Senin, 05 Oktober 2020

MATERI KNB#3. Mengolah Diksi, Cara Efektif Mengolah Kata

 Kalau selama ini kita sering bertanya-tanya, merasa aneh sendirl saat membaca kata-kata ajaib seorang penulis, hingga muncul pertanyaan, "kok bisa yah," bikin kalimat dalem gitu !!!

Gimana sih caranya?

Caranya paling umum adalah banyak baca, belajar mengolah kata, mengganti kosa kata, dll. Tapi, belakangan ini, saya berpikir lagi, malah sata sering sekali menemukan suatu kalimat, paragraf, yang rasanya, tersusun kata-kata yang biasa saja. Tapi, begitu menjadi kesatuan yang utuh, kok nusuk rasanya. #jleb

Penulis yang paling saya kagumi adalah Dee Dewi Lestari. Saya akan paparkan cara Dee menyusun diksi. Coba perhatikan ini.

"Dongeng Perempuan muda itu benar. Dirinya bukan malaikat yang tahu siapa lebih mencintai siapa dan untuk berapa lama. Tidak penting. Ia sudah tahu. Cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang. Bukan baginya. Cintanya tak punya cukup waktu untuk dirinya sendiri. Tidak perlu ada kompetisi di sini. Ia, dan juga malaikat, tahu siapa juaranya." (Malaikat Juga Tahu – Dee)

"Aku tidak tahu kemalangan jenis apa yang menimpa kamu, tapi aku ingin percaya ada insiden yang cukup dasyat di dunia serba seluler ini hingga kamu tidak bisa menghubungiku. Mungkinkah matahari lupa ingatan lalu keasyikan terbenam atau terlambat terbit? Bahkan, kiamat pun hanya bicara soal arah yang terbalik, bukan soal perubahan jadwal." (Selamat Ulang Tahun – Dee)

"Ingin rasanya aku ikut berlari, berteriak agar kau kembali, mencengkeram bahumu agar kau tahu aku ada di sini. Namun, bahasaku tinggal rasa. Dan entah bagaimana caranya agar rasa bisa bersuara jika raga tak lagi ada. Aku hanya ingin merengkuhmu. Adakah engkau tahu? Aku ada. Setahun sudah sejak kau mencatat tanggak kepergianku, dan memang aku tak perneh kembali dalam bentuk yang kau harapkan. Namun, adakah engkau tahu? Aku masih ada. Meski mendapatkanmu seperti lawatan ke museum tempat segala keindahan dikurung etalase kaca hingga berlapis saat disentuh, aku tetap merasa utuh." (Aku Ada – Dee)

Aku menatapnya sambil meratap. Tolong aku. Dunia tidak lagi sama. Hidup ini menjadi asing. Aku sedih untuk sesuatu yang tak kutahu. Aku galau untuk sesuatu yang tak ada. Dan jari ini ingin menunjuk sesuatu yang bisa menjadi sebab, tapi tak kutemukan apa-apa. Pada saat yang sama, seluruh sel tubuhku seperti berkata lain. Mereka tahu sesuatu yang tak dapat digapai pikiran. Apa rasanya, jika tubuhmu sendiri menyimpan rahasia darimu?
(Firasat – Dee)

Aku tak pernah tahu ke mana aku saat kutidur. Aku tak pernah tahu ke mana orang-orang pergi saat mereka tidur. Yang kutahu, kita tiba di suatu tempat. Kita bahkan tidak mengerti mengapa dan bagaimana kita bisa di sana. Sementara yang kita lakukan hanyalah memejamkan mata. (Tidur—Dee)

Cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang. Bukan baginya. Cintanya tak punya cukup waktu untuk dirinya sendiri. Tidak perlu ada kompetisi di sini. Ia, dan juga malaikat, tahu siapa juaranya. (Malaikat Juga Tahu – Dee)

"Ingin rasanya aku ikut berlari, berteriak agar kau kembali, mencengkeram bahumu agar kau tahu aku ada di sini. Namun, bahasaku tinggal rasa. Dan entah bagaimana caranya agar rasa bisa bersuara jika raga tak lagi ada. Aku hanya ingin merengkuhmu. Adakah engkau tahu? Aku ada. Setahun sudah sejak kau mencatat tanggak kepergianku, danmemang aku tak perneh kembali dalam bentuk yang kau harapkan. Namun, adakah engkau tahu? Aku masih ada. Meski mendapatkanmu seperti lawatan ke museum tempat segala keindahan dikurung etalase kaca hingga berlapis saat disentuh, aku tetap merasa utuh." (Aku Ada -Dee)

Mengapa banyak pemerhati sastra mengatakan, sebuah produk sastra itu mewakili diri penulis. Bukan hanya sekadar ide cerita yang bermula dari kehidupan pribadinya.

Sastra yang ditulis itu menjadi wakil pandangan hidup, cara berpikir, usaha untuk meninti kearifan, dan segala yang tramat personal bagi seorang penulis, bukan semata olah kata-kata semata yang kosong akan makna dan penghayatan.

Ternyata, itulah kuncinya !!!!

KEJUJURAN dalam menulis. Ini termasuk di dalamnya. Tapi KEJUJURAN itu menjadi hal yang absurd dan susah dipelajari.

Sekarang, mari kita ulas dulu satu-satu bagaimana Dee menuliskan ini, “Cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang.” (Malaikat Juga Tahu).

Bagaimana Dee bisa mendiskripsikan CINTA seperti itu?

Pada kasus kalimat tadi, itu adalah salah satu hasil perenungan, hasil berfilosofi, yang dilakukan Dee. Dia menuliskan sebuah konsep, bukan sekadar susunan kata-kata indah. Itulah mengapa daya ungakapnya luar biasa.

Seperti juga indah ini, “AKU INGIN MENCINTAIMU DENGAN SEDERHANA. DENGAN ISYARAT YANG TAK SAMPAI DIUCAP OLEH KAYU KEPADA API YANG MENJADIKANNYA ABU” (Sapadari Djoko Damono)

Nah, proses berpikir, merenung, menyingkir dari kehebohan dunia itulah yang tidak dilakukan banyak penulis. Sebagian terjebak pada keinginan untuk memperindah kalimat semata. Bukan memperdalam makna. Sehingga kata2nya memang tampak mendayu, tapi ringan dan cair.

Justru yang menjadi pertanyaan, kapan terakhir kita berpikir mendalam tentang sesuatu?

Pernahkah kita benar-benar merenung apa sebenarnya TIDUR itu?

Maknanya?

prosesnya?

Sebab, meski kita sama-sama TIDUR, Dee menuliskannya, sedangkan kita belum:

"Aku tak pernah tahu ke mana aku saat kutidur. Aku tak pernah tahu ke mana orang-orang pergi saat mereka tidur. Yang kutahu, kita tiba di suatu tempat. Kita bahkan tidak mengerti mengapa dan bagaimana kita bisa di sana. Sementara yang kita lakukan hanyalah memejamkan mata." (Tidur—Dee)

Sekarang mari kita latihan, membuat diksi sesuai konsep di atas.

Contoh 1: ANAK.
1. deskripsi: Anak bagiku seperti jiwa yang kuletakkan pada tubuh asing.

2. kata terkait: Aku melihat kehidupanku pada cara anakku belajar berjalan.
Nggak usah dipuitis-puitiskan, kan yang penting mewakili konsep kita. Bukan konsep umum.

Contoh 2: Hidup: menyuap udara; saat satu tarikan udara terasa melelahkan, kematian menjadi yang didamba.

Contoh 3: Rindu: rindu bukan tentang jarak, tapi hati yg teresonansi.

Tentang MAKAN, bisa bermakna cara mendapatkannya atau malah DAMPAK pada sistem tubuh kita. Nah, penulis yang perenung, dia bukan hanya membahas kerumitan KULIT tapi juga.

Contoh 4: Takut
Takut itu bukan saat kau melihat setan. takut itu saat kau menatap wajah pulas anak-anakmu, dan kau tak bisa memastikan kau akan selalu ada menjaga mereka.

Contoh 5: UANG. Apa susahnya membuat konsep UANG. Anak SD bilang: Uang adalah recehan seplastik yang diberikan ibuk untuk kuhabiskan sehari ini. Anak SMP: Uang adalah jumlah rupiah tak adil dari ibu yang mesti pintar kubagi antara pulsa, makan dikantin, dan malam mingguan. SEORANG BAPAK: Uang adalah setiap sen yang bisa kukumpulkan dengan susah payah dan kubagi dengan hati-hati.

Nah kaaaaaaaan….nggak rumit…butuh jujur aja.

Contoh 6:
Bawang: sesuatu yang kemarin kautemui di dapur mungilmu dan hari ini menggelisahkan presidenmu lebih dari persiapan Pemilu.

Nah, begitu. Silakan membuat kesimpulan dan penutup sendiri. Intinya semua teknik seperti yang digunakan penulis-penulis hebat itu bisa dipelajari.

Meski nggak mudah. Tapi saya yakin, semakin kita belajar dan berlatih, semakin lancar kita menggunakan diksi yang keren dalam tulisan kita.

0 komentar:

Posting Komentar