Selasa, 06 Oktober 2020

MATERI KNB#5. Teknik Mengelola Fokus Menulis

Gimana sih cara membuat tulisan yang tepat dan disukai pembaca? Ada beberapa prinsip yang mesti Anda ketahui dalam menyajikan tulisan yang tepat dan disukai pembaca. Saya sebut dengan 'Tulisan Memikat' , diantaranya Anda lakukan ini :
Tulisan harus rapi dalam artinya memahami fungsi-fungsi tanda baca dan kaidah penulisan yang benar. Bahasa tulisan berbeda dengan bahasa lisan.
Menggunakan bahasa yang sesuai dengan target pembaca kita. Ini penting sebab tingkat keahlian penulis dilihat bagaimana ia menuturkan isi yang komplek kedalam tulis sederhana.
Pilihan kalimat-kalimat yang memancing daya imajinasi dan emosional pembaca.
Sesuaikan dengan kapasitas yang kita miliki berdasarkan ilmu, keterampilan dan pengalaman yang kita miliki. Tidak mengulangi kata-kata yang sama dalam satu kalimat serta gunakan padanan kata yang lain jika menggunakan makna yang sama.
Kuatkan data (sumber) artinya pilih data-data yang kuat untuk menjelaskan satu pembahasan.
Posisikan diri sebagai pembaca. Bagaimana seandainya kamu membaca tulisan sendiri.
Terus, kenapa ide suka loncat-loncat, kesana kemari, alias tidak  konsisten dan gak karuan. Pernah ngalamin kek gini? saya pernah...
Saya katakan pasti diawal Anda akan mengalami kondisi ini, sadar atau tidak. Biasanya muncul saat proses penulisan sebuah buku, "Satu ide belum selesai muncul ide berikutnya dan begitu seterusnya."
Saya katakan pasti diawal Anda akan mengalami kondisi ini, sadar atau tidak. Biasanya muncul saat proses penulisan sebuah buku, "Satu ide belum selesai muncul ide berikutnya dan begitu seterusnya."
Dalam menulis saya percaya dengan prinsip ini, "makin banyak memberi makin banyak menerima." atau pernyataan, "kerja keras enggak akan pernah mengkhianati hasil."
Memberi nilai lebih, kerja lebih keras dan sabar yang kuat dalam belajar dan komitmen itulah nasihat yang diajarkan oleh Jack Ma, untuk mencapai kesuksesan di era ini. Lemahnya kesabaran. Ingin cepat sukses. Tidak fokus, loncat kesana-kemari. Lemahnya daya juang alias gampang nyerah, membuat banyak para pemula gagal di pertengahan jalan, termasuk saat mengawali diri berproses untuk menulis.
Lagi banyak ide tapi  kebingungan gimana nulisnya. Udah nulis tapi di tengah  jalan bingung dan mentok, mandeg...
Malah, tulisan belum juga tuntas, tiba-tiba muncul ide baru. Efeknya merasa bahwa  ide baru lebih bagus dari ide lama yang udah ditulis setengah jalan. Celakanya kondisi justru membuat kita  gampang move on alias gampang loncat pindah menulis ke ide baru, meninggalkan tulisan lama yang dianggap udah gak bagus. Gak menarik lagi untuk dilanjutkan.
Alhasil tulisan lama mangkrak gak tuntas. Jika ini yang sedang dialami oleh teman-teman, saya akan sampaikan bahwa Anda sedang diserang penyakit berbahaya. Penyakit yang biasa menyerang penulis pemula. Penyakit yang bisa menghambat para pemula untuk fokus dan  lebih produktif dalam berkarya... Ini penyakit laten.

Pertama: Tidak selektif dalam memilih ide.
Tidak semua ide itu bagus, bisa jadi itu adalah ujian. Mengapa saya bilang begitu? Sederhananya begini. Jika setiap ide yang mucul Anda turuti tanpa berpikir matang maka yang ada Anda akan diombang-ambingkan oleh ide baru yang selalu muncul setiap saat. Ingat, pikiran kita tidak pernah berhenti menghasilkan ide.
Kabar buruknya, jika kita selalu menuruti ide baru yang tiba-tiba mucul, tulisan yang sudah digarap bisa dengan mudah ditinggalkan begitu saja. Dengan alasan sudah tidak relevan, tidak menarik, gak ada feel lagi buat lanjut nulis.
Solusinya, Anda harus pilih ide dan tetap fokus sampai ide tersebut mewujud menjadi karya. Sampai tulisan tuntas.
"Menuntaskan tulisan jauh lebih baik dari pada tulisan yang dianggap sempurna, namun tidak pernah selesai."

Kedua: Muncul Ide yang Tidak Nyambung  dengan Tulisan Sebelumnya.
Untuk mengatasinya, selalu awali dengan pertanyaan apa hubungannya ide baru ini dengan ide sudah ditulis?
Jika diawali dengan "pertanyaan" tersebut maka ide yang tiba-tiba muncul justru akan menjadi penambah sudut pandangan baru pada tulisan yang sedang ditulis. Cakupan menjadi lebih luas. Bukan malah ditinggalkan.

Ketiga: Tidak Membuat Titik Fokus.
Jika yang disampaikan tidak punya fokus, tulisan jadi kabur. Tidak tepat sasaran. Bahasan jadi kesana-kemari. Menulis itu harus fokus pada satu titik sasaran. Fokusnya pada tujuan atau nilai yang ingin disampaikan.
Misalnya, saat Anda ingin menulis yang tujuannya untuk memberikan orang motivasi dalam berbisnis, maka fokus pada menyampaikan masalah itu saja.
Catatan penting, pisahkan antara menulis dan mengoreksi (membaca ulang tulisan), jangan sampai bersamaan. Tuntaskan tulisan lebih dulu baru koreksi.
Sebab, membaca, menulis, dan mengoreksi hasil tulisan adalah bagian berbeda. Pikiran kita tidak bisa melakukan itu secara bersamaan.
Jika Anda masih ngotot ingin melakukan menulis dan membaca secara bersamaan, maka saya pastikan tulisan tidak akan selesai dan Anda akan berputar-putar pada mengoreksi tulisan sendiri terus menerus sampai ada malas menyelesaikan tulisan. Maka fokuslah sampai tulisan  Anda selesai!!!

Sekarang sudah tahu kan apa yang harus dilakukan jika tiba-tiba ide baru datang?
Nah sebelum lanjut ke pondasi terakhir yang akan memberikan penegasan terhadap empat pondasi yang sudah dijelaskan, karena saya menyusun buku ini dengan tujuan Anda bisa belajar dan action menulis sehingga bisa mempraktekannya sendiri.

Jadi silahkan 1). Buat Rencana dan kerangka buku  yang ingin Anda tulis. Kemudian 2 ) Kembangkan ide tulisan Anda baik saat membuat kerangka ataupun menulis dengan pertanyaan-pertanyaan yang anda buat dipikiran sendiri untuk mengembangkan ide. Selanjutnya 3). Tulis dengan cepat . Bebaskan diri, pacu kemampuan pikiran Anda dalam menghasilkan ide.
Nah untuk bisa memicu menulis cepat maka tentukan target halaman yang ditulis dan waktu yang dibutuhkan untuk menulis, seperti yang sudah saya jelaskan, lalu fokus nulis satu ide sampai selesai jadi buku.

Keempat pondasi ini harus dijalankan secara berkesinambungan.
Satu pola tidak dijalankan dengan baik maka akan berakibat buku anda mandeg di tempat. Namun jika dijalankan dengan baik maka proses menulis akan berjalan dengan baik dan lancar, tanpa hambatan.

 Pola ini sudah dirasakan oleh ratusan penulis binaan saya.
Mereka rata-rata adalah penulis pemula yang belum punya pengalaman menyelesaikan tulisan. Dan banyak dari mereka sudah berhasil menulis buku dan menerbitkan karya mereka.

Kita akan masuk pada pondasi terakhir. Ini adalah kuncinya.
 
4). Konsisten  menulis itu dibangun dengan disiplin menulis. Disipin menulis dibangun dengan kesadaran dan alasan kuat Anda menulis—seperti yang sudah saya jelaskan diawal tentang ‘why’ anda pasti sudah paham kan?
Cuma ada satu masalah yang biasa kita hadapi yaitu mood yang berubah-ubah, betul?

Sebagaimana yang sudah kita tahu mood itu ada dua, mood baik dan mood buruk.
Kalau mood baik gak jadi masalah justru itu bagus bisa membuat kita lebih semangat dalam menulis. Tapi jika mood buruk datang, ini yang kadang bermasalah. Anda bisa tiba-tiba mandeg, males, berat bahkan hilang selera menulis atau apapun.
Kabar buruknya, jika kita menunggu mood buruk berhenti berganti dengan mood baik tidak ada kepastian sehingga membuat tulisan jadi mangkrak. Ini masalah.
Mood itu biasanya dipengaruhi oleh emosional kita. Nah faktor-faktor yang mempengaruhi emosional itu banyak banget. Misalnya ada berantem, cek-cok dengan pasangan atau teman mood bisa mempengaruhi mood. Kecapean kerja, kurang tidur, telat makan dan lainnya.
Untuk mengubah emosi, caranya sebetulnya simpel yaitu dengan merubah gerak. Misalnya anda lagi sedih, jika posisi badan merunduk maka sedih anda akan bertambah, coba ganti gerak dengan mengangkat wajah ke atas. Atau anda sedih coba ketawa, pancing agar bisa ketawa dengan nonton comedi. Maka seketika mood anda akan berubah jadi senang.
Begitupun dengan menulis. Saat gak ada semangat, melas, bosen, bete dan lainya untuk nulis, coba saja paksakan buka laptop dan nulis minimal 25 menit pertama. Percaya deh mood anda akan berubah jadi lebih baik.
Dalam konteks ini saya ingin mengaris bawahi soal paksakan diri menulis. Orang yang disipin itu bukan berarti orang yang secara mood stabil. Itu gak mungkin.
Tapi mood itu akhirnya ia kontrol dengan bergerak. Misalnya anda wajib datang ke kantor setiap hari kecuali libur. Setelah anda tahu alasan jelas kenapa harus kekantor setiap hari, maka selanjutnya pakasakan diri untuk action datang ke kantor setiap hari.
Diawal memang harus dipaksakan dulu, lama-lama akan terbiasa. Cirinya kalau sudah terbiasa maka akan merasa bersalah, gak enak jika tidak melakukan aktifitas kebiasaan tersebut. Seperti menulis. Kita akan merasa gak enak kalau sehari saja gak nulis. Jika sudah terbangun hal demikian maka menulis akan menjadi stabil, mood atau gak mood tetap bisa terkontrol.
Dalam konteks menulis buku, maka rencana yang sudah anda buat harus dipakasakan untuk dijalani. Misalnya tugas harian anda adalah menulis 5 halaman dalam 2 jam setiap hari, maka paksakan Anda menjalankannya mulai dari 10 hari pertama, lanjutkan 10 hari kemudian dan sampai buku selesai.
Jika tidak maka saya tidak menjamin buku ini akan memberikan manfaat kepada Anda sehingga karya anda selesai. Siap? Berani? Silahkan tulis dan lanjutkan tulisan Anda.
Tulis, tulis sekebut-kebutnya seperti Anda lagi ujian. Tidak masalah tulisan Anda jelek, berantarakan, gak kauran. Tidak masalah. Tulis saja selesaikan. Karena setelah tulisan Anda selesai barulah masuk pada proses self editing.
Sebuah proses dimana Anda harus memperbaiki tulisan anda sampai akhirnya tulisan tersebut layak dan enak dibaca sehingga bisa dikonsumsi oleh orang lain. Kita akan bahas di bab selanjutnya...

0 komentar:

Posting Komentar