Kamis, 22 Oktober 2020

SHOLATLAH SEBELUM DISHOLATI BAG. 20

SHOLATLAH SEBELUM DISHOLATI
(Menjaga Sholat Sunnah Harian-3)

_ www.hamhas095.blogspot.com
(Dakwah Bit-Tadwin Online)

"Jangan lihat siapa yang menyampaikan,
tapi lihat apa yang disampaikannya"
(Ali bin Abi Tholib r.a)

(Bagian Ke-20)

Bissmillaahirrahmaanirraahiim
Assalaamu’alaikum wr. Wb

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,
Washsholaatu wassalaamu
’Alaa asyrofil ambiyaai wal mursaliin
Wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi aj-maiin,
Amma ba’du

Sobat Netizen Rohimakumulloh

#SHOLAT TAHAJUD (Lanjutan)

#KEUTAMAAN TAHAJUD:
@Bagi yang menegakkan sholat tahajud (sholat malam), Allah Ta’ala  janjikan *4 keutamaan”, sebagaimana  firman-Nya (QS. Al Isyroo’ [17]:79-81):

1). Mengangkatkan ketempat terpuji disisi Alloh, ”Dan pada sebahagian malam, bertahajudlah (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; ^'ASAA AN YAB 'ATSAKA ROBBUKA MAQOOMAN MAHMUUDAA / mudah-mudahan Robb-mu mengangkat ke “Maqoomam-mahmudah (tempat yang terpuji)”.

2). Dibimbing dalam setiap kebaikan. ^ROBBI, ADKHILNII MUDHKHOLA SHIDQIW / _”Ya Robbku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar, ^WA AKHRIJNII MUKHROJA SHIDQIW / _dan keluarkan (pula) aku ketempat keluar yang benar,

3). Diberi kemampuan atau kekuasaan untuk menghadapi gangguan, ^WAJ’AL LII MIL LADUNKA SULTHOONAN NASHIIROO / ”dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan (sebagai) penolong (ku).”

4). Diberi jaminan bahwa kebenaran akan melenyapkan kebathilan, ^JAAA`AL-HAQQU WA ZAHAQOL BAATHILU INNAL BAATHILA KAANA ZAHUUQOO / ”Telah datang kebenaran dan lenyaplah kebathilan. Sesungguhnya yang bathil itu pasti lenyap.”

@Rosululloh sholallohu ‘Alaihi wasalam  bersabda:
>”Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam dan berikanlah makanan serta sholat malamlah diwaktu manusia sedang tidur, supaya kamu masuk Surga dengan selamat.”  (HR Tirmidzi, dari Abdullah bin Salam)

 >”Seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunnat di waktu malam”.  (HR Muslim)

>”Sesungguhnya pada waktu malam ada satu saat (waktu). Seandainya seorang Muslim meminta suatu kebaikan didunia maupun diakhirat kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan memberinya. Dan itu berlaku setiap malam”. ( HR Muslim )

>”Barang siapa mengerjakan shalat Tahajud dengan sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan: 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”

^^^^^
#APAKAH SHOLAT TAHAJJUD HARUS TIDUR DULU?  
@Diantara Ulama terdapat ikhtilaf, / berbeda pendapat tentang syarat bisa disebut sholat tahajud, apakah harus tidur dulu ataukah tidak.

>Abu Bakr Ibnul ‘Arabi  mengatakan :_Tentang makna tahajud ada 3 pendapat:
^Pertama, tidur kemudian shalat lalu tidur lagi, kemudian shalat
^Kedua, shalat setelah tidur.  
^Ketiga, tahajud adalah shalat setelah isya.  

>Beliau (Abu Bakr Ibnul ‘Arabi)  _berkomentar pendapat paling kuat menurut Malikiyah adalah *pendapat kedua, yaitu  “Sholat Tahajud dilakukan setelah tidur*.  (Dinukil dari Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 14/86).

*@Bagi yang dikhawatirkan tidak mampu bangun sebelum subuh untuk tahajud, dianjurkan untuk shalat sebelum tidur. Sekalipun tidak disebut tahajud oleh sebagian ulama, namun dia tetap terhitung melakukan qiyam lail, yang pahalanya besar.

^^^^^
#SHOLAT TAHAJUD KETIKA KONDISI SULIT
@Bermunajatlah pada Allah di akhir malam ketika kondisi begitu sulit. ‘Ali bin Abi Tholib pernah menceritakan,  “Kami pernah memperhatikan pada malam Badar dan ketika itu semua orang pada terlelap tidur kecuali Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Beliau melaksanakan shalat di bawah pohon. Beliau memanjatkan do’a pada Allah hingga waktu Shubuh.”  (HR. Ahmad 1/138).

>Dalam riwayat lain disebutkan, ^ASHBAHA HATTA WAYABKII YUSHOLAA / “Beliau melaksanakan shalat sambil menangis hingga waktu shubuh.” (HR. Ahmad 1/125).

^^^^^
#QODHO’ BILA LUPUT DARI SHOLAT TAHAJUDNYA.
@Bagi yang tidak bisa atau luput dari sholat tahajud karena udzur,  seperti ketiduran atau sakit, maka ia boleh mengqodho’nya di siang hari sebelum Zhuhur.

@Ibunda ‘Aisyah r.a mengatakan, ^ANNA RASULULLOH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM, KAANA IDZAA FAATATHUSH-SHOLAATUL MINAL-LAILI  MIN WAJA’IN AU GHOIRIHI SHOLA MINAN-NAHAARI TSINTAA ‘ASYROTA / “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau luput dari shalat malam karena tidur atau udzur lainnya, beliau mengqodho’nya di siang hari dengan mengerjakan 12 raka’at.” (HR. Muslim no. 746.).

@‘Umar bin Khottob mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang tertidur dari penjagaannya atau dari yang lainnya, lalu ia membaca apa yang biasa ia baca di shalat malam antara shalat shubuh dan shalat zhuhur, maka ia dicatat seperti membacanya di malam hari.” (HR. Muslim no. 747.)**

^^^^^
#SHOLAT TAHAJUD BERJAMAAH DENGAN ISTRI/SUAMI
@Bersyukurlah suami-istri yang selalu saling membangunkan untuk sholat malam, Alloh telah merahmati keduanya untuk melaksanaan ketaatan kepada Alloh Shubhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya.  

>Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata, Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi Wasalam  bersabda, “Allah merahmati seorang suami yang bangun di malam hari lalu shalat dan ia membangunkan istrinya kemudian istrinya shalat. Bila menolak maka ia perciki wajah istrinya dengan air. Allah merahmati seorang istri yang bangun di malam hari lalu shalat dan ia membangunkan suaminya kemudian shalat. Bila suaminya enggan ia perciki wajahnya dengan air mukanya,“  (HR Ahmad, Abu Daud, al-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

>Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:  Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wasalam bersabda: “Jikalau seorang lelaki itu membangunkan istrinya di waktu malam, lalu keduanya shalat atau mengerjakan shalat dua rakaat semua, maka dicatatlah termasuk golongan orang-orang lelaki dan perempuan yang ingat -kepada Allah-.” (HR. Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.)


@Hadits riwayat Ibnu Abbas ini menunjukkan bahwa,  ia (Ibnu Abbas yang saat itu baru berusia 9 tahun) pernah ber-makmum kepada Nabi shalallahu  ‘alaihi wasalam  pada sholat malam, untuk mengetahui bagaimana Nabi shalallahu  ‘alaihi wasalam   mengerjakan sholat malam.

>Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata, “Saya tidur di rumah Maimunah (istri Nabi) dan Nabi sedang di sana malam itu. Kemudian beliau berwudhu dan mendirikan shalat, maka saya berdiri di sebelah kirinya, kemudian Rasulullah memegangku dan menempatkan aku di sebelah kanannya.  Beliau shalat sebanyak 13 rakaat, lalu tidur sampai mengembuskan udara dari mulutnya, dan Nabi jika tidur biasa mengembuskan udara dari mulutnya. Kemudian datang muadzin, maka Nabi keluar dan melaksanakan shalat tanpa berwudhu lagi,“  (HR Bukhari dan Muslim).

@Ada riwayat lain yang menganjurkan suami atau istri melakukan shalat malam bersama. “Barang siapa yang bangun malam dan membangunkan istrinya kemudian mereka berdua melaksanakan shalat dua rakaat secara bersama, maka mereka berdua akan digolongkan ke dalam lelaki-lelaki dan wanita-wanita yang banyak berzikir kepada Allah,“  (HR. Ibnu Majah, al-Nasa’i, al-Baihaqi, dan al-Hakim).

@Salah satu syiar yang pernah diberlakukan Umar bin Khatab RA, adalah shalat tarawih berjamaah. Pelaksanaannya ialah usai shalat Isya secara langsung, tanpa harus ada jeda hingga larut malam.  Kini muncul fenomena*shalat Tahajud berjamaah* yang wakaktunya pada sepertiga malam terakhir.

@Kitab Dhaya’ al-Mashabih, karya Abu Abdurrahman bin Isa al-Batini, mencoba mengupas persoalan ini, bahwa fenomena ini disebut dengan ta’qib. yaitu mengerjakan shalat sunah berjamaah di luar shalat Tarawih.

@Sholat sunnah yang dilakukan secara berjamaah, Musthafa al-Bugha dalam al-Fiqh al-Manhaji ala Mazhabi Imam as-Syafii  menyebutkan empat shalat sunnah yang lebih baik dilakukan, bahkan dianjurkan (mustahab) secara berjamaah, yaitu : _Shalat Idul Fitri dan Idul Adha, Shalat Tarawih, Shalat gerhana matahari dan bulan, dan Shalat Istisqa’.

@Menurut Mazhab Hanafi, hukum ta’qib, seperti shalat Tahajud berjamaah adalah makruh. Ini seperti dinukilkan dari Ibnu Muflih. Ia menyatakan, shalat sunah itu hanya dilakukan berjamaah sekali. Bila hendak melakukannya lagi, cukup tunaikan sendirian.

@Hukum taq’ib berdasarkan pandangan Mazhab Hanbali, ada dua riwayat yang berbeda. Riwayat pertama dari Imam Ahmad menyebutkan hukum shalat seperti tersebut makruh.  Sedangkan, riwayat lain dari Imam Ahmad memberi sinyal bahwa hukum shalat Tahajud berjamaah boleh dilakukan.

@Imam Ahmad, sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Qudamah, pernah mengatakan bahwa hukum shalat Tahajud berjamaah atau sunah lainnya secara berjamaah ialah boleh. Pendapat Imam Ahmad itu merujuk pada pernyataan Imam Malik yang mengatakan, segala perkara yang kembali kepada kebaikan maka tunaikanlah, tetapi jika mengarah pada keburukan, segera tinggalkan.

@Dalam konteks shalat Tahajud berjamaah, Imam Malik (Mazhab Maliki) memilih boleh hukumnya. Muhammad bin al-Hakam menilai, opsi pendapat makruh dari riwayat Ahmad dinyatakan pendapat lama. Mayoritas ulama sepakat hukumnya boleh.  (Rujukannya, riwayat Ibnu Abbas ketika bermakmum sholat malam dengan Nabi SAW ).

@Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ ala syarh al-Muhadzzab: _“Shalat Sunnah dibagi menjadi dua bagian. *Pertama, Shalat yang disunnahkan berjamaah yaitu shalat sunnah ‘ied, shalat gerhana, dan shalat istisqa’, begitu juga shalat tarawih menurut qaul ashah. Kedua, shalat yang tidak disunnahkan berjamaah (munfarid), tapi jika dilaksanakan dengan cara jamaah, maka shalat tersebut tetap sah. Yaitu shalat selain dari bagian pertama di atas.” _ (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzzab, juz 4, hal. 5)

>Selanjutnya dijelaskan: meski shalat tahajud ketika dilakukan secara berjama’ah dihukumi sah, namun dari segi pelaksanaannya secara berjamaah tidak dihitung sebagai pahala berjamaah.

*>Sehingga seseorang yang melaksanakan shalat tahajud dengan berjamaah hanya mendapatkan pahala dari aspek melaksanakan shalat tahajud saja, tanpa mendapatkan pahala lain dari aspek jamaahnya.

*>Tetapi kalau pelaksanan sholat tahajud berjamaah, menjadi sebab disyariatkannya bahwa sholat tahajud harus berjamaah, yang ini dilarang.

@Berdasarkan riwayat di atas, tidak ada dalil yang menetapkan mana yang lebih utama, melakukan shalat malam dengan berjamaah atau sendiri-sendiri.  Jika shalat sendirian lebih khusyuk karena bebas memanjangkan bacaan dan setiap gerakan shalat diperbolehkan.

*>Namun, jika istri meminta agar dapat melakukannya dengan berjamaah dan itu menambah kekhusyukan, silakan lakukan dengan berjamaah.

>Lebih-lebih jika hal itu dapat menambah ketakwaan dan memperkuat tali mawaddah dan rahmah dalam keluarga serta memberikan dampak perubahan akhlak yang mulia berupa menjauhi perbuatan keji dan mungkar maka shalatlah berjamaah. ***

(In Syaa Alloh Bersambung)

Wallôhu a’lam bishshowab
Al haqqu min robikum
Nas-alulloh as-salamah wal ‘afiyah

Wassalamu’alaikum warohmatullôhi wabarokatuh
*^(posting : Hamhas)^

0 komentar:

Posting Komentar