Selasa, 10 November 2020

SHOLATLAH SEBELUM DISHOLATI BAG. 38

(Syarat Rukun Sholat-4)

_ www.hamhas095.blogspot.com
(Dakwah Bit-Tadwin Online)

"Jangan lihat siapa yang menyampaikan,
tapi lihat apa yang disampaikannya"
(Ali bin Abi Tholib r.a)

(Bagian Ke-38)

Bissmillaahirrahmaanirraahiim
Assalaamu’alaikum wr. Wb

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,
Washsholaatu wassalaamu
’Alaa asyrofil ambiyaai wal mursaliin
Wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi aj-maiin,
Amma ba’du

Sobat Netizen Rohimakumulloh

^RUKUN KEEMPAT (qouli): _*MEMBACA AL FATIHAH DISETIAP ROKA’AT_
^^^^^
*#TIDAK ADA SHOLAT TANPA AL FATIHAH.
@Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ^LAA SHOLAATA LIMAN LAM YAQRO`A BIFAATIḪATIL KITAAB / “Tidak ada shalat (artinya tidak sah) orang yang tidak membaca Al Fatihah.” (HR. Bukhari no. 756 dan Muslim no. 394, dari ‘Ubadah bin Ash Shomit).

@Dalam hadits yang lain, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: _“Barangsiapa yang shalat tidak membaca ummul Qur’an (Al-Fatihah), maka shalatnya tidak sempurna.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim : I : 168)

^^^^^
*#MEMBACA TA’AWWUDZ.
@Membaca Ta’awudz pada raka’at pertama, Menurut pendapat yang lebih kuat, ta’awwudz hanya ada pada rakaat pertama setelah membaca do’a ifittah, sebelum membaca surat al Fatihah, karena inilah yang dituntunkan dalam hadits yang membicarakan tentang perintah membaca ta’awudz.

>Dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri, beliau berkata:,
^KAANA ROSULULLOH SHOLALOHU ‘ALAIHI WASALAM, IDZAA QOOMA ILAASH-SHOLAATI BILLAILI KABBARO TSUMMA YAQUULU: (“Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai shalat di malam hari, beliau bertakbir lantas mengucapkan,),

^SUBHAANAKALLAHUMMA WA BI HAMDIKA WA TABAAROKASMUKA WA TA’ALA JADDUKA WA LAA ILAHA GHOIRUK (Maha Suci Engkau Ya Allah, aku memuji-Mu, Maha Berkah Nama-Mu. Maha Tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau).”

>Lalu beliau mengucapkan, ^ALLAHU AKBAR KABIIRO”. Kemudian membaca, ^A’UDZU BILLAHIS SAMII’IL ‘ALIIM, MINASY SYAITHOONIR ROJIIM MIN HAMZIHI WA NAF-KHIHI WA NAFTSIH (aku berlindung kepada Allah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui dari gangguan syaitan yang terkutuk, dari kegilaannya, kesombongannya, dan nyanyiannya yang tercela).”  (HR. Tirmidzi no. 242 dan Abu Daud no. 775. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

>Begitu juga dalam keterangan hadits lainnya menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung membaca Al Fatihah ketika bangkit dari rakaat kedua.  Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata,

^KAANA ROSULULLOH SHOLALOHU ‘ALAIHI WASALAM, IDZAA NAHAZHO MINAR-ROK’ATIN-NAATS-TAANIYATIS TAFTAH̬AL QIROO`ATABI (ALHAMDULILLAHI ROBBIL’AALAMIIN) WALAM YASKUT / “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bangkit ke rakaat kedua, beliau memulai dengan membaca  - alhamdulillahi robbil ‘aalamiin -, tidak diam sejenak sebelum itu.” (HR. Muslim no. 599).

*>Imam Asy Syaukani berkata, “Hadits di atas menunjukkan bahwa tidak disyari’atkan untuk diam sebelum memulai bacaan di rakaat kedua. Begitu pula tidak disyariatkan untuk membaca ta’awudz pada rakaat kedua. Rakaat selanjutnya sama dengan hukum rakaat kedua.” _ (_Nailul Author, 3: 233)

>Namun pendapat dari Al Hasan Al Bashri, ‘Atho’, Ibrahim An Nakho’i, yang menganjurkan membaca pada setiap raka’at. Mereka bersandar pada dalil dengan keumuman yang ada pada (QS. An Nahl [16]:98) tadi,  ^FA IDZAA QORO`TAL-QUR’AANA FASTA ’IDZ BILLAAHI MINASY-SYAITHOONIR-ROJIIM. / “Apabila kamu (Muhammad) membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.”_

>Bacaan ta’awwudnya bisa dengan mencukupkan membaca, ^A’UDZU BILLAHI MINASY SYAITHOONI MINASY SYAITHONIR ROJIIM / ”Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” Hal ini didasarkan kepada dalil kemumuman (QS. An Nahl [16]:98) tersebut.

>Ibnu Taimiyah berkata, _”Jika seseorang meninggalkan membaca ta’awudz di rakaat pertama, maka  hendaklah ia membacanya di raka’at kedua.” _
(Kitab Shifatish Sholah min Syarhil ‘Umdah Ibnu Taimiyah, hal. 97; Manhajus Salikin wa Tawdhihil Fiqhi fid Diin, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di).

^^^^^
#MENGAWALI DENGAN BACAAN “BASSMALLAH”. JAHR APA SIRR?.
@Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: _“Ketika kamu membaca alhamdu, hendaklah kamu membaca bismillaahir rohmaanir rohiim.” _ (HR. Ad-Daruquthni).

@Para ulama masih terjadi ikhtilaf atau berbeda pendapat tentang membaca basmalah (bismillahirrahmanirrahim) diawal surat al Fatihah dalam shalat fardlu jahr (yaitu maghrib, isya’ dan subuh), secara “Sirr atau Jahr”

@Perbedaan ini disebabkan,  perbedaan pandangan apakah basmalah itu termasuk bagian dari Surah Al Fatihah (7 ayat surah al-fatihah), atau sebagai pembuka Surah Al Qur’an (kecuali Surah at Taubah)

^Pendapat Pertama, Basmalah itu *tidak dikeraskan/sirr bacaannya dalam shalat jahr.*

>Pendapat ini dari para khalifah yang empat (Al Khulafa' Ar Rasyidun) dan sekelompok ulama salaf (dahulu) dan ulama kholaf (kemudian), seperti  ulama madzhab Abu Hanifah, Sufyan Ats Tsaury dan Ahmad ibn Hanbal.

>Sandaran dalilnya Hadits dari Anas ibn Malik r.a yang mengatakan : "Aku telah mengerjakan shalat di belakang Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wasalam, Abu Bakr, 'Umar dan 'Utsman, namun mereka mengawalinya dengan (langsung) membaca Alhamdulillahi rabbil 'alamin."  (HR. Bukhari dan Muslim).


^Pendapat Kedua:  Basmalah itu *dikeraskan/Jahr bacaannya dalam shalat Jahr, baik ketika membaca surah Al Fatihah dan surah yang lainnya.

*>Pendapat Ini adalah pendapat Imam Syafii beserta ahli qiroot Mekah dan Kufah.” Sebab itu menurut mereka "Basmalah" itu dibaca dengan suara keras dalam salat (Jahr).

>Sandaran Haditsnya,dari Abu Hurairah r.a di mana beliau pernah mengerjakan shalat dengan menjaharkan basmalah, dan seusai itu ia mengatakan : "Sesungguhnya aku adalah yang paling mirip di antara kalian dengan shalat Rasulullah Sholalohu ‘Alaihi Wasalam." (HR. An Nasa’iy, Ibn Hubban dan Al hakim).

>Dalam hadits yang lain, dari Abu Hurairah r.a, bahwa “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam jika mengimami orang-orang, beliau men-jahr-kan bacaan bismillahir rahmanir rahim” (HR. Al Baihaqi 2186).

^Pendapat Ketiga : Basmalah *tidak dibaca sama sekali, baik secara jahar maupun sirr.

>Ini adalah pendapat Imam Malik, beserta ahli qiraat dan fuqoha Madinah, Basrah dan Syam dan juga pendapat Imam Abu Hanifah dan pengikut-pengikutnya.

>Sandaran Haditsnya, dari 'Aisyah r.a,  Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi Wassalam  mengawali shalatnya dengan takbir dan membaca Alhamdulillah rabbil 'alamin (HR. Muslim).

>Hadits Dari Anas r.a, bahwa: ”Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wassalam  dan Abu Bakar dan ‘Umar dan Usman, semuanya *memulai bacaannya dengan “al-hamdu lillaahi robbil ‘aalamin”. (HR.Tirmidzi, hadits no. 246)

@Mufassir Ibn Katsir terhadap ikhtijaf ini mengatakan: ”Demikianlah dasar-dasar rujukan pendapat para imam mengenai masalah ini, dan tidak terjadi perbedaan pendapat, karena mereka telah sepakat bahwa shalat bagi orang yang men-jahr-kan atau yang men-sirr-kan basmalah adalah tetap sah. Segala Puji bagi Allah”.  [Tafsir Ibnu Katsir 1, hal. 20]**

(In Syaa Alloh Bersambung)

Wall├┤hu a’lam bishshowab
Al haqqu min robikum
Nas-alulloh as-salamah wal ‘afiyah

Wassalamu’alaikum warohmatull├┤hi wabarokatuh
*^(posting : Hamhas)^

0 komentar:

Posting Komentar