Kamis, 22 Oktober 2020

KONDISI ORANG BERZIKIR

Kondisi pertama, yaitu mabuk dan fana, terjadi pada orang yang hanya mengingat-Nya tanpa mengingat yang nama lain. Ia menjadikannya sebagai penyelamat dan menyatakan penyebutan ha’ dalam nama ini saat menyebutnya.

Barang siapa mendawamkan ini, lahirnya terhapus dan batinnya lenyap.

Secara lahir, ia seperti orang gila dan mabuk yang hilang akal.

Orang-orang menghindarinya dan tidak mau bersama kondisi mabuk yang menghiasi lahirnya serta rahasia nama-Nya yang ia ingat. Tak seorang pun dapat mengingat sifat Tuhan secara hakiki sedikit pun. Jiwa yang mengingat-Nya menjadi tidak stabil, sehingga keadaannya di tengah-tengah makhluk sebagaiman dikatakan Allah Swt.:

“Ketika itu tidak ada lagi hubungan nasab di antara mereka dan mereka tidak saling tegur bertegur sapa.”
Batinnya seperti orang mati yang fana, karena ia dalam kondisi “luar biasa”.
 
“La ilaha illa Allah” bagi kalangan umum (awam) menjadi pembersih pemahaman mereka dari segala kotoran dan ilusi serta merupakan pengakuan akan keesaan-Nya dan penafian atas keberadaan tuhan selain-Nya.

Bagi kalangan khusus (khawash), ia menguatkan agama, menambah cahaya harapan dengan menetapkan zat dan sifat-Nya serta menyucikan-Nya dari segala perubahan dan cacat.

Bagi kalangan yang lebih khusus lagi (khawash al-khawash), ia merupakan bentuk penyucian dalam zikir kepada-Nya serta penyaksian anugerah dan karunia-Nya dengan syukur-Nya sebagai balasan atas syukur mereka.
 
Anggota badannya tunduk dan hatinya khusyuk. Allah Swt. berfirman:
 
Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.107
 
Kamu lihat sebelumnya bumi ini kering, lalu apabila telah Kami turunkan air padanya, bumi manjadi hidup, subur, dan menumbuhkan berbagai macam tumbuhan indah. 108
 
Kondisi kedua, yaitu  hidup dan kekal, terjadi ketika orang yang mengingat-Nya berada dalam, dan senang dengan, nama ini serta seluruh gambaran dan sifat dirinya melenyap, perasaan rida menyusup dalam dirinya, segala kehendak dan keinginan dirinya mati, serta dirinya terbebas dari adat dan syahwat. Ia telah keluar dari sifat-sifat tercelanya dan berpindah dari kondisi mabuk dan fana kepada kondisi hidup dan kekal.

Dengan begitu, ia memiliki kemuliaan dan wibawa di tengah-tengah manusia. Seluruh makhluk menghormati, takut, dan tunduk kepadanya.

Kondisi ketiga, yaitu kondisi puas dan rida, dialami orang yang berzikir dengan nama ini ketika ia mengagungkan perintah Allah, menyayangi makhluk-Nya, mentaati agama Allah,  menjadikan dirinya bersama Allah dan untuk Allah, tidak terpengaruh oleh makhluk, serta tidak ada lagi sesuatu pun membebaninya-dengan izin Allah. Itu berpindah dari kondisi hidup dan kekal kepada kondisi puas dan rida. Ia senantiasa hidup tenang, mulia, puas, dan rida.
Tidak ada hal yang mengganggunya. Hidupnya bersih dan lurus. Ia demikian kukuh dalam kondisinya dan merasa tenteram.
Ia di tengah-tengah makhluk bagaikan hujan, yang, ketika turun dimana saja, menyuburkan dan menumbuhkan kebaikan. Ia puas dan rida kepada Allah.
Sebaliknya, Allah pun rela dan rida kepadanya.

Allah Swt. berfirman, “Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang lain, maka Mahasuci Allah, Pencipta Terbaik.”109

Sumber : Buku Terapi Makrifat “ Rahasia Kecerdasan Tauhid”
Oleh : Syeikh Ibn ‘Athaillah as-Sakandari

0 komentar:

Posting Komentar