Kamis, 22 Oktober 2020

KISAH TENTANG "BERZIKIR"

 Alkisah, seorang miskin duduk dalam majelis al-Syibli. Orang tersebut mengucap, “Allah”. Mendengar itu, al-Sybli berujar,

“ Wahai fulan, jika tulus, niscaya engkau terkenal, namun jika berdusta, niscaya engkau binasa.”

Seseorang mengucapkan kata yang sama dihadapan Abu al-Qasim al-Junayd.

Al-Junayd bertutur,”Wahai saudaraku, jika Zat yang kau sebut menyaksikanmu dalam kondisi engkau hadir bersama-Nya, engkau telah membuka tirai dan kehormatan dengan sifat pecinta yang mabuk kepayang.

Namun, jika engkau menyebut-Nya dalam kondisi lalai kepada-Nya, zikirmu tanpa kehadiran-Nya, dan itu haram.”

Diceritakan bahwa Abu al-Hasan al-Tsawri berdiam di rumahnya selama tujuh hari tanpa makan, minum, dan tidur. Ia terus mengucap, “Allah, Allah.”

Keadaannya itu kemudian diceritakan kepada Abu al-Qasim al-Junayd.

Al-Junayd berkata, “Waktunya tetap terjaga?” Dijawab, “Ya. Ia melakukan sholat tepat waktunya.”

Al-Junayd berkata, “Segala puji bagi Allah Yang telah menjaganya dan tidak memberikan jalan kepada setan untuk menguasainya.”

Ia lalu bertutur kepada muridnya, “Mari kita kunjungi dia! Kita dapat memberi atau mengambil manfaat darinya.” Sesampainya di sana, al-Junayd menghampiri al-Tsawri dan berujar, “Wahai Abu al-Hasan, engkau mengucap Allah, Allah.” Apakah itu bersama Allah atau dengan dirimu sendiri?

Jika engkau mengucapkannya bersama Allah, bukan engkau yang mengucapkannya, tetapi Dia-lah yang mengucap lewat lisan hamba-Nya.

Jika engkau mengucapkannya dengan dirimu, engkau masih bersama dirimu.”

Al-Tsawri berucap, “Engkau memang pendidik terbaik, wahai ustaz,” sebelum langsung terdiam dan tidak sadar.
 
Aku mabuk kepada-Mu dengan zikir
yang Kau tuangkan
Ia terisi zikir kepada-Mu dan fana karena merindu-Mu
Barangsiapa tidak merindukan cinta yang merasuki akal
Ia sungguh malang dan menderita
Zikir adalah lenyap mengingat-Nya disertai lenyap
dari selain-Nya akibat mabuk yang dirasakan
Barang siapa masih sadar, ia tidak berzikir
Barang siapa lenyap dari zikirnya, layaklah ia untuk naik.
 
Ketahuilah, zikir adalah keluar dari kealpaan dan kelalaian dengan terus menghadirkan hati dan mengikhlaskan zikir lisan disertai perasaan bahwa Tuhanlah yang mengucapkan zikir dengan lisan hamba.

Ada yang berpendapat, zikir adalah keluar dari lubang kelalaian menuju angkasa penyaksian disertai perasaan takut, cinta, dan rindu.

Hakikat zikir adalah mengesakan Tuhan dengan si pezikir lenyap dari zikirnya sendiri, fana dalam kesaksian-Nya, serta hidup dalam penyaksian-Nya. Ia menyaksikan kebenaran lewat kebenaran, sehingga Allah lah yang berzikir dan dizikiri.

Dilihat dari sisi bahwa zikir mengalir lewat lisan hamba, hamba berzikir.

Dilihat dari kemudahan dan kemampuan yang diberikan pada lisannya, Dialah yang berzikir mengingat hamba-Nya.

Dilihat dari sisi bahwa Allah-lah yang menghembuskan ingatan, Dia berzikir akan diri-Nya lewat lisan hamba-Nya.

Dalam hadis sahih diriwayatkan bahwa Allah berfirman, “Aku menjadi pendengaran yang digunakannya untuk mendengar, penglihatan yang digunakan untuk melihat, dan lisan yang dipakainya untuk berucap.”110

Dalam Riwayat lain: “Aku menjadi pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, dan penolongnya.”

Zikir beragam, tetapi objeknya hanya satu. Ahli zikir adalah para kekasih Tuhan.

Zikir terdiri dari tiga macam: zikir lantang, zikir sunyi, dan zikir hakiki.

Zikir lantang untuk para pemula. Ia berupa zikir lisan yang merupakan ungkapan syukur dan pujian dengan mengagungkan nikmat dan karunia-Nya serta memelihara janji. Kebaikannya dibalas sepuluh hingga tujuh puluh kali lipat.

Zikir sunyi dalam batin milik para wali. Ia merupakan zikir hati dengan keluar dari kekosongan dan terus menyaksikan kehadiran Tuhan. Zikir ini mendapat balasan kebaikan tujuh puluh hingga tujuh ratus kali lipat.

Zikir sempurna dan hakiki dilakukan orang-orang yang sampai kepada Tuhan. Ia berupa zikir ruh dengan penyaksian Tuhan kepada hamba. Kebaikan zikir ini dibalas tujuh ratus kali lipat hingga tak terhingga. Itu karena penyaksian adalah kefanaan yang tidak menyimpan kelezatan.
Ruh berzikir mengingat zat-Nya, hati berzikir mengingat sifat-sifat-Nya, dan lisan berzikir sebagai kebiasaan.
Jika zikir ruh benar-benar terwujud, hati ditempati zikir-Nya. Zikir keagungan zat Tuhan mengisyaratkan terwujudnya kefanaan dan kedekatan kepada-Nya.
Apabila zikir hati benar-benar terwujud, lisan terdiam dan tak mampu lagi maenyebut-Nya. Ia merupakan zikir tentang karunia dan nikmat Tuhan sebagai jejak-jejak sifat-Nya.
Ketika hati lalai dari zikir, lisan berzikir sebagai kebiasaan.

Setiap jenis zikir tersebut memiliki ‘cacat’.
Cacat zikir ruh adalah terlihatnya rahasia hati.
Cacat zikir hati adalah terlihatnya diri.
Cacat zikir diri adalah kondisi saat menghadapi penyakit.
Cacat zikir lisan adalah kelalaian dan patah semangat.

Sumber: Buku Terapi Makrifat “Rahasia Kecerdasan Tauhid”
Oleh : Syeikh Ibn ‘Athaillah al-Sakandari.

0 komentar:

Posting Komentar