Senin, 05 Oktober 2020

MATERI KNB#4. Teknik Mengemas Paragraf Menarik

 Selain membuat diksi-diksi yang apik dan mengemas judul yang diminati pembaca bahkan memicu penjualan, yang mesti kita pelajari dalam mengembangkan skill nulis adalah membuat paragraf. Mau tidak mau, paragraf yang menarik akan membuat pembaca betah berlama-lama membaca tulisan Anda.
Lalu, gimana caranya membuat paragraf yang menarik? Teknik menulis ini membutuhkan ketelatenan, ketekunan, dan ketelitian.
Catat ya...
Paragraf menarik adalah yang enak untuk dibaca, mudah dipahami, dan tidak membosankan.
Sayangnya tidak banyak orang mudah melakukannya. Terutama penulis pemula. Jangankan menulis satu karya, menulis satu paragraf pun kesulitan. Iya kan?
Kita bisa melakukan dengan mengutip salah satu sumber referensi yang kita baca. Bisa juga kita menuliskan kalimat yang menarik menurut kita.
Dalam ilmu jurnalistik sih, ada istilah teras berita atau yang biasa disebut dengan LEAD. Pertanyaannya, "Gimana seandainya kita merasa kesulitan bikin paragraf pembuka?"
Ini rumusnya:

Teknik Menulis Paragraf Pembuka
Sesuai dengan namanya, paragraf pembuka ditulis sebagai kalimat pembuka. Sebagai paragraf pembuka, seorang penulis diuji kemampuannya dengan menyampaikan kalimat yang tidak berbelit-belit. Paragraf pertama harus memiliki kekuatan.
Tujuannya agar pembaca tertarik, penasaran, dan melanjutkan membaca ke paragraf kedua.
Paragraf pertama sengaja dikemas agar menarik pembaca. Poin ini tidak hanya diterapkan dalam teknik menulis buku, juga bisa diterapkan ke tulisan lain, seperti artikel dan copywriting .
Pembuka yang menarik akan mempengaruhi banyak sedikitnya pembaca. Lead bisa ditulis dengan menonjolkan “who” atau “what.”
Selain menonjolkan dua pertanyaan tersebut, ada cara lain membuat paragraf pembuka yang menarik, yaitu kalimat yang mengandung konflik.
Konflik dalam hal ini tidak selalu diidentikkan dengan konflik kontra, tetapi dalam arti lebih luas.

Paragraf Pengembang
Dilihat dari fungsinya sih sebagai kalimat penjelas. Kalimat yang menerangkan lebih detail dan menjelaskan dari topik yang ingin disampaikan. Sebagai paragraf pengembang, maka tulisan yang ditulispun harus runtut . Setidaknya paragraf satu dengan paragraf lain harus saling berkaitan satu sama lain.
Fungsi paragraf pengembang saat menulis buku tidak hanya nyambung, tetapi juga logis.
Wajar jika selama proses penulisan, seorang penulis mampu mengemukakan inti dari persoalan yang akan dikupas.
Tanpa tahu inti permasalahan, tulisan kita akan terasa hambar dan kering. Pembahasan dan pengembangan tulisan pun benar-benar tuntas, agar pembaca puas saat membaca.

Ketiga, Teknik Menulis Paragraf Penutup.
Tidak perlu saya jelaskan deh, Anda sudah tahu paragraf penutup. Setiap kali menulis buku selalu ditutup dengan kesimpulan. Lalu, apakah setiap buku selalu ditutup dengan kesimpulan? Kenyataannya, tidak semua buku ditulis dengan kesimpulan yang jelas. Salah satu contohnya buku fiksi, yang ditutup dengan ending cerita mengantung.
Ending mengantung, dan diserahkan kepada pembaca, sengaja membuat pembaca bertanya-tanya dengan ending cerita.
Lalu, bagaimana katagori paragraf penutup yang baik?
Adapun ciri kesimpulan yang baik, kesimpulan yang mampu mengarahkan agar pembaca berfikir.
Berfikir dalam hal ini lebih pada membangun ide, kreatifitas dan mendorong pembaca untuk melakukan action nyata.
Hampir sebagian besar, memilih membaca kesimpulan akhir daripada membaca keseluruhan isi.
Begitupun ketika kita terlibat dalam teknik menulis. Buku yang menyertakan kesimpulan setiap bab, atau akhir bab lebih mudah dipahami oleh pembaca, dibandingkan dengan tulisan yang tidak diberi kesimpulan sama sekali.
Paragraf penutup yang baik seharusnya memaparkan jawaban atas ulasan yang diangkat.
Tidak hanya itu, penutup yang bagus adalah penutup yang menawarkan kesimpulan hasil dari pembahasan yang dipaparkan.
Tidak dapat dipungkiri, pembaca lebih nyaman dan terbantu dengan kesimpulan yang singkat, padat, jelas dan mudah dimengerti.
Sebagai analogi sederhana, tentu Anda mengingat pentingnya kesimpulan pada jurnal penelitian.
Kira-kira, kita lebih nyaman membaca keseluruhan isi? Atau lebih pada kesimpulan akhir yang ditawarkan oleh si penulis.
Dari tiga bentuk paragraf tersebut, semoga memberikan manfaat. Semoga dengan ulasan ini membantu memahami dan memudahkan kita lebih mahir menulis.
Jika menulis buku masih dirasa berat, kita bisa memulai dengan menulis barang tiga paragraf, atau satu judul tulisan.

0 komentar:

Posting Komentar