Minggu, 18 Oktober 2020

SANG PAHLAWAN NASIONAL: MAULANA SYAIKH TUAN GURU KYAI MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MADJID

SANG PAHLAWAN NASIONAL: MAULANA SYAIKH TUAN GURU KYAI MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MADJID BELAJAR DARI KOMITMEN DAN DEDIKASI TERHADAP AGAMA, BANGSA DAN NEGARA (REFLEKSI HULTAH NWDI KE-83)

Oleh:
Dr. TGH.Fahrurrozi Dahlan, QH.SS.,MA
(Alumni Ma’had DQH NW Angkatan 33 (1997) – Dosen FDIK & Pascasarjana UIN Mataram, Sekretaris Pengurus Wilayah NW Provinsi NTB, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Provinsi NTB-Anggota Tim Peneliti Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Pahlawan Nasional- Kab.Lombok Timur 2014-2015 )

Pahlawan Nasional Maulanassyaikh : Mengapa Negara menganugerahkan?
Dua puluh tahun pascawafatnya Maulanassyaikh tepatnya tanggal 21 Oktober 1997 M dengan perjuangan yang tidak gampang, perjuangan yang berliku-liku akhirnya pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo menganugerahkan penghargaan tertinggi bagi anak bangsa yang memiliki trackrecord perjuangan untuk agama, bangsa dan negara berupa gelar Pahlawan Nasional kepada Putra Terbaik Bangsa khususnya Putra Nusa Tenggara Barat, pada tanggal 6 November 2017 yaitu Maulanassyaikh TGKH.Muhammad Zainuddin Abdul Madjid al-Anfanany al-Masyhur. Tercatat dalam lembaran Sejarah Negara dalam keputusan Presiden RI Nomor: 115/TK/ TAHUN 2017, Tentang Penganugerahan Pahlawan Nasional tanggal 6 November 2017 bahwa pengakuan negara atas jasa dan perjuangan Maualanassyaikh bukanlah semata penghargaan tertinggi, tapi yang paling tinggi justru bagaimana para generasi pelanjutnya mampu mengembangkan visi misi kebangsaan dan keagamaan yang belum tuntas dilaksanakan oleh Sang Pahlawan Nasional, atau minimal mempertahankan visi misi dan amal shaleh yang telah ditorehkan oleh beliau selama lebih setengah abad mengabdi untuk agama, nusa dan bangsa.
Untuk memperdalam keyakinan kita selaku warga Nahdiyyin- Nahdhiyyat – Warga Negara Indonesia secara umum atas kifrah dan perjuangan Maulanassyaikh terhadap agama, nusa dan bangsa, sehingga dianugerahkan Pahlawan Nasional oleh negera. Patut kita cermati secara mendalam alasan-alasan filosofis-normatif, sosiologis-empiris baik yang dikatakan lansung maupun yang dilaksanakan oleh Maulanassyaikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Majid, berikut sedikit ulasan tentang hal tersebut yang penulis urai secara singkat.
Menurut hasil riset dan pembacaan penulis, ada beberapa alasan utama Maulanassyaikh memiliki kepantasan dan kepatutan menjadi Pahlawan Nasional, minimal ada tiga hal utama yang melatarbelakanginya:

Pertama: Pemikiran Intelektualitas dan Kharisma keulamaan
Lombok dan Indonesia dikenal dunia karena Ulama’nya disebut di mana mana. Artinya alangkah besar jasanya Ulama semisal Maulanassyaikh mempromosikan Indonesia di belahan dunia dengan gratis tanpa bayar. Dinas pariwisata terbantukan karena sebab keilmuan para ulama. karya karya ilmiahnya dibaca di seantero belahan dunia. Tak diragukan sedikitpun tentang kiprahnya dalam aspek ini.
Penting untuk dicermati selogan organisasi Nahdlatul Wathan yang dicetuskan lansung oleh Maulanassyaikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Madjid yang berbunyi: Turahhibu bi al-hadîts wa tahtarimu al-qadîm wa tarbitu bainahumâ. Selogan NW: Merespond yang Baru (inovasi)-Menghargai yang lama (refleksi tradisi) dan Mensinergikan kedua-duanya (Moderasi). Selogan ini sejalan dengan selogan yang dipopulerkan oleh Organisasi Nahdlatul Ulama, al-Muhâfazhah alâ al-qadîm al-shâleh wa al-akhzu bi al-jadîd al-ashlah.
Berdasarkan Statemen Maulanasyaikh TGKH. M.Zainuddin Abdul Madjid di atas. Maulanassyaikh TGKH.M. Zainuddin Abdul Madjid menegasikan kekhasan pikiran intelektualitasnya pada 4 pilar pemikiran (fikrah-afkâr).
Pertama: al-Fikrah al-Nahdhiyyah (Pemikiran kebangkitan) yang mencakup:
1) al-Nahdhah al-Tarbiyyah [kebangkitan edukasi formal kelembagaan]
Kalau Nanda Memang Setia
Pasti Selalu Siap Siaga
Membantu Ayahanda Membela Agama
di Bulan Bintang Bersinar Lima
(Wasiat Renungan Masa pengalaman Baru Bait no. 162)
“NWDI dan NBDI-mu
Jalan menuju kelangit ilmu
Terus kebulan sampai bertemu
Sinar yang lima nyinari penjuru ( w.101. h.119 )
Identitas Ke-Nahdhatul Wathan-an yang diajarkan oleh pendiri NWDI, NBDI dan NW merupakan identitas kelembagaan khas sebagai cerminan pemikiran keagamaan Maulanassyaikh yang tidak dimiliki oleh organisasi lain. Salah satu inovasi dan improvisasi yang dilakukan oleh beliau TGKH.M. Zainuddin Abdul Madjid adalah meletakkan identitas lembaga pendidikan dibawah naungan organisasi Nahdhatul Wathan dengan lebel “NW“ seperti Yayasan Perguruan NW mulai dari tingkat paling rendah sampai jenjang yang paling tinggi, seperti TK NW, SD NW, MI NW, MTs NW, MA NW/SMA/SMK/MAK NW dan STKIP NW, STMIK NW, IAIH NW, UNIV NW.
Identitas dengan penegasan lebel “NW“ di lembaga pendidikan memberikan nilai filosofis sebagai berikut:
a. Peneguhan akan esistensi kelembagaan sebagai barisan yang tidak terpisahkan dengan organisasi NW
b. Penegasan akan identitas kelembagaan yang secara aplikatif bergantung kepada organisasi NW
c. Pola pembinaan yang koordinatif dengan organisasi NW yang secara tegas menunjukkan identitas kelembagaannya.
d. Mempermudah pola komunikasi dan jaringan koordinasi pembinaan yang dilakukan oleh pengurus organisasi NW mulai dari Pengurus Besar sampai Pengurus Ranting.
Adanya identitas mempermudah pembinaan dan pemberdayaan dalam segala lini oleh pemangku kebijakan di tingkat organisasi NW. Hemat penulis hanya organisasi NW yang memberikan lebel langsung di setiap lembaga kependidikan maupun lembaga sosial, ekonomi dan seterusnya. Jadi, identitas ke-NW-an pada setiap lembaga pendidikan, sosial, ekonomi, budaya memberikan makna penegasan terhadap ruh perjuangan ke-NW-an bagi lembaga dan pengelolanya.

2) al-Nahdhah al-Ijtimâiyyah [kebangkitan sosial]
Aspek kebangkitan sosial ini, Maulanassyaikh memulainya dari suku beliau sendiri Sasak sebagai perwujudan hadis Nabi (Ibda’ binafsik tsumma biman ta’ulu) Mulai dari diri sendiri keluarga dan sukumu sendiri baru ke yang lain). Kesukuan ini menjadi perhatian serius Maulanassyaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid selama hidupnya. Ini disebabkan oleh beberapa faktor: Pertama, Pulau Lombok merupakan basis inspirasi yang menuntunnya untuk menuntut ilmu dan melakukan dakwah Islamiyah. Fenomena kemasyarakatan dan keberagaman masyarakat yang dilihat dan diamati kemudian mendorongnya berbuat untuk kepentingan masyarakat Pulau Lombok. Kedua, lingkungan terdekat dan terpenting dari obyek dakwahnya adalah masyarakatnya sendiri, yang diatur secara bertahap mulai dari keluarga, kerabat, sanak saudara, saudara dekat, saudara jauh, hingga meluas menjadi masyarakat secara umum. Ketiga, ketika ia hendak memutuskan untuk menetap lebih lama di Saudi Arabia untuk berkhidmat kepada gurunya, ia diperintah langsung pulang ke tanah kelahirannya, karena tempat itu lebih membutuhkannya dibandingkan Saudi Arabia. Ini berarti perhatian terhadap masyarakatnya secara tidak langsung merupakan bentuk dari tanggung jawab moralnya kepada Sang Guru.
Metodologi berpikir Maulanassyaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid terhadap fenomena Sasak adalah dengan bercermin pada sejarah Sasak itu sendiri. Tergambar ia sangat memahami historisitas Sasak dan tipologi masyarakatnya. Dari telaah inilah kemudian ia merumuskan pemikiran–pemikirannya tentang Sasak. Citra sejarah Sasak, menurutnya adalah sebuah perjalanan sejarah yang menunjukkan pentingnya kedudukan Islam dalam tata kehidupan masyarakat Sasak. Setidaknya dimulai setelah runtuhnya paham animisme maupun antropomorfisme (pengenaan ciri–ciri manusia pada binatang atau benda mati) di kalangan masyarakat Sasak sebagai konsekuensi dari keberhasilan proses Islamisasi. Sehingga tidak pelak lagi, Islam menjadi sangat lekat dalam kehidupan masyarakat Sasak. Sebagai indikator bagaimana konseptualisasi pemikirannya tentang Sasak dapat disimak dari untaian bait–bait syair dalam wasiatnya : Rasyid berkata di satu malam, Lombok serambi Masjid al-Haram, Sejak dibangun bernafas Islam, Oleh putra Sulthanul Iman. Bahwa di Lombok sebelum ini, Paham animis anutan asli, Sewaktu–waktu didatangi da’i, Akhirnya lahir Sulthan Rinjani (Wasiat Renungan Massa).
3) al-Nahdlah al-Dakwatiyah [kebangkitan dakwah].
Secara makro, eksistensi dakwah senantiasa bersentuhan dengan realitas yang mengitarinya. Dalam persepektif historis, pergumulan Islam dengan realitas sosio-kultural menjumpai dua kemungkinan. Pertama, dakwah Islam mampu memberikan out-put (hasil, pengaruh) terhadap lingkungan, dalam arti memberi dasar filosofis, arah, dorongan, dan pedoman bagi perubahan masyarakat sampai terbentuknya realitas sosial baru. Kedua, dakwah Islam dipengaruhi oleh perubahan masyarakat dalam arti eksistensi, corak dan arahnya. Ini berarti bahwa aktualisasi dakwah ditentukan oleh sistem sosio-kultural. Dalam kemungkinan yang kedua ini, sistem dakwah dapat bersifat statis atau ada dinamika dengan kadar hampir tidak berarti bagi perubahan sosio-kultural. (Amrullah Ahmad, 1985: 2)
Nahdatul Wathan dan sinar limanya, membuktikan bahwa cahaya ilmu Nahdhatul Wathan tidak akan pernah sirna, (patah tumbuh hilang berganti), majelis-majelis pengajian dan dakwah yang dikembangkan di organisasi dapat dipetakan menjadi dua kategorisasi:
Pertama; Majelis Dakwah Hamzanwadi; Majelis dakwah yang lansung didirikan dan dibina oleh Maulanassyeikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Madjid. Majelis dakwah ini menyebar ke seantero NTB bahkan ke Luar Daerah. Kurang lebih 65 tahun Maulanassyeikh membina majelis dakwahnya membuktikan bahwa cahaya NW terpancar dari segala penjuru. Mulai dari timur sampai ke barat bahkan di Makkah sana, cahaya NW terus menerus memancarkan cahayanya kepada siapapun. Ini membuktikan bahwa lambang organisasi NW berupa Bintang Bulan bersinar sinar lima, akan terus bercahaya sepanjang masa, melalui majelis-majelis dakwah NW.
Kedua; Majelis Ta’lim Nahdatul Wathan. Kategori majelis ta’lim ini adalah majelis yang dipimpin dan dibina lansung oleh abituren-abituren NW atau Murid-murid Maulanassyeikh yang telah memiliki kapasitas dan kapabilitas. Artinya bahwa majelis yang dibina oleh murid-murid maulanasyeikh di mana dan kapan saja terus menjadi barometer keberhasilan maulanassyeikh mempersiapkan kader-kader pelanjutnya. Saat ini sudah ribuan majelis ta’lim NW yang berkembang di mana-mana, majelis yang berfungsi sebagai wadah penggemblengan ummat, pengkaderan generasi, sekaligus menjadi benteng ketahanan agama dari resistensi dan distorsi.
Khairiyyah Nahdlatul Wathan dari segi ini sangat besar andilnya dalam mencetak kader-kader pejuang Islam dan pejuang Organisasi NW, di mana melalui majelis-majelis pengajian, tercipta suasana keislaman yang harmonis, terciptanya pemahaman masyarakat terhadap ajaran agamanya, dan sekaligus terwujudnya perubahan sosial bahkan transformasi sosial dari majelis-majelis pengajian NW.
Dakwah Nahdlatul Wathan sudah dirasakan oleh Ummat NTB dan Ummat Indonesia, di mana dakwah NW baik secara kultural maupun struktural telah merambah ke semua elemen kehidupan masyarakat, terutama pada ranah pemahaman keagamaan masyarakat yang relatif membaik dari tahun ke tahun. Dengan demikian, Majelis Dakwah maupun Majelis ta’lim Nahdhatul Wathan harus terus eksis dan berjaya di tengah-tengah masyarakat, karena itulah modal sosial yang paling efektif dalam rangka mewujudkan manusia-manusia unggul dan kompetitif.
Kedua: al-Fikrah al-Wathaniyyah: Pemikiran kebangsaan; Pemikiran ke-Indonesia-an dengan istilah Bilâdy Indunisiyya, Wathâny. Tersebut dalam untaian lagu-lagu karya Maulanassyaikh TGKH. M.Zainuddin Abdul Madjid. Kemudian pemikiran ke-Sasak-an primordialisme kesukuan untuk mempertegas identitas dan asal pijakan peradabannya semisal Anti yâ Fancûr bilâdy, Ya fata Sasak bi Indonesia.
Coba cermati pemikiran cemerlang Maulanassyaih tentang pemikiran kebangsaan dan pemikiran Islam Nusantara, sebagai mana tercermin dalam ungkapan bait-bait wasiat beliau: Nahdlatul wathan berjalan terus, Siang dan malam tidak terputus, Meskipun dahsyat gelombang arus, Dalam lindungan ilahi Quddus (Wasiat Renungan Massa, No. 23) Aduh sayang! Nahdlatul Wathan ciptaan ayahda, Ku amanatkan kepada anakda, Dipelihara dan terus dibina, Dan dikembangkan di Nusantara. (Wasiat. No. 39. h. 34) Aduh Sayang! Siarkan Hizib sampai merata, Agar banyaklah pendo’a kita, Mendo’a Negara, Nusa dan Bangsa, Mendo’a Islam se- Nusantara. (Wasiat. No. 52. h. 83). Aduh sayang! Ayahda tabligh di malam sunyi, Hadapi lautan, makhluk insani, Agar tersebar ajaran ilahi, di Nusantara dan Luar Negeri (Wasiat. No. 218) Aduh sayang! Duplikat Ngampel dan Kalijaga, Berlaku lebih tiga bulan nyata, Memancar sinar di Nusantara, Menghidupkan Iman bersinar Taqwa (Wasiat. No. 203)
Untaian wasiat di atas menunjukkan betapa konsistent dan komitment Maulanassyaikh yang tinggi terhadap gerakan pemikiran, dan pergerakan kebangsaan yang dilandasi dengan semangat organisasi NW yang menjadi lokomotif perjuangan di tengah-tengah dinamika sosial keummatan dan kebangsaan yang mengitarinya saat itu.
Ketiga: al-Fikrah al-Siyâsiyah, pergolakan politik kebangsaan pemikiran kemerdekaan, pemikiran politik demokrasi Pancasila. Ini terlihat dalam dialektika dinamika politik Maulanassyaikh (1955-1997).
Coba cermati dengan seksama pemikiran-pemikiran politik kebangsaan dan politik keummatan maulanassyaikh tertuang secara jelas dalam karya besar beliau Wasiat Renungan Masa, cetakan 1980, sebagai berikut:
Ajibnya terkadang di partai Islam, Berpura-pura membela Islam, Aktif keliling siang dan malam, Membela diri melupakan Islam (Wasiat. 142. h. 55) Karena kafir tak pantai Bersyukur, Penuh khulaya’ Hasad Takabbur, Tidak hiraukan teman dan Batur, Semau-maunya berpolitik Catur (Wasiat. No. 152). Janganlah nanda dibikin bubur, Oleh pemain politik catur, Diperalat untuk melawan batur, sehingga Ukhwah hancur dan lebur (Wasiat. No. 152.h.165) Banyak sekali berlidah Madu, Berhati Pahit Bagai Empedu, Berpolitik ”Membelah Bambu”, Tujuannya ummat jangan Bersatu. (Wasiat. No. 166. h.165), Politik satu ditambah satu, Ditambah satu sama dengan satu, Dilancarkan oleh golongan tertentu, Membela Nafsu membela Hantu (Wasiat. 168.h. 62) Kalau Iman seorang tidak di dalam, Politik Juangnya hanya Menghantam Asalkan Dunia dan Fulus digenggam, Tidak perduli Taqwanya Tenggelam (Wasiat. 190.h. 62) Lisan Politik dan Tukang Dongeng, Pandai memikat jutaan Kepeng, Menawan menteri berumah genteng, ‘SEMET BULU MAU’ BANTENG” (Wasiat. 190. h. 141) Dalam politik bermain curang, Kekiri kanan aktif menendang, Sehingga tak segan membayar hutang, Dengan NW nya pada seorang (Wasiat no. 53. h. 46) Si keranjingan gila politik, Lupa dirinya kejungking–balik, Iman taqwanya hilang geritik, Na’uzubillah mimma hunalik (Wasiat No. 113. h. 46), Agama bukan sekedar ibadah, Puasa sembahyang di atas sajadah, Tapi agama mencakup aqidah, Mencakup syari’ah mencakup hukumah (Wasiat No. 78. h. 46)
Konsep politik kebangsaan Maulanassyaikh sangatlah jelas, demi kemashlahatan ummat dan agama. Politik maulanassyaikh adalah gerakan pendidikan politik keummatan, politik berdasarkan kepentingan yang lebih umum, dan kepentingan Islam. Maka tidaklah menjadi soal, pindahnya Maulanassyaikh dari suatu partai ke partai yang lain, taruhlah seperti Dari Masyumi, Parmusi, PPP, dan Golkar merupakan dialektika pemikiran politik Maulanassyaikh yang diikat oleh situasi dan kondisi keummatan dan kebangsaan. Maka sangatlah tidak tepat menyebut sistem politik Maulanassyaikh Pragmatisme- Fungsional, namun sesungguhnya politik Maulanassyaikh merupakan pembelajaran yang sangat berharga bagi Ummat dan khususnya Kader Nahdlatul Wathan. Justru karena kepiawian Maulanassyaikah memainkan ide-ide kebangsaan dan keummatan di pentas nasional, membuktikan diri Maulanssyaikh sebagai sosok yang sangat kharismatik dan berkontribusi optimal terhadap perkembangan dan kemajuan bangsa, di saat Bangsa dan Negara membutuhkan pemikiran cerdas dan SMART dari anak bangsa era awal kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Inilah Dokumen sejarah yang tak terbantahkan oleh siapapun tentang kiprah politik kebangsaan dan politik keummatan Maulanassyaikh di Pentas Nasional.
Coba perhatikan fikrah diniyyah Maulanassyakh, dalam statement-statement inovatif dan produktif, penulis rangkum dalam makna-makna lagu yang disusun beliau, sebagai berikut:
Salah satu ciri khas NW adalah bersenandung lagu patriotisme. Lagu pembangkit semangat yang tidak banyak Tuan Guru yang mempopulerkan dan menjadikan sebagai media pembelajaran dan media dakwah. Terhitung Lebih dari 20-an Karya Maulanassyaikh dalam bentuk sajak dan syair. Satu di antara yang banyak itu adalah Lagu: Hayya Ghanu Nasyidana: Mari Kita Bersenandung.
Pertama: Lagu Ini diajar lansung oleh Maulanassyaikh kepada murid-murid di Ma’had DQH. Beliau menyebut lagu ini dengan lagu Khalid bin Walid. Lagu penggerak perjuangan. Penulis bisa maknai kenapa beliau menyebut Lagu Ini Lagu Khalid bin Walid. Penyemangat untuk berjuang pantang menyerah.
Kedua: Lagu Ini dipopulerkan pada 4 atau tiga tahun menjelang wafatnya Maulanassyaikh dan selalu dibaca diakhir pengajian Beliau. Beliau sepontan selesai mengaji lansung bersenandung Hayya Ghanu Nasyidana. Kitapun serentak menyahut dan menyambut senandung Lagu Ini. Pertanyaannya, fahamkah kita kenapa lagu Ini dipopulerkan di akhir-akhir hayat Beliau, padahal lagu Ini beliau susun di tahun 1960-an seiring dengan lagu-lagu antiya fancor. Ya man yarumu. Nahdlatul wathan setia. Penulis mencoba menganalisanya dengan pendekatan analitis teks/wacana kritis yang dipadukan dengan pendekatan etis santrisme.
Ketiga: Hayya Ganuu. panggilan kolektif dan kebersamaan. Maulanassyaikh faham akan pentingnya kerja kolektif dan kebersamaan. Tidak akan sukses sebuah organisasi tanpa kolektivitas. (Jamaah wa jam’iyyah.) Keempat: Nasyiidana: Lagu kita. Lagu untuk kita. Bersenandung bersama, dalam perjuangan suka duka harus ditanggung bersama. Kebahagiaan harus dirasakan oleh semua orang. Kelima: Yaa Fata Sasak. Duhai pemuda Sasak. Panggilan komunitas dan panggilan primordialisme sebagai identitas Beliau sebagai orang Sasak yang telah tersibghoh dengan berjuta pengalaman tapi tidak melupakan dari mana asal muasal Beliau berangkat shigga menjadi orang terpandang. Keenam; Sasak bi Indonesia. Menjelaskan eksistensi pemuda Sasak yang terus berkiprah untuk Indonesia bahkan Nusantara bahkan dunia. Penyebutan Sasak bi Indonesia. Sangat memungkinkan Anak Sasak memimpin Indonesia atau mempertegas komitment entitas dan identitas yang harus mampu bersaing di tengah keterpurukan pemuda Sasak saat itu.
Ketujuh: Ballighil ayyyama wallayaaliya: pemuda Sasak harus ambil posisi sebagai penyampai misi visi keagamaan dan kebangsaan yang tak kenal siang dan malam. Tak kenal lelah dan menyerah. Kedelapan: Nahnu Ikhwanusshofa: kita adalah kelompok Ikhwanusshofa. Kelompok cerdik pandai yang intelektual sufistik yang terdidik dan tercerahkan. Penisbahan kita orang Sasak dengan Ikhwanusshofa memberikan arti kita harus berpikir visioner dan konstruktif demi sampainya misi visi Menuju Indonesia yang terdidik. Menggambarkan heriok tokoh-tokoh pemikir guna menjadi panduan dan teladan untukmu Yaa Fata Sasak. Kesembilan: Kulluna alal wafa. Kita dalam loyalitas yang sama dan dedikasi yang tak ternilai. Loyal dan dedikasi menjadi prasyarat untuk meraih visi misi kejayaan. Tidak ada artinya berorganisasi jika tidak loyal kepada pimpinan organisasi. PB NW namanya. Tak usah terlalu berlebihan untuk menjadi number One di Indonesia jika kita tidak berada dalam loyalitas [Kulluna Alal Wafa]. Intinya Ini kita harus Wafa atas pimpinan yang terlegalkan secara agama dan negara. Agar mulus kita menuju Yaa Fata Sasak Bi Indonesia. [harapan maulana]. Kesepuluh: Fastaiz bihizbina yahya. Bangkitlah melalui organisasi kita Sehingga kita sukses. Sukses bersama organisasi kita duhai Fata Sasak. Kesebelas. Lalalala nubaly lalala numaly. Pengikraran dan pengutan komitment untuk tidak pantang menyerah dan tak boleh berhenti berjuang. Keduabelas: man yas’a lil maaly laa yakhsya min Khusuumy. mau sukses ke derajat yang tinggi. Takkan gentar dari cengkraman orang-orang yang dengki. Jika masih dengki. Masih iri masih saling hukumi masih saling hujjat. Yaqinlah tidak kesampaian Maaly untuk Fata Sasak bi Indonesia itu. Subhanallah. Mukasyafah- terawangan Maulanassyaikh terbukti di akhir zaman Ini. Ketigabelas: Indonesia. Lagi-lagi Maulanassyaikh menyebut Indonesia. Ada apa dengan Sasak dan Indonesia?. Anty ramzul ittihaady. Indonesia adalah lambang persatuan dan kesatuan. NKRI adalah harga mati. Maka raihlah Duhai Fata Sasak bi Indonesia! Keempatbelas: Sasak Indonesia. Peneguhan diri bahwa Sasak hanya identitas kesukuanmu, tapi yang terpenting adalah Ilal amam sir laa tubaaly (Maju jangan menyerah dalam meraih cita cita perjuangan). Lakil fidaa Yaa ittihaady. Tebusanku adalah bersatu. Kelimabelas: inilah rahasia kenapa Lagu Ini didengungkan diteriakkan setiap hari oleh Maulanassyaikh agar kita insaf dan sadar akan arti Sasak, Pemuda, Organisasi dan persatuan sesama nahdiyyah -wathaniyah – indonesiyyah wa islamiyah. Inilah perenungan penulia atas Lagu yang penulis ikut berteriak di depan Maulanassyaikh 20 tahun silam.
Keempat: al-Fikrah al-Diniyyah al-Islamiyyah mencakup aqidah dipilih ahl al-Sunnah wa al-jamâah, teologi Asy’ariyyah dan dimensi syariah dipilih mazhab al-Imam al-Syafii sedangkan Tasawuf dipilih oleh Organisasi Nahdlatul Wathan adalah Junaidal-Baghdady dan al-Imam al-Ghazali. Dengan demikian Organisasi Nahdhatul Wathan sesungguhnya bergerak dalam ranah: rabbaniyah, nabawiyyah, insaniyah, ummatiyah, kauniyah, alamiyah yang dikemas dalam bingkai Washatiyah Islam (moderat).
Coba kita dalami model tasawuf yang dikembangkan oleh Maulanassyaikh TGKH.M. Zainuddin Abdul Madjid adalah ajaran tasawwuf yang dikembangkan oleh al-Ghazali dan Junaid al-Bagdadi. Tidak hanya itu, dari do’a yang terdapat dalam Hizib juga beliau menganut tasawuf Syaikh Abdul Qadir Al-Jailany dan Syaikh Syadzili. Salah satu bukti pengaruh syaikh Abdul Qadir Jailany dalam pribadi Maulanassyaikh TGKH.M. Zainuddin AM yang bukan hanya dalam hal ilmu, adalah adanya salah satu do’a dari Sulthan Al-Auliya’ tersebut yang dibaca dalam hizib Nahdlatul Wathan. Dalam tataran tasawuf khususnya, wilayah Lombok sangat melekat dengan praktek tasawuf yang melepaskan diri dari dimensi syari’at yang sempurna. Mereka banyak berkeyakinan bahwa dalam peribadatan cukup hanya dengan berthariqat saja, karena dengan thariqat tersebut takan dapat mengantarkan mereka kepada kebebasan dalam menjalankan syari’at. Pada dimensi ini juga muncul aliran tasawuf atau thariqat “syetan”(meminjam istilah Maulanassyaikh TGKH.M. Zainuddin AM) yang disebarluaskan oleh seorang yang telah bergelar Tuan Guru dari para pengikutnya. Padahal thariqat yang mu’tabarah diperkosa (dalam bahasa Maulanassyaikh TGKH.M. Zainuddin AM). Diantara praktek sesat yang dilakukan adalah dengan meninggalkan dimensi penting Islam yaitu syari’at seperti shalat lima waktu dan lainnya. Antara syari’at, thariqat dan hakikat, semuanya tidak dapat dipisahkan. Dalam hal ini Maulanassyaikh TGKH.M. Zainuddin AM mengatakan bahwa syari’at itu merupakan uraian, thariqat merupakan pelaksanaan, haqiqat merupakan keadaan, dan ma’rifat merupakan tujuan pokok, yakni pengenalan tuhan. Ia juga menganalogikan syari’at ini sebagai sebuah sampan/perahu, thariqat sebagai lautan, dan haqiqat sebagai mutiara.
Berikut pemikiran keagamaan Maulanassyaikh TGKH.M.Zainuddin AM, tercermin dalam konsep di mana NW menganut mazhab ASWAJA (ahlu Sunnah wal jama’ah) yang memiliki pandangan sendiri terhadap pemimpin, seperti “Al-Zarqani mengutip pendapat Imam Malik dan Jumhur ahli Sunnah mengatakan bahwa bila seorang pemimpin berbuat zalim terhadap yang dipimpinnya, maka ketaatan lebih utama dari pada menentangnya. Tindakan menentang berimplikasi munculnya rasa takut, terjadinya pertumpahan darah, berkobarnya peperangan dan menyebabkan kerusakan, dalam hal ini dituntun kesabaran terhadap ketidakadilan dan kefasikan”. Dan juga Al-Mawardi dalam kitab ahkam sulthaniyah-nya jelas mengatakan “Loyalitas rakyat terhadap pemimpin menurut al-Mawardi adalah rakyat wajib mematuhi dan mendukung kebijaksanaan pemimpin jika ia telah menjalankan kewajibannya dan memenuhi hak rakyat. Jika pemimpin telah menjalankan hak-hak umat, lalu ia telah menunaikan hak-hak Allah Swt baik yang berkenaan dengan hak-hak manusia maupun kewajiban yang harus mereka emban. Saat itu pemimpin mempunyai dua hak atas rakyatnya, yaitu: taat kepada pemerintahnya dan membantunya dalam menjalankan roda pemerintahan dengan baik, selama ia tidak berubah sifatnya.”Sikap NW sejalan dengan pemikiran al-Mawardi, karena kitabnya juga menjadikan rujukan yang dipelajari di pesantren-pesantren di bawah naungannya. Akhirnya, NW salah satu organisasi yang memiliki masa besar serta sumber daya manusia yang bagus. NW memiliki posisi yang strategis dalam mengambil peran serta menjaga keutuhan NKRI. dan NW harus selangkah seayun bersama negara, organisasi lain dalam mendesain Islam yang ramah, santun dan rahmatan lil’alamin. Organisasi Nahdlatul Wathan sebuah Organisasi kemasyarakatan Islam yang mengambil zona geografis di wilayah Nusantara. Maka Islam ala Nahdlatul Wathan adalah perjuangan dan pengumulan dialektika keagamaan dalam wajah Islam Nusantara yang akomodatif terhadap realitas tanah air (al-waqaiyyah al-wathaniyah). Organisasi Nahdlatul Wathan dapat berkembang di Nusantara sedikit banyak dipengaruhi oleh ideologi dan asas organisasi yang dianutnya, yaitu ideologi ahl sunnah wal jamaah berupa anutan fiqih syafi’iiyah dalam syariah, teologi As’ariah dan Maturidiyah dan Ghazali dan Junaidi al-Baghdady dalam anutan sufistik.

Kedua: Dedikasi terhadap Bangsa dan Negara
Konsep Maulanassyaikh tentang Negara dan Bela Negara sudah final, terlihat dari ungkapan-ungkapan tertulis Maulanassyaikh dalam bait-bait syair- lagu yang disusun sendiri oleh beliau: Nahdlatul Wathan setia, Nahdlatul Banat sedia, Ngurasang batur si’ pidem, Nde’ ne ngase leat kelem 2x. Bangsaku pacu beguru, Bangsaku ndak te bemudi. Pete sangu jelo mudi 2x. (Anak negeri bersungguhlah, spanjang malam berjagalah, Negeriku, ruhku tebusan, dari setiap kesesatan). Coba perhatikan redaksi dari lagu-lagu yang dikarang oleh Maulanassyaikh ini, betapa besar dan kuatnya komitment kebangsaan beliau, betapa gigihnya beliau terhadap Agama Nusa dan Bangsa.
وَطَنِى رُوْحِيْ فَدَاءٌ لَكِ مِنْ كُلِّ الضَّلَال انْتِ رَمْزُ الْإِتِّحَادِ ا نْدُوْنِيْسِــيَ يَــا إِتِّحَـــادِ سَاسَكْ إِنْدُوْنِيْسِيَا الَى الْأَمَامْ سِرْ لَاتُبَـالِى لَكِ الْفِدَايَا إِتِّحَادِى
Indonesia, Engkau simbol persatuan, Persatuan, Sasak Indonesia, Maju terus jangan hiraukan Engkau perisai persatuan
Sebagai bukti dedikasi dan pengabdian Maulanassyaikh terhadap kemajuan bangsa dan negera, terlihat dalam komitmen dan peneguhan prinsip beliau dalam membela negara, sebagaimana tercantum dalam lagu Kami Benihan NW (Generasi Penerus NW): Kami benihan Nahdlatul Wathan yang setia, Mengorbankan jiwa membela Nusa dan Bangsa, Agar umat seluruh bersatu raga, Marilah kita hindarkan pengaruhnya setan durhaka, Teguhkan hati janganlah mundur, Walau setapak kaki….
Kata Mengorbankan jiwa membela Nusa dan Bangsa,membuktikan betapa kuatnya komitmetment kebangsaan yang dikembangkan oleh Maulanassyaikh kepada murid-murid beliau dan warga Nahdhiyiin-Nahdhiyyat, kaum muslimin-muslimat. Ini sekali lagi pemikiran kebangsaan dan keindonesian Maulanassyaikh sudah final.
Lebih tegas lagi Maulanassyaikh mempertegas kebangsaan beliau dengan menyebut Pancasila sebagai dasar negara. Dengan demikian, NW mempertegas identitas kebangsaannya dengan menyatakan Pancasila sebagai dasar negara sekaligus mempertegas bahwa Indonesia adalah NKRI yang tidak mengenal negara khilafah, darul islam dan sejenisnya. Perhatikan dengan seksama ungkapan Maulanassyaikh dalam lagu Mars Nahdlatul Wathan sebagai berikut: Mars Nahdlatul Wathan, Nahdlatul Wathan lembaga kita, Lembaga pendidikan ilmu agama, Mendidik putra dan putri kita, Agar menjadi insan yang bertaqwa, Pancasila dasar negara kita, Ketuhanan adalah sila yang utama, Mengabdi kepada negara dan bangsa, Dengan iman tertanam dalam dada, Marilah kita tetap berjuang menuju cita-cita, Mencapai negara yang adil dan makmur, Dengan keridlaan yang maha esa, Nahdlatul Wathan tetap dalam pengabdiannya, Ikut membina umat beragama, Sebagai ummat yang beragama, Harus menjadi tauladan yang mulia, Ikut serta membina keutuhan bangsa, Utuh jasmani serta rohaninya. (Lagu Karya Maulanassyaikh, 1982).
Ketegasan Maulanassyaikh tentan Pancasila sebagai dasar negera, juga dijelaskan lansung melalui lisan mulia beliau dalam sebuah pengajian di Mushalla Al-Abrar tahun 1982, sebagai berikut: Agama dan bangsa merupakan satu kesatuan yang tidak dapat kita pisah-pisahkan. Di dalam Agama kita ada Undang-undang kita berupa al-Qur’an dan al-Hadis yang kemudian dijelaskan oleh ijma’ atau konsensus Ulama yang ahli di bidangnya masing-masing kemudian jika tidak ditemukan hukum dalam al-Qur’an maupun al-Hadis maka digunakanlah hukum Qiyas (Analogi Hukum) sebagai produk ijtihad para ulama. Nah, Kalau seandainya kita misalkan, (agen ante pade becat paham maksudke jelasang antepade-agar kalian semua cepat memahaminya), Negara kita Indonesia ini, agamante (Agama Kita Islam), tentu Indonesia punya dasar negara yang menjadi pemersatu bangsa, itulah Pancasila- anggep wah Pancasila ino Al-Qur’an)-anggap saja Pancasila itu “laksana” al-Quran. Al-Quran penjelasan Allah secara global dan umum, Seperti Pancasila yang hanya lima sila saja aturan umum negara. Karena keumuman Pancasila dibuatkanlah UUD 1945 sebagai penerjemahan dan penjelasan terhadap keumuman Pancasila tersebut, persis seperti Al-Quran yang dijelaskan oleh al-Hadis, yang kemudian dijabarkan dalam Ijma’-ijtihad para ulama. UUD 45 pun masih sangat umum, maka diperlukan legislasi berupa peraturan-peraturan perundang -undangan, atau peraturan pemerintah, sebagai penjelasan konkrit dari Pancasila dan UUD 45. (Dokumen pribadi, Kaset Rekaman Pengajian Maulanassyaikh).
Sosok Maulanassyaikh sungguh sangat berani memberikan penjelasan tentang konsep Negara yang seolah-olah menyamakan dengan konsep dasar Agama Islam; Al-Qur’an dan al-Hadis. Ini menunjukkan betapa tegasnya Maulanassyaikh terhadap konsep bernegara dan berbanga.

Ketiga:Kiprah dalam dunia Politik dan kemanusiaan.
Pemikiran politik Kebangsaan Maulanassyaikh sesungguh sudah digelorakan saat penjajahan Belanda maupun Jepang. Sebagai bukti sejarah kita lihat periodenisasi pergerakan politik kebangsaan yang dimulai dari:
A) Pergerakan Sosial-keagamaan Pra-Kemerdekaan RI (1936-1945)
Membuka pesantren al-Mujahidin, 1934 M, pesantren al-Mujahidin awalnya adalah sebuah musalla yang didirikan oleh ayahnya, Tuan Guru Haji Abdul Madjid sebelum ia pulang ke Lombok. Sedianya mushalla ini akan dijadikan sebagai tempat mengajarkan agama seperti layaknya tuan guru-tuan guru pada umumnya saat itu.
Gerakan Perjuangan Kemerdekaan Gerakan al-Mujahidin.
Mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyyah Islamiyyah (NWDI) 17 Agustus 1936 M Izin dari Pemerintah Belanda, pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 M/22 Agustus 1937 M (NWDI) diresmikan. Mendirikan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyyah Islamiyyah (NBDI) 15 Rabi’ul Akhir 1362 H/ 21 April 1943 M. Pergerakan keagamaan NWDI menyebar ke seluruh wilayah Lombok sehingga dalam rentang waktu 1937-1945 telah berdiri sembilan buah cabang madrasah NWDI.
Gerakan dua madrasah tersebut membuktikan bahwa pergerakan tanah air dimulai dari pengkaderan di madrasah yang diorientasikan menjadi anjum nahdlatul wathan, bintang-bintang pejuang Nahdltul Wathan dan hasil dari kaderisasi tersebut terbukti dengan menyebarnya para alumni di seluruh pelosok desa yang kemudian bergerak di wilayah masing-masing sesuai dengan bakat dan kemampuan mereka. Sehingga dalam waktu yang relatif singkat madarasah NWDI-NBDI tersebar di mana-mana.
Maulanassyaikh tercatat sebagai pelopor kemerdekaan tercatat sebagai inovator pendidikan modern di NTB.Tercatat sebagai abul madaris wal masaajid ribuan sekolah madrasah dan masjid yang didirikannya NTB Khususnya Lombok disebut pulau seribu masjid dan seribu pesantren dan Santren. Beliau tercatat sebagai Pengembang Sosial, Pemberantas buta aksara, Pengembang Pertanian, Penurun angka kematian bayi, dan ibu melahirkan melului KB.Tercatat sebagai pelestari budaya masyarakat.Ini saja sudah cukup untuk sebuah nilai Kepahlawanan untuk beliau.
Masuknya Belanda untuk menjajah Pulau Lombok, juga menjadi perhatian Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sekaligus menentukan sikapnya terhadap penjajahan secara umum. Sikap itu juga banyak bertumpu pada pengalaman hidupnya sendiri yang mengalami masa penjajahan tersebut, baik oleh Belanda, Jepang, maupun NICA. Bagi Maulanassyaikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Madjid, penjajahan, bagaimana pun bentuknya adalah eksploitasi manusia atas manusia yang lain. Ini menghalangi seseorang untuk hidup secara bebas dan merdeka. Padahal diakui bahwa kebebasan dan kemerdekaan merupakan modal dasar yang sangat penting bagi pengembangan dan pembangunan masyarakat. Atas dasar asumsi ini, penjajahan merupakan sesuatu yang sangat ditentangnya.
Sebagai bentuk penentangan Maulanassyaikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Madjid terhadap penjajahan, Maulanassyaikh menempuh berbagai macam cara. Pertama, mengerahkan anggota keluarga dan murid- murid Maulanassyaikh untuk maju berperang secara fisik melawan kekuasaan kolonial di Pulau Lombok. Dua di antaranya saudaranya (TGH. Muhammad Faisal dan TGH. Ahmad Rifa’i). TGH. Muhammad Faisal dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Selaparang yang berlokasi di jantung Kota Selong, ibu kota Kabupaten Lombok Timur. Bahkan lokasi Taman Makam Pahlawan tersebut tidak lain adalah tanah miliknya sendiri yang dihibahkan kepada negara untuk mengenang jasa pahlawan bangsa. Kedua, menolak permintaan Belanda dan Jepang yang menginginkan agar dirinya menjadi penasehat kolonial di Lombok. Walau tidak secara tegas melarang berkuasanya pemerintahan kolonial, namun Maulanassyaikh memberikan alternatif yang sebenarnya secara substansial tidak menghendaki adanya penjajahan. Maulanassyaikh mensyaratkan keadilan dan kebijaksanaan terhadap rakyat sebagai syarat bagi “pemerintahan” Hindia Belanda dan Jepang. Namun demikian, pandangan ini sepertinya bersifat diplomatis belaka, dan tidak merupakan sikapnya yang sebenarnya. Ini terbukti dalam beberapa karangannya, seperti Hizib Nahdlatul Wathan, ia mengecam penjajah dan orang-orang yang bergabung atau menjadi alat penjajah. Mereka yang disebut terakhir dinamainya dengan pengkhianat bangsa, negara, dan agama. Ketiga, mengajak keluarga, murid, dan jama’ah Nahdlatul Wathan untuk membentengi diri dengan doa agar terpelihara dari kebiadaban penjajah dan agar madrasah-madrasah Nahdlatul Wathan tetap membaca Hizib Nahdlatul Wathan. (Mohamad Nor, dkk, Visi Kebangsaan, h.45-50).
Ini tak bisa dinapikan pendidikan politik untuk masyarakat tdk dilepaskan dengan keterlibatan politik Nahdlatul Wathan yang dirintis sejak 1934 NWDI 1942 NBDI dan NW 1953.Artinya dengan ada ini masyarakat melek politik melek budaya dan melek secara intelektual.
Dalam kata pengantar yang ditulisnya pada Hizib Nahdlatul Wathan disebutkan :
Hizib Nahdlatul al-Wathan mendengung di dunia Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah di Pulau Selaparang (Lombok) ini, yaitu mulai dari sejak beberapa bulan pendaratan tentara Jepang (Nipon) di Pulau Jawa dengan ganasnya yang mengakibatkan bahwa madrasah–madrasah (sekolah–sekolah agama) di seluruh kepulauan Indonesia lebih daripada enam puluh persen (60%) gulung tikar atau digulung langsung oleh Jepang atau oleh kaki tangan Jepang (pengkhianat nusa, bangsa, tanah air, dan agama) setelah berdirinya Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (madrasah untuk kaum hawa) pada 21 April 1943 M, disusun pula Hizib Nahdlatul Banat yang didengungkan pagi sore oleh kaum pelajar Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah dan pelajar Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah sudah sedia setiap saat dengan hizib mereka yang mengandung beberapa ayat Allah, beberapa hadits Rasulullah, dan beberapa asma Allah. Maka dengan limpah pertolongan Rab al-âlamîn dengan berkah asrar (rahasia–pen) kedua hizib yang diwiridkan (diamalkan) pagi sore itu, kedua madrasah tersebut selamat (terpelihara) daripada keganasan ancaman Jepang dan ancaman kaki tangan Jepang, sekalipun berkali–kali mereka datang di Pancor (madrasah) bemaksud menutup (membubarkan) madrasah Walikin yadullâh fauqa aidîhim.
Selanjutnya selamat pulalah keduanya daripada kekejaman ancaman NICA akibat penyerbuan guru–guru Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyyah Islamiyah serta beberapa murid–muridnya pada kubu pertahanan NICA di Selong, yang membawa bukti Sabil (syahidnya) saudara kandung kami Al-Ustaz Al-Hajj Muhammad Faisal Abdul Madjid yang menjelmakan taman bahagia (maksudnya: Taman Makam Pahlawan) di Selong.
Cara pandangnya terhadap penjajahan (Kolonialisme) hampir sama dengan cara pandang masyarakat di Asia. Menurutnya, penjajahan sekalipun merupakan eksplolitasi politik, ia juga merupakan penjajahan agama. Karena dalam tindak-tanduknya, penjajah selalu berusaha untuk mematikan suasana keberagamaan yang hidup di tengah masyarakat, di samping adanya perbedaan agama antara bangsa penjajah dengan bangsa terjajah.
Keempat, dengan mendirikan madrasah (sekolah) yang bertujuan untuk membekali murid–muridnya dengan kecakapan–kecakapan ilmiah yang memungkinkannya untuk menumbuhkan daya pikir dan nalar. Hal ini memiliki arti penting dalam konteks perlawan terhadap penjajahan. Biasanya persoalan yang banyak mendorong penjajah dengan mudah memasuki suatu wilayah untuk dijadikan sebagai daerah jajahan karena masyarakat yang mendiami wilayah tersebut memang lemah di bidang pendidikan.
Di antara madrasah atau Pondok Pesantren yang ada di Pulau Lombok, Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah merupakan satu–satunya Pondok Pesantren yang semenjak dini mengajarkan baca tulis dengan ejaan latin, di samping ejaan Arab. Bahkan termasuk Pondok Pesantren yang paling awal memasukkan ilmu–ilmu umum, seperti berhitung, sebagai salah satu mata pelajaran.
Dengan demikian target yang ingin dicapai dari proses pendidikan yang dilakukan adalah agar murid–muridnya memiliki kecerdasan dan memiliki bekal ilmu, baik agama maupun umum, sebagai bahan untuk memerdekakan diri dari kungkungan kebodohan menuju pembebasan dari kungkungan penjajahan. Pemikiran ini jelas sangat ideal, untuk tidak mengatakan terlampau ideal dengan konteks masyarakat dan kondisi Pulau Lombok pada saat itu. Pemikiran ini memiliki daya jangkau ke depan yang sangat jauh, lebih dari sekedar bagaimana membebaskan diri dari belenggu kolonialisme.
Atas dasar pemikiran inilah kemudian ia menilai Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah sebagai kenang–kenangan yang sangat berharga untuk pulau Lombok. Keberhargaan ini bukan saja disebabkan karena tujuannya untuk masa depan, tetapi juga karena didirikan oleh masyarakat Lombok sendiri. Ini berarti bahwa semenjak awal masyarakat Lombok memiliki kesadaran yang cukup tinggi pada upaya–upaya membebaskan diri dari penjajahan kolonial dan kungkungan kebodohan. Ia merekam hal ini dalam beberapa bait syairnya :Aduh sayang!Nahdlatul Wathan pusakamu sendiri, Dilahirkan Tuhan di Lombok ini, Ciptaan Sasak Selaparang Asli, Wajib dibela sampai akhirati. Aduh sayang! Pelitia NTB bertambah terangnya, Karena NW lahir padanya, Berpartisipasi dengan megahnya, Membela Agama Nusa Dan Bangsa.
B). Pergerakan Sosial-keagamaan Revolusi Kemerdekaan (1945-1949)
Perjalanan NWDI-NBDI dalam perjuangan mempertahankan eksistensi diri sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang sosial keagamaan sangatlah berat, di mana penjajahan Belanda belum mengakui kemerdekaan Indonesia, maka konsekuensinya adalah seluruh kekuatan dan potensi yang dimiliki oleh anak bangsa dipertaruhkan untuk membela kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam konteks ini NWDI-NBDI dan seluruh jajarannya mengambil bagian untuk membela tanah air dan membela jati diri bangsa dan agama dari tangan penjajah.
Sejarah menceritakan bagaimana para murid-murid awal NWDI berjuang mati-matian membela tanah air demi mempertahankan kemerdekaan yang sudah diraih dengan tebusan jiwa dan raga. Pendiri NBDI-NWDI dan NW tampil kepermukaan untuk memimpin pertempuran melawan penjajahan yang ingin mempertahankan jajahannya di bumi pertiwi, sehingga tebusan untuk membela negara tersebut, adik kandung TGKH.M.Zainuddin AM menjadi saksi atas perjuangan mereka dalam konteks mempertahankan kemerdekaan, para syuhada’ yang merupakan penerus dan pelanjut NWDI antara lain, TGH. Muhammad Faishal AM, Sayyid Saleh dan Abdullah, menjadi saksi sejarah betapa berat dan kerasnya perjuangan Pendiri NWDI, NBDI, dan NW mempertahankan kedaulatan RI dari tangan penjajah.
C). Pergerakan Sosial-keagamaan pada Era Orde Lama (1949-1965).
NW sebagai sebuah organisasi Islam yang lahir di Bumi Selaparang, membuktikan dirinya sebagai organisasi yang tetap konsistent dalam prinsip dan responsif terhadap perkembangan zaman, maka NW selalu dapat menyesuaikan diri dengan era di mana NW itu berada. Keberadaan NW di Orde Baru, jelas terjadi pasang surut atau terjadi dinamika di dalamnya, tapi secara umum NW tetap eksis mempertahankan dirinya sebagai organisasi yang bergerak dalam ranah pendidikan, sosial dan dakwah, meskipun era orde lama, stabilitas politik dalam negeri masih kurang kondusif, tapi peluang itu bisa ditangkap oleh Pendiri NW ini untuk memanfaatkan sebaik mungkin guna mempertahankan eksistensi NW dan berikut perjuangannya dalam bidang sosial keagamaan. Tidak sedikit keberhasilan yang diraih oleh NW pada era ini dalam hal memajukan pendidikan, mensejahterakan rakyat melalui lembaga-lembaga sosial yang dibina oleh NW.
D). Pergerakan Sosial-Keagamaan pada era Orde Baru (1966-1997)
Peralihan orde lama ke orde baru sangat memberikan corak terhadap pergerakan organisasi Nahdlatul Wathan. Dengan bertambah usianya NW secara tidak lansung lebih matang dalam mengembang amanat umat dan lebih siap untuk berkonpetisi dengan organisasi-organisasi yang lain. Era Orde Baru bagi NW dapat dikatakan sebagai era yang paling banyak melahirkan lembaga-lembaga pendidikan, sosial, dakwah dan budaya, karena memang orde baru secara priodenisasi sangat lama sekitar 32 tahun. Yang pasti di era ini NW telah banyak memberikan sumbangan pembangunan untuk NTB dan Indonesia dalam segala bidang, baik bidang pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan, pariwisata dan budaya.
Tiga hal inilah menurut pembacaan penulis sebagai alasan akademis dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Tulisan ini terkandung maksud untuk menjadi refleksi Hultah NWDI 83 di Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW di Anjani sekaligus menjadi pembelajaran yang sangat penting dan bersejarah yang kemudian kita para pelanjut misi NW dapat belajar banyak dari segala aspek pemikiran dan perjuangan Maulassyaikh TGKH.M.Zainuddin AM. Semangat Patriotisme, Semangat perjuangan, Semangat pendidikan, semangat pengabdian, dan semangat pergerakan kemadrasahan dan keummatan sepenuhnya tercukupi dalam diri Maulanassyaikh yang harus terus menjadi role model SDM menuju kesempurnaan perjuangan keummatan dan kebangsaan.
Selamat membaca semoga tambah barokah keilmuan kita berkat mengenang jasa guru besar kita Maulanassyaikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Madjid, serta sami’na wa atho’na terhadap pimpinan Organisasi NW, PB NW Ummuna Al-Mujahidah al-Barrah al-Nasikah Hj.Sitti Raehanun Zainuddin Abdul Madjid serta Raden Tuan Guru Bajang KH.Lalu Gede M.Zainuddin Atsani, Sang Kyai Hamzanwadi II). Sekali lagi Selamat HULTAH NWDI KE-83 semoga NWDI Daiman Abadan. Amin.
Dari Murid yang mengharap berkah gurunya-Abu Ahmadu Robbi Roziqi-Fahrurrozi Dahlan).

0 komentar:

Posting Komentar