Selasa, 06 Oktober 2020

Si Penuduh dan Pencela Allah

 

Pada zaman jahiliah, berkembang anggapan bahwa bulan Shafar adalah bulan sial atau dikenal dengan istilah tasyâ-um. Bulan yang tidak memiliki kehendak apa-apa ini diyakini mengandung keburukan-keburukan sehingga ada ketakutan bagi mereka untuk melakukan hal-hal tertentu. Pikiran semacam ini juga masih menjalar di zaman sekarang. Sebagian orang menganggap bahwa hari-hari tertentu membawa keberuntungan, sementara hari-hari lainnya mengandung kesialan.

Padahal, seperti bulan-bulan lainnya, bulan Shafar netral dari kesialan atau ketentuan nasib buruk. Jika pun ada kejadian buruk di dalamnya, maka itu semata-mata karena faktor lain, bukan karena bulan Shafar itu sendiri. Sesungguhnya kebaikan dan keburukan, kenikmatan dan musibah, semuanya adalah takdir Allah. Dia menciptakan apa saja yang Dia kehendaki dan inginkan. Tidaklah seorang hamba ditimpa keburukan atau hukuman, kecuali hal itu merupakan takdir Allah. Kecuali Allah telah menetapkan hal itu untuknya. Musibah ini dikarenakan dosa mereka dan kemaksiatan mereka.   Firman Allah swt dalam QS. Asy Syuura: 30

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” [QS. Asy-Syura: 30].

Waktu adalah makhluk Allah Ta’ala. Dalam waktu tersebut amalan anak Adam terjadi. Setiap waktu yang diisi oleh seorang mukmin untuk menaati Allah, maka waktu-waktu tersebut adalah waktu yang berkah. Dan waktu-waktu yang diisi oleh seorang hamba dengan kemaksiatan kepada Allah, maka itulah waktu yang buruk. Kesialan hakikatnya adalah maksiat kepada Allah Ta’ala. Dosa dan maksiat membuat Allah murka. Jika Allah murka kepada hamba-Nya, maka ia akan mengalami kesulitan di dunia dan akhirat. Sebagaimana ketaatan mendatangkan ridha Allah. Apabila Allah ridha dengan hamba-Nya, maka ia akan berbahagia di dunia dan akhirat.

Kemaksiatan menyebabkan kesialan atau keburukan bagi si pelaku dan untuk orang lain. Karena ia dalam keadaan tidak aman dari adzab. Dan adzab ini bisa jadi berdampak kepada masyarakat luas. Terlebih lagi apabila masyarakat tersebut tidak melakukan nahi mungkar. Demikian juga tempat-tempat yang digunakan untuk bermaksiat, hendaknya seorang hamba menghindari tempat-tempat tersebut. Karena dikhawatirkan akan turun adzab di sana. Sebagaimana sabda Nabi saw kepada para sahabatnya tentang negeri Tsamud.

إِنِّي أَخْشَى أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَهُمْ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِمْ

“Aku takut kalian ditimpa musibah yang pernah menimpa mereka, maka janganlah kalian masuk!”

Apa yang menimpa kita berupa hal-hal yang tidak disukai, itu adalah karena dosa-dosa kita sendiri. Bukan karena waktu dan tempat yang sial. Karena itu, salahkanlah diri kita sendiri.

Siapa yang merasa sial karena bulan, hari, jam, atau sesuatu yang lain, maka pada hakikatnya dia telah menuduh Allah. Dia telah mencela Allah. Sebagaimana sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, Nabi saw, Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:

يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ بِيَدِي الْأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Anak adam menyakiti-Ku dengan dia mencela masa, padahal Aku adalah masa, di tangan-Ku lah segala urusan. Akulah yang membolak-balikkan siang dan malam.”

Tidak ada istilah hari dan bulan sial, yang ada adalah apakah perbuatan kita membawa maslahat atau tidak, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Inilah momentum baik untuk lebih menghargai waktu, dengan membangun optimisme dan gairah menghamba kepada Allah setulus-tulusnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendobrak keyakinan jahiliyah. Bahkan sejak beliau belum diangkat menjadi Nabi, beliau tidak percaya dengan keyakinan jahiliyah semacam itu. Maka beliau menikah dengan Khadijah di bulan Shafar. Apa yang terjadi? Keluarga beliau berjalan harmonis. Keluarga beliau menjadi teladan sepanjang zaman. Khadijah tampil sebagai istri yang mendukung penuh perjuangan Rasulullah dan dakwah Islamiyah.

Di samping itu, Rasulullah juga menikahkan Fatimah dengan Ali di bulan Shafar. Dan keduanya menjadi keluarga teladan. Sakinah mawaddah wa rahmah. Bahkan dari keduanya, lahirlah keturunan Rasulullah yang jumlahnya sangat banyak hingga kini. Kedua keluarga ini, seringkali disebut dalam doa karena keteladanannya. Di samping doa barakah yang diajarkan Rasulullah, sebagian ulama mendoakan pengantin dengan doa:

اللهم الف بينهما كما الفت محمد و خادجة الكبرى . اللهم الف بينهما كما الفت علي و فاطمة الزهراء

Ya Allah, persatukan keduanya sebagaimana Engkau persatukan Muhammad dan Khadijah al Kubra. Ya Allah, persatukan keduanya sebagaimana Engkau persatukan Ali dan Fatimah az Zahra.

Rasulullah juga berangkat hijrah ke Madinah pada bulan Shafar. Tepatnya pada 27 Shafar. Dan kita tahu, dari hijrah itu kemudian sejarah Islam berubah. Peradaban Islam terbentuk di Madinah dan dari sana dakwah menyebar ke seluruh dunia. Islam dimenangkan Allah dengan futuhnya Makkah, lalu manusia berbondong-bondong masuk Islam.

Rasulullah juga menang perang Khaibar pada bulan Shafar. Dengan kemenangan yang gemilang atas orang-orang Yahudi Khaibar. Mereka sedang menyusun kekuatan untuk menghancurkan Madinah. Namun Allah memenangkan pasukan kaum muslimin hingga Yahudi tak bisa bebas lagi untuk mengkhianati umat Islam di masa Rasulullah.

Semoga kita semua menjadi peribadi-pribadi yang senantiasa dianugerahi kekuatan untuk menghormati waktu-waktu yang Allah anugerahkan kepada kita untuk perbuatan dan pikiran yang berfaedah, membawa maslahat, baik di dunia maupun di akhirat.

 

 

0 komentar:

Posting Komentar