Kamis, 26 November 2020

Sedikit celotehan dari hamba yang fakir ilmu

Kenapa sih mesti peduli amat dengan kata2 orang?

Sedikit2 pencemaran nama baik, mengolok2, dll. Ntah ustadz, ntah presiden, ntah siapa lah jadi objeknya.

Apa ini yg merefleksikan kita sebagai negara dengan mayoritas penduduk berpredikat sebagai "M"? Tulisan ini hanya sebuah renungan.

Masih ingat sang pengemis Yahudi tua nan buta yg tiap hari maki2 Nabi Muhammad SAW karena tidak mau percaya atas kenabian beliau? Tapi oleh beliau selalu dibalas dgn kebaikan, diberi makan, diberi perhatian di saat tidak ada orang lain lagi yang peduli dengan si tua nan buta.

Hingga setelah Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar As-Shiddiq sebagai pemimpin berikutnya menemui si Yahudi untuk memberikannya makan, dengan tujuan melanjutkan kegiatan keseharian Rasulullah SAW.

Saat hendak memberinya makan, sang Yahudi lantas mengeluh, "Kau pasti bukan orang yg biasa memberiku makan."

"Memangnya dia seperti apa?", tanya sang khalifah.
"Dia selalu memilihkan makanan yg terbaik dan menyuapiku."

"Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa dialah orang yg selalu kau maki setiap hari. Dan orangnya baru2 ini meninggaldunia."

Pecah tangis sang Yahudi karena tidak sempat berterima kasih dan meminta maaf. Tidak hanya itu, diapun bersyahadat dan memeluk agama Islam.

That is Dakwah bil hal. Say it and give examples!!!

Nggak perlu bertarung mati2an mendambakan negara khilafah atau sejenisnya.

Sudah terlalu banyak prasangka2 buruk terhadap sesama kita yg membuat kita tidak pernah bersatu.

Kita lebih sibuk mempertahankan dan memperebutkan imej. Kata-kata pujian dan pengakuan orang begitu penting.

"Penjarakan!!!"
"Laporkan!!!"
"Bawa ke ranah hukum!!!"

"Guruku orang hebat!"
"Nggak kok, dia orang biasa-biasa saja! Nggak usah diagung2kan"

"Presidenku berprestasi!"
"Hahh, Siapa bilang!!!"

"Gubernurku luar biasa!"
"Hahaha, luar biasa dari Hongkong?"

Itulah yg kita sibukkan sekarang?

Kalau iya, OK, I got it. Tapi mudah2an tidak ya. Hang on! Tapi ini faktaa. . . Bener2 terjadi. . . Tapi di negeri somewhere nan jauh sana, wkwkwkw

Biasanya orang yg mengharapkan pujian adalah orang yang bermasalah dengan "self-esteem" alias menghargai dirinya sendiri.

Power atau kekuasaan yang sesungguhnya bukan saat kau punya kedudukan, pengikut yang banyak, atau uang yang banyak. Tapi power yg sesungguhnya adalah saat kau dekat dengan Yang Maha Powerful.

Di saat kau benar2 mengenal-Nya, you will feel that you are just nothing, tetapi dunia ini lantas akan tunduk padamu. Namun di saat yg sama, kau tidak butuh akan hal itu. Di situlah Qona'ah. Regardless of what you already have, you'll feel sufficient and thankful. But. . .

Lihatlah ke hatimu. Siapa tahu masih ada benih-benih rasa sombong merasa bahwa dirimulah yg paling berhak mendapatkan surga, padahal kalau ditanya, Allah itu siapa, kau akan jawab, "Jangan permasalahkan imanku!"

Lihatlah ke dirimu lebih dalam. Siapa tahu masih ada bibit-bibit kedengkian dimana kau merasa hanya orang sepertimu lah yg berhak menginjakkan kaki di dunia ini.

"Kuntum khoero ummatin...", maka buktikanlah itu. . .

We do not need numbers. Berlomba-lomba dalam kebaikan itu bukan tentang seberapa banyak orang yg berstatus sebagai pemeluk agama "A", "I", melainkan bagaimana kita menebar kebermanfaatan. Senyuman bahkan disetarakan dengan shodaqoh.

Bagaimana memperlakukan sesama adalah cerminan ketentraman hati yg kita dapatkan atas usaha kita mendekat kepada sang kholik.

Kalau terus saling memaki, I bet you still mess up your ibadah.

Anyway, pada akhirnya, you are who you are. Not what others say who you are. Not even what I say who you are.

Salam damai saudaraku semua!!!

#Bagikan kalau bermanfaat!!! Thanks😊

0 komentar:

Posting Komentar