Selasa, 10 November 2020

SHOLATLAH SEBELUM DISHOLATI BAG. 40

(Syarat Rukun Sholat-5)

_ www.hamhas095.blogspot.com
(Dakwah Bit-Tadwin Online)

"Jangan lihat siapa yang menyampaikan,
tapi lihat apa yang disampaikannya"
(Ali bin Abi Tholib r.a)

(Bagian Ke-40)

Bissmillaahirrahmaanirraahiim
Assalaamu’alaikum wr. Wb

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,
Washsholaatu wassalaamu
’Alaa asyrofil ambiyaai wal mursaliin
Wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi aj-maiin,
Amma ba’du

Sobat Netizen Rohimakumulloh


^RUKUN KELIMA (fi’li): _*RUKUK DENGAN TUMA’NINAH
@Cara Ruku’ menurut Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ”…dengan meletakkan telapak tangan di lutut sampai persendian yang ada dalam keadaan thuma’ninah (tidak tergesa-gesa) dan tenang.” (HR. Ad Darimi no. 1329. shahih).

@Perintah ruku’ secara tuma’ninah, diceritakan dari Abu Huroiroh r.a dalam hadits yang panjang, hadits musii’ sholatuhu (orang yang jelek shalatnya

>Nabi _shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk masjid, maka masuklah seseorang lalu ia melaksanakan shalat. Setelah itu, ia datang dan memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab salamnya.

>Beliau berkata, _“Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Lalu ia pun shalat dan datang lalu memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

>Beliau tetap berkata yang sama seperti sebelumnya, _“Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Sampai diulangi hingga tiga kali.

>Orang yang jelek shalatnya tersebut berkata, _“Demi yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan shalat sebaik dari itu. Makanya ajarilah aku!”

>*Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengajarinya dan bersabda,* “Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. ^TSUMMA ARKA’ H̬ATTA TATHMA`INNA ROOKI’AAN / _Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’.

_>Lalu bangkitlah dan beri’tidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud.

>Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397).

^^^^^
*#BAGAIMANA POSISI RUKU’#
@Rasululullah Sholallohu ‘Alaihi wasalah_ memberi contoh bagaimana ruku’ yang benar, sebagai berikut:
*^Menaruh tapak tangan di atas lutut sambil menggenggamnya;
*^Merenggangkan jemarinya;
*^Punggung rata atau lurus (tidak terlalu bungkuk).
*^Posisi kepala lurus, tidak mendongak dan tidak menunduk, mata lurus ke tempat sujud.

@Rasululullah Sholallohu ‘Alaihi wasalah_ bersabda: _“Apabila ruku’, letakkanlah tapak tanganmu di atas lutut, lalu renggangkan jemari dan diamlah, sehingga anggota tubuh terletah pada posisinya.” _ (HR. Ibnu Hibban)

@Dalam hadits yang lain: _“Apabila ruku’, letakkanlah tapak tangan di atas lutut, luruskan punggung dan kokohkan ruku’.” _ (HR. Ibnu Majah : 169, Abu Dawud : 731)

@Dari ‘Aisyah r.a. mengatakan: “Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam  jika ruku’, tidak mengangkat kepalanya dan tidak menundukkannya sampai ke bawah, tetapi pertengahan antara itu (lurus antara kepala dengan punggung).” _ (HR. Imam Muslim)

@Dari Salim Al-Barrod, ia berkata: Kami beserta ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshori mendatangi Abu Mas’ud, lalu kami mengatakan kepadanya : “Ceritakanlah kepada kami mengenai shalat Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi Wassalam lalu dia berdiri di hadapan kami – di dalam masjid – lalu ia bertakbir dan ketika ruku’, ia meletakkan kedua tangannya pada kedua lututnya dan jari-jarinya di bawah lutut. Ia merenggangkan kedua sikunya sehingga setiap anggota tubuhnya menjadi tegak, (lalu berdiri atau bangkit dari ruku’) sambil mengucapkan ‘sami’allaahu li man hamidah’.” _ (HR. Imam Nasa’i dan Abu Dawud)

@Dari Anas rodhiyallohu ‘ahuma sesungguhnya Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wasalam bersabda kepadanya: “Hai anakku, jika kamu melakukan ruku’, letakkanlah kedua telapak tanganmu pada kedua lututmu, renggangkan antara jari tanganmu dan jauhkanlah kedua (siku) tanganmu dari kedua sisi pinggangmu.” (HR. Imam Thobroni _rahimahullah ta’ala)

^^^^^
*#DARI RUKU’ TURUN UNTUK SUJUD#
@Saat turun sujud dari ruku’ mana yang di dahulukan, “tangan atau lutut”. Para ulama terjadi i’tilaf, mana yang harus didahulukan, lutut atau tangan.

^Pendapat pertama, Tangan yang didahulukan
>Dari Ibnu Umar r.a, berkata: ^WA KAANA YADHO’U YADAIHI ‘ALAAL ARDHI QOBLA RUKBATAIHI / _”BeliauSholallohu ‘Alaihi Wasalam, *meletakkan kedua tangannya diatas tanah sebelum kedua lututnya”_
[HR. Ibnu Khuzaimah (1/76/1); Ad Daroquthni (131); Al Baihaqi (2/100); Al Hakim (1/226). Al hakim mengatakan hadits ini shahih sesuai dengan kritria Sahih Muslim]

>Dalam hadits yang lain: ^IDZAA SAJADA `AH̬ADUKUM FALAA YABRUK KAMAA YABRUKUL BA’IIRU / “Janganlah salah satu kalian turun untuk sujud sebagaimana bentuk turunnya unta ketika hendak menderum.” (HR. Abu Daud no. 840 dan An Nasai no. 1092. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

*>Kemudian ditambahkan: ^ WALYADHO’ YADAIHI QOBLA RUKBATAIHI / “Hendaknya dia letakkan tangannya sebelum lututnya.”

^Pendapat kedua, Lutut yang didahulukan
*>Dari Anas r.a, beliau berkata: ^ROAITU ROSULULLOHI SHOLALLOHU ‘ALAIHI WASALAM, AN H̬ATHO BITTAKBIIR, FASABAQOT RUKBATAHU YADAIHI / ”Saya telah melihat Rosululloh Sholallohu ‘’Alaihi Wasalam turun (untuk sujud) sambil takbir, dan kedua lutut beliau mendahului kedua tangannya.” [HR. Ad Daroquthni (132); Al Hakim (1/226); Al Baihaqi (2/99)]

*>Dalam Hadits yang lain: ^IDZAA SAJADA `AH̬ADUKUM FALAA YABRUK KAMAA YABRUKUL BA’IIRU / “Janganlah salah satu kalian turun untuk sujud sebagaimana bentuk turunnya unta ketika hendak menderum.” (HR. Abu Daud no. 840 dan An Nasai no. 1092. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

*>Kemudian ditambahkan: ^ WALYADHO’ RUKBATAIHI QOBLA YADAIHI / “Hendaknya dia letakkan lututnya sebelum tangannya.”

@Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,  “Adapun shalat (ruku’ turum kr sujud) dengan kedua cara tersebut maka diperbolehkan dengan kesepakatan ulama, kalau dia mau maka meletakkan kedua lutut sebelum kedua telapak tangan, dan kalau mau maka meletakkan kedua telapak tangan sebelum kedua lutut, dan shalatnya sah pada kedua keadaan tersebut dengan kesepakatan para ulama. Hanya saja mereka berselisih pendapat tentang yang afdhal.”  (Majmu’ Al Fatawa, 22: 449).

@Pendapat yang paling baik, manakah yang mesti didahulukan apakah tangan ataukah lutut, ini menimbang pada kondisi masing-masing orang. Mana yang lebih mudah baginya, itulah yang ia lakukan. Ada orang yang berat badannya, ada orang yang ringan. Intinya, tidak ada hadits shahih yang marfu’ -sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang membicarakan hal tadi. (Lihat Shifat Shalat Nabi karya Syaikh Abdul ‘Aziz Ath Thorifi, hal. 129).***

(In Syaa Alloh Bersambung)

Wall├┤hu a’lam bishshowab
Al haqqu min robikum
Nas-alulloh as-salamah wal ‘afiyah

Wassalamu’alaikum warohmatull├┤hi wabarokatuh
*^(posting : Hamhas)^

0 komentar:

Posting Komentar