Jumat, 30 Oktober 2020

Cahaya dan Sinar Tauhid Bagaikan Lampu dalam Lentera

 Dikatakan, cahaya dan sinar tauhid [dalam] hati tak ubahnya seperti lampu dalam lentera.

Akal adalah airnya, sementara ilmu adalah minyak dan ruh lampu.

Dengan banyaknya ilmu, terwujudlah ruh keyakinan; Allah menguatkan mereka dengan ruh dari-Nya.

Iman adalah sumbu dan pilarnya.

Sesuai dengan kadar kebeningan lentera yang tidak lain adalah hati yang ikhlas, tampaklah warna air akal pendukung.

Sesuai dengan kadar kejernihan dan keluasan minyak yang tak lain adalah ilmu, bersinarlah cahaya iman.

Sesuai dengan kadar kekuatan dan kualitas sumbu, menguatlah keyakinan seperti menguatnya iman dengan sikap zuhud, takut [akan azab Allah], dan cemas [akan murka Allah].

Dengan terangnya cahaya hati, teranglah jiwa, antara lain dengan ilmu dalam takwa, warak, dan makrifat, serta lenyapnya hawa nafsu dan syahwat.

Ilmu pun menjadi tempat tauhid, dan kekuatan hamba dalam tauhidnya sesuai dengan kekuatan ilmunya sebagai tempat tauhid.
Tawakal adalah perbuatan hati, sementara tauhid adalah perbuatan hati.
Majelis termulia dan terhormat adalah duduk tafakur dalam medan tauhid.

Setiap kali hati bertambah luas dengan ilmu, bertambahlah zuhudnya terhadap dunia, lenyaplah hawa nafsu, sifat tamak dan angan-angan, meningkatlah imannya, dan menyempurnalah tauhidnya.

Ada yang mengungkapkan, hati ibarat arasy dan dada ibarat Kursi. Apabila dada demikian luas dengan ilmu keimanan dan lapang dengan cahaya keyakinan, ia menjadi Kursi yang ilmunya menampung lahiriah dan batiniah alam malakut. Ia menjadi arus yang mengalir dalam pengetahuan seraya berakhlak dengan akhlak Tuhan.

Dalam sebuah Riwayat, Allah Swt. berfirman,

“Seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunnah hingga Aku mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar.”118

Sumber: Buku Terapi Makrifat
“Rahasia Kecerdasan Tauhid”
Oleh : Syeikh Ibn ‘Athaillah al-Sakandari

0 komentar:

Posting Komentar