḪAMIDAH,  dia angkat kedua tangannya. Dan jika bangkit dari dua raka’at, dia angkat kedua tangannya. Dia menisbatkannya kepada Nabi Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” _ [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 663)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/222 no. 739), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/439 no. 727).

@Mengangkat kedua tangan dilakukan pada 4 keadaan yaitu saat:
*1). Takbiratul ihram
*2). Ruku’
*3). Bangkit dari ruku’
*4). Berdiri dari tasyahud awwal

> Dalil Haditsnya: ^KAANA ROSULULLOH SAW IDZAA DAKHOLA FII SHOLAATI KABARO WAROFA’A YADAIHI, WAIDZAA ROKA’A ROFA’A YADAIHI, WA IDZAA QOOLA “SAMI’ALLOHU LIMAN HAMIDAH” ROFA’A YADAIHI, WAIDZAA QOOMA MINNAL ROKA’ATAINI ROFA’A YADAIHI”  

“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki shalat beliau takbiratul ihram dan mengangkat tangannya; ketika hendak rukuk, beliau mengangkat tangan; ketika I’tidal ( sami’allahu liman hamidah) beliau juga mengangkat tangannya; dan ketika bangkit dari tasyahud awal, beliau mengangkat tangannya.”  (HR. Bukhari 739 dan yang lainnya).

>Dari Wa’il bin Hajar, bahwa ia melihat cara Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasalam, “mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir” (HR. Ahmad, Baihaqi dan Abu Dawud).

>Dari Ibnu ‘Umar r.a: “Jika Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasalam,  beridiri hendak shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga berbetulan dengan kedua bahunya, lalu beliau bertakbir.”  (HR. Muslim I : 66, Bukhari I : 180)

>Dari Abu Hurairah r.a: “Keadaan Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasalam, mengangkat tangan (waktu takbir), jari-jarinya tegak ke atas.”  (HR. An-Nasa’i II : 124, At-Tirmidzi : 240)  

>”Keadaan (Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasalam,) mengangkat kedua tangan dengan menegakkan jari-jemari serta menghadapkannya ke kiblat.”  (Ibnu Al-Qayyim, Zaadul Ma’ad I : 202)

@Cara mengangkat tangan ketika takbirotul ihrom maupun takbir lainnya ketika sholat, ada dua cara:

>Pertama, Ujung jari sampai sejajar pundak / bahu, kemudian bertakbir. _”Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga setinggi pundak, kemudian beliau bertakbir”. (HR. Muslim 390 – Bukhari 735).

>Dari Ali bin Abi Thalib, dari Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wasallam  bahwa “ketika melaksanakan sholat fardhu, Beliau memulai dengan bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan bahu. Beliau melakukan hal yang sama ketika selesai membaca sebelum rukuk, juga bangkit dari rukuk. Beliau tidak melakukan hal itu saat duduk, akan tetapi jika beliau bangkit setelah dua kali sujud, beliau kembali bertakbir.” (HR. Abu Dawud, dan Tirmidzi).

>Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu anhuma : _“Ketika memulai shalat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya setinggi bahu, begitupula saat takbir hendak ruku’. Beliau juga mengangkat keduanya saat mengangkat kepala dari ruku’.” _ [Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/218 no. 735)], Shahiih Muslim (I/292 no. 390 (22)), Sunan at-Tirmidzi (I/161 no. 255), dan Sunan an-Nasa-i (II/122)].


^^^^^
>Kedua, Ujung jari sampai sejajar telinga, kemudian bertakbir. Dari Malik bin Al Huwairits, ia berkata, _“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya sejajar kedua telinganya. Jika ruku’, beliau mengangkat kedua tangannya juga sejajar kedua telinganya. Jika bangkit dari ruku’, beliau mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’, beliau melakukan semisal itu pula.” (HR. Muslim no. 391).

>Dalam hadits yang lain, Dari  Malik bin al-Huwairits: _“Dia melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya dalam shalat ketika ruku’, ketika mengangkat kepala dari ruku’, ketika sujud, dan ketika mengangkat kepala dari sujud. Hingga beliau menyejajarkan kedua tangannya dengan bagian atas telinganya.” _ [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 104)], Sunan an-Nasa-i (II/206), dan Ahmad (al-Fat-hur Rabbaanii) (III/168 no. 493).

^^^^^
@Keadaan tepalak tangan menghadap kiblat. Posisi telapak tangan ketika bertakbir, baik takbirotul ihrom maupun takbir lainnya saat sholat, adalah sebau berikut:
^^Telapak tangan dibentangkan secara sempurna dan tidak menggenggam
^^Jari-jari telapak tangan tidak terlalu lebar dan tidak terlalu rapat;
^^Telapak tangan dihadapkan ke kiblat dan diangkat setinggi pundak atau telinga

*>Hadits Dari Abu Hurairah r.a  Rosululloh  Sholallolohu ‘Alaihi wasalam bersabda: ^KAANA ROSULULLOH SAW IDZAA DAKHOLA FII SHOLAATI ROFA’A YADAIHI MADDA / _”Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika memulai shalat, beliau mengangkat kedua tangannya dengan dibentangkan.” _ (HR. Abu Daud 753, Turmudzi 240, dan dishahihkan al-Albani)

^^^^^
(2). MENGARAHKAN PANDANGAN KE TEMPAT SUJUD.
@Keterangan al-Baghowiy, dalam kitabnya, Syarh as-Sunnah:  _“Melihat sesuatu tidak masalah di dalam shalat, akan tetapi yang lebih baik adalah mengarahkan pandangan ke tempat sujud.” _

@Pandangan waktu shalat kita tujukan ke tempat sujud, Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi wasallam bersabda : _“Bila shalat, janganlah kalian memutar-mutar pandangan, karena Allah menghadapkan pandangan-Nya pada wajah hamba-Nya waktu shalat selama ia tidak memutar-mutar pandangan.” _ (HR. At-Tirmidzi, Hakim, Sifat Shalat Nabi : 47)

>Dalam riwayat lain: _“Selama Allah menghadap kepada hamba-Nya dalam shalat selama ia tidak memutar-mutar pandangan. Apabila ia memutar pandangan, Allah akan berpaling darinya.” _ (HR. Abu Dawud : 909)

@Jangan ada gambar / tulisan disekira orang sholat.
*>Hadits Al-Baihaqi disebutkan apabila Rasul shalat, beliau menundukkan kepada dan mengarahkan pandangan ke tempat sujud. (Kitab Sifat Shalat Nabi ke-45)

>Agar bisa khusyu’ dalam shalat, hilangkan sesuatu yang akan mengganggu kekhusyu’an itu, seperti gambar-gambar atau yang lainnya. Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda : _“Tidak pantas di dalam rumah (tempat sholat) terdapat sesuatu yang bisa mengganggu shalat.” _ (HR. Abu Dawud dan Ahmad, Sifat Shalat nabi : 46)

>Dalam Sholat berjamaah, jangan memakai baju / kaos yang bergambar / ada tulisan.  Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi Wasallam pernah shalat memakai wol dan bergambar dan terlihat sekilas olehnya. Setelah selesai shalat beliau bersabda : _“Berikanlah bajuku ini kepada Abu Jahm dan untukku baju polosnya, karena bajuku tadi telah mengganggu shalatku.” _ (HR. Bukhari I : 183, Muslim I : 224)

(In Syaa Alloh Bersambung)

Wall├┤hu a’lam bishshowab
Al haqqu min robikum
Nas-alulloh as-salamah wal ‘afiyah

Wassalamu’alaikum warohmatull├┤hi wabarokatuh
*^(posting : Hamhas)^

0 komentar:

Posting Komentar