Sabtu, 24 Oktober 2020

Tauhid Teragung

 Tauhid teragung serta inti, jantung, dan permata tauhid adalah meng-Esa-kan nama Allah dan mengenal-Nya.

Seorang arif yang sudah sampai pada hakikat ditanya tentang nama teragung Allah. Ia menjawab:
 
Engkau mengucap “Allah,” sedang diri engkau tidak berada di dalamnya. Barang siapa mengucap “Allah” dari makhluk, ia mengucapkannya disertai bagian dari titiknya, padahal hakikat tidak dapat dicapai dengan bagian diri kita.
Barang siapa mengucap “Allah” dengan huruf, ia tidak benar-benar mengucap dan menyebut “Allah”. Allah berada diluar diri, huruf, pemahaman, indra, ilustrasi, dan ilusi. Hanya saja, dengan karunianya Dia menerima hal itu dari kita dan memberi ganjaran atasnya, sebab tidak ada jalan lain untuk berzikir dan menauhidkan Allah Yang Tidak Terbatas kecuali dengan itu sesuai dengan kemampuan manusia melalui jangkauan pengetahuannya.

Adapun kaum arif dan ulama berkedudukan khusus tidak rela berzikir dengan cara seperti itu: “Tiada seorang pun diantara kami melainkan mempunyai kedudukan tertentu yang sudah diketahui.”  
Sungguh benar ucapan seorang pujangga:
 
Wujud mereka fana dalam wujud-Nya
Dia suci dari bentuk gambaran dan rupa
Tidak ada yang menyerupai-Nya di mana dan bagaimana pun
Kapan pun pertanyaan tentag Batasan-Nya lenyap berlalu
Memang menakjubkan bahwa wujud-Nya
Di luar apa yang tampak dan betul-betul samar.
 
Sebenarnya tidak ada yang berzikir  mengingat Allah kecuali Allah. Tidak ada yang  mengenal- Nya selain diri-Nya. Tidak ada yang menauhidkankan-Nya secara benar kecuali Dia sendiri.

Zikir Allah terhadap diri-Nya sebagaimana yang difirmankan-Nya,

“Zikir Allah adalah lebih besar.” Zikir Allah terhadap diri-Nya lebih besar, lebih agung, dan lebih sempurna daripada zikir selain-Nya kepada-Nya.

Makrifat-Nya adalah seperti yang difirmankan-Nya, “Tidaklah mereka mengenal Allah sebagaimana ada-Nya.”

Hanya Dia yang mengenal kesempurnaan zat-Nya dan keagungan sifat-Nya. Untuk menjangkau sebagian makhluk-Nya saja, makhluk tidak mampu, apalagi menjangkau sifat-Nya.

Mengenai tauhid Allah, Dia berfirman, “Allah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Dia.”

Jadi Dialah yang paling tahu bagaimana bertauhid yang sesungguhnya dan sempurna.

Tidaklah makhluk mengesakan-Nya melainkan sesudah Dia mengesakan diri-Nya. Dia mencurahkan sedikit cahaya tauhid-Nya kepada para malaikat. Keberadaan Allah dipahami dengan cahaya tauhid-Nya, bukan dengan tauhid itu sendiri.

Setiap arif pun tidak mampu secara sempurna mengenal-Nya, namun makrifat memang terdapat dalam dirinya.

Ini antara makrifat darurat dan makfrifat puncak.
Makrifat darurat dihadapan makrifat puncak ibarat lentera di hadapan matahari.

Karena itu, tauhid paling sempurna adalah tauhid yang paling tertanam dalam akal, paling kuat sebagai hujah, paling jelas dalam pikiran, paling kukuh dalam keyakinan, dan paling terang dalam argumen.

Bertaklid dalam tauhid menjauhkan diri dari tambahan karunia, tidak bermanfaat, dan tidak berfaedah.
Taklid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dalil dan penjelasannya.
Yang rela dengan taklid  hanya orang dungu, bebal, bodoh, terhijab, dan terlantar.
Semoga Allah Swt. melindungi kita agar tidak terhijab, oleh sifat-sifat buruk tersebut dan semoga Dia menjadikan kita orang berilmu memahami, meneliti, dan akhirnya mengetahui.

Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda,

“Hati ada empat macam:

(1) hati bersih yang berisi lentera terang. Inilah hati orang beriman, (2) Hati yang hitam dan terbalik. Inilah hati orang kafir,
(3) hati yang tertutup dan terhalang. Inilah hati orang munafik, dan
(4) hati yang berisi campuran antara keimanan dan kemunafikan; Iman didalamnya ibarat pohon yang disirami air bagus, sementara kemunafikan di dalamnya ibarat bisul berisi nanah bercampur darah. Mana diantara keduanya yang dominan, itulah yang menguasainya.”

Sumber : Buku Terapi Makrifat “Rahasia Kecerdasan Tauhid”
Oleh : Syeikh Ibn ‘Athaillah al-Sakandari

0 komentar:

Posting Komentar