Kamis, 22 Oktober 2020

KEDUDUKAN SHALAT SETELAH TAUHID

 Setelah tauhid, tidak ada yang lebih agung dari pada sholat. Karena itu, sholat menjadi pilar kedua Islam sebagaimana sabda Nabi saw., “Islam dibangun di atas lima pilar: mengesakan Allah, mendirikan shalat….”98

Takbir pembuka sholat adalah “Allahu Akbar”, bukan nama lainnya.
Hanya ucapan itulah yang dibenarkan sebagaimana sabda Nabi saw., “Ucapan pembukanya adalah takbir.”

Demikian pula halnya dengan penyebutan nama tersebut dalam azan dan pada setiap takbir dalam sholat.
Penyebutan nama ini lebih baik daripada semua ibadah dan lebih dekat untuk munajat, bukan sholat atau bentuk ketaatan lainnya.

Dalam hadist qudsi difirmankan:
 
Aku adalah teman duduk bagi orang yang berzikir kepada-Ku. Aku menurut prasangka hamba-Ku kepada-Ku saat ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hati, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat sendiri, Aku mengingatnya dalam kesendirian-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kerumunan, Aku mengingat-Nya di kerumunan yang lebih baik daripada kerumunan itu.99
 
Allah Swt. berfirman, “Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepada kalian.”100

Dalil bahwa zikir ini lebih utama daripada shalat adalah ayat yang sama:

“Sesungguhnya shalat mencegah [diri] dari kekejian dan kemungkaran, dan zikir [mengingat] Allah adalah lebih besar [daripada ibadah-ibadah lain].”101

Sebagian besar sholat adalah zikir, namun zikir menyebut Allah lebih besar daripada sholat itu sendiri dan seluruh ibadah lain.

Firman-Nya, “Zikir [mengingat] Allah adalah lebih besar.”

Abu al-Darda’ meriwayatkan bahwa Nabi saw. bertanya,
“Maukah kuberitakan kepada kalian amal terbaik yang paling mengangkat derajat dan paling bersih disisi Tuhan kalian, lebih utama bagi kalian daripada bederma emas dan perak, serta lebih baik daripada menjumpai musuh dengan kalian memenggal leher mereka dan mereka pun memenggal leher kalian?”
Para sahabat menjawab, “Tentu kami mau.”
Beliau saw. bersabda, “Zikir [mengingat] Allah.”102

Maknazikir Allah terhadap hamba-Nya adalah bahwa barangsiapa mengingat-Nya dengan tauhid, niscaya Allah mengngatnya dengan surga dan tambahan karunia.

Allah Swt. berfirman, “Allah memberi mereka pahala sebagai balasan atas perkataan yang mereka ucapkan. Yaitu surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, sedangkan mereka kekal didalamnya.”103

Barang siapa mengingat-Nya dengan menyebut nama Allah lalu ia berdoa kepada-Nya dengan ikhlas, niscaya Dia kabulkan.

Allah Swt. berfirman,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku amat dekat.”104

Barang siapa berzikir mengingat-Nya dengan bersyukur, niscaya Dia mengingatnya dengan memberi tambahan nikmat.

Allah Swt. berfirman, “Sungguh jika kalian bersyukur, Aku benar-benar menambahi kalian [nikmat].”105

Tidaklah seorang hamba mengingat-Nya dengan zikir melainkan Allah mengingatnya secara sepadan sebagai balasan untuknya.

Bila seorang arif berzikir mengingat-Nya dengan makrifat, Dia mengingat-Nya dengan menyingkap hijab agar ia menyaksikan-Nya.

Bila seorang mukmin mengingat-Nya dengan keimanan, Dia mengingat-Nya dengan rahmat dan rida-Nya.

Bila orang bertobat mengingat-Nya dengan tobat, Dia mengingatnya dengan menerima tobatnya dan memberinya ampunan.

Bila pelaku maksiat mengingat-Nya dengan pengakuan dosa, Dia mengingatnya dengan penutupan aibnya.

Bila pelaku dosa mengingat-Nya dengan dosa dan kelalaian, Dia mengingatnya dengan siksa dan laknat-Nya.

Bila seorang kafir mengingat-Nya dengan kekufuran dan kesongongan, Dia mengingatnya dengan siksa dan hukuman-Nya.

Barang siapa bertahlil, niscaya Dia muliakan.

Barang siapa bertasbih, niscaya Dia perbaiki.

Barang siapa bertahmid, niscaya Dia tolong.

Barang siapa meminta ampun, niscaya Dia ampuni.

Barang siapa kembali kepada-Nya, niscaya Dia hampiri.

Sumber: Terapi Makrifat “Rahasia Kecerdasan Tauhid”
Oleh : Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari

0 komentar:

Posting Komentar