Sabtu, 31 Oktober 2020

SHOLATLAH SEBELUM DISHOLATI BAG. 30

(Shof Sholat Era Pandemi)

_ www.hamhas095.blogspot.com
(Dakwah Bit-Tadwin Online)

"Jangan lihat siapa yang menyampaikan,
tapi lihat apa yang disampaikannya"
(Ali bin Abi Tholib r.a)

(Bagian Ke-30)

Bissmillaahirrahmaanirraahiim
Assalaamu’alaikum wr. Wb

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,
Washsholaatu wassalaamu
’Alaa asyrofil ambiyaai wal mursaliin
Wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi aj-maiin,
Amma ba’du

Sobat Netizen Rohimakumulloh

@Ketika dimasa pandemi covid ini, banyak orang memperbincangkan mengenai pelaksanaan sholat, khususnya pada sholat berjamaah yang dilakukan dengan menjaga jarak pada shaf sholat yang direnggangkan, sepertinya “sholatnya menjadi tidak sah”, padahal sahnya sholat harus dipenuhinya Rukun, Wajib dan Syarat sah sholat, sebagaimana dibahas pada episode sebelumnya.

@Terdapat dua perkara shaf sholat yang harus kita bedakan, yaitu: Meluruskan shof (taswiyatus sufuf), dan Menempelkan kaki di barisan shof (ilzaqus shof) atau menempelkan pundak untuk merapatkan shof.

^^^^^
#MELURUSKAN SHOF (taswiyatus sufuf).
 @Meluruskan shof dalam sholat berjamaah “hukumnya wajib”, sebagaimana pendapat ulama yang paling kuat (rajah) dalam hal ini, yang bersandar pada hadits sebagai berikut:

^Perintah Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasalam, *^SAWWUU SHUFUUFAKUM, FAINNA TASWIYATASH-SHOFFA MIN TAMAAMISH-SHOLAAH / ”Luruskanlah shof-shof kalian, karena lurusnya shof adalah kesempurnaan sholat” (HR. Bukari no. 690 dan Muslim no 433).

^Dalam riwayat lain: ^SAWWUU SHUFUUFAKUM, FAINNA TASWIYATASH-SHUFFUUFI MIN IQOOMATISH-SHOLAAH / ”Luruskanlah shof-shof kalian, karena lurusnya shof adalah bentuk menegakkan sholat (berjamaah)” (HR. Bukari no. 723). Atas hadits para ulama menghukumi “lurusnya shaf dalam sholat berjamaah itu adalah wajib”.

*^Dari sahabat Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu, bercerita:
>“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meluruskan shaf kami, seakan-akan sedang meluruskan barisan busur panah, hingga beliau melihat bahwa kami sungguh telah terikat darinya.

>Kemudian pada suatu hari beliau keluar lalu berdiri hingga hampir bertakbir. Beliau melihat seorang jama’ah sholat yang menonjolkan dadanya dari barisan shaf.

>Lantas beliau menegur: ^’IBADAADALLOHI LATUSAW-WUNNU SHUFUU FAKUM, AU LAYUKHOO LIFANNALLOHU BAINA WUJUUHIKUM / _“Wahai hamba-hamba Allah, luruskan shaf kalian, jika tidak maka Allah akan membuat hati kalian berselisih.” _ (HR. Muslim).

>Alloh Ta’ala mengingatkan dalam hadits tersebut,  _”jika tidak maka Allah akan membuat hati kalian berselisih.”  Mengisyaratkan bahwa meluruskan shof itu wajib, karena kalau tidak hati-hati kita akan berselisih dan itu perbuatan dosa. Hal ini yang ditulis oleh Imam Bukhori dalam Shahih Bukhori dalam “Bab Berdosa bagi orang tidak meuluruskan shofnya.”

^^^^^
#MENEMPELKAN KAKI DI BARISAN SHOF (ilzaqus shof)
@Merapatkan kaki di barisan shof atau menempelkan pundak untuk merapatkan shof, memiliki hukum yang berbeda dengan “meluruskan shof” (yang hukumnya wajib), karena menempelkan kaki dibarisan shof atau menempelkan pundak untuk merapatkan shaf itu adalah bentuk ikhtiyar untuk meluruskan shof.  

@Hal ini merujuk pada pernyataan sahabat Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu, yang menyatakan : _“Lantas aku melihat orang-orang (para sahabat Nabi) *menempelkan pundak ke pundak temannya serta mata kaki ke mata kaki temannya.” _ (HR. Bukhori dan Muslim)

@Syekh Muhammad bin Sholih al Utsaimin _roḫimahulloh_ menjelaskan, ”Menempelkan kaki (dan pundak) dalam shof bukan ibadah yang ditujukan secara mandiri (ibadah li ghoirihi). Sehingga bila shaf sudah lurus dan tidak ada kerengganan tanpa dengan menempelkan kaki, maka tujuan sudah tercapai.. (yaitu lurusnya shof).”

@Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah (no. 18642), dijelaskan: ”Menempelkan kaki ke kaki temannya di barisan shof, hukumnya sunnah (dianjurkan), berdasarkan hadits dari sahabat Nu’man bin Basyir.” (tersebut diatas).

@Menempelkan kaki ke kaki disampingnya dalam shof itu sunnah (kalau lurusnya shof itu wajib), sedang “mencegah bahaya penularan virus corona” itu hukumnya wajib, karena Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasalam, berpesan: ^LAA DHORORO WA LAA DHIROOROR / ”Tidak boleh membahayakan diri sendiri atau orang lain” ( HR Ahmad)

@Dalam syariat Islam, kita diijinkan meninggalkan amalan sunnah, demi terwujudnya amalan yang wajib, sebagaimana Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wasalam, melarang orang sholat sunnah ketika iqomah dikumandangkan. ^IDZAA IQOOMATISH-SHOLAAH, FALAA SHOLAATAN ILLAL MAKTUUBAH / ”Jika iqomah sholat wajib telah dikumandangkan, maka tidak ada lagi sholat selain sholat wajib” (HR Muslim). Meninggalkan “rapatnya shof” dalam sholat berjamaah, demi terwujudnya amalan sholat wajib berjamaah.

@Kalau kita kehilangan sunnah untuk merapatkan shof sholat, kenapa kita tida menggantikan sunnah yang lain yang apabila shof sholatnya rapat sulit bisa dilakukan. Misalnya, sujud yang sempurna adalah sebagaimana yang Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasalam contohkan: ”Mengangkat kedua lengannya dan melebarkannya sehingga jauh dari lambungnya, sampai nampaknya ketiak beliau yang putih dari belakang” (HR. Al Bukhari dan Muslim).   

>”Beliau melebarkan lengannya, sehingga anak kambing bisa lewat di bawah lengan beliau” (HR. Muslim dan Abu ‘Awanah). Posisi sujud seperti ini dijelaskan kedua hadits tersebut, dilakukan bila tidak menganggu orang sholat disampingnya, kalau sholat jamaah dengan shof yang rapat sebaiknya tidak dilakukan, tetapi tetap harus mengangkat siku agar tidak menempel dilantai, karena yang demikian itu dilarang. Wallahua’lam bish showab.*

(In Syaa Alloh Bersambung)

Wallôhu a’lam bishshowab
Al haqqu min robikum
Nas-alulloh as-salamah wal ‘afiyah

Wassalamu’alaikum warohmatullôhi wabarokatuh
*^(posting : Hamhas)^

0 komentar:

Posting Komentar