Belajar Bersama Polisi

Siswa MI Nurul Jannah NW Ampenan didampingi beberapa guru melakukan kunjungan dan pembelajaran di Kantor Polsek Ampenan.

Penyuluhan Kesehatan

Siswa dan Guru MI Nurul Jannah NW Ampenan diberikan penyuluhan kesehatan dari Puskesmas Tanjung Karang Ampenan Kota Mataram NTB.

Outing Class

Sebagian Siswa MI Nurul Jannah NW Ampenan belajar didampingi beberapa guru melakukan kunjungan dan pembelajaran di Museum Negeri Mataram NTB.

Wisuda

Wisuda Abdul Rasyid, S. Sy (Adik) di UIN Mataram didampingi oleh saudara, ipar, dan keponakan.

Diklat PTK

Diklat teknis substantif peningkatan kompetensi PTK oleh Badiklat Keagamaan Denpasar di Mataram NTB.

Mukhadarah(Pidato)

Para siswa MI Nurul Jannah NW Ampenan dilatih berani tampil di depan umum dengan cara mengikuti kegiatan mukhadarah (pidato), dan lain sebagainya.

Upacara Bendera

Guru dan Siswa MI Nurul Jannah NW Ampenan melakukan upacara bendera setiap hari Senin dan hari-hari besar nasional.

Shalat Zuhur Berjamaah

Guru dan Siswa MI Nurul Jannah NW Ampenan meningkatkan iman taqwa dengan cara shalat zuhur berjamaah di mushalla madrasah.

Buku Hasil Karya Individu

Musim pandemi covid-19 membawa dampak positif sehingga bisa memberikan hasil karya berupa terbitnya buku ber-ISBN.

Buku Kolaborasi

Covid-19 memberikan perintah untuk WFH sehingga bisa mengisinya dengan menerbitkan 1 buku karya kolaboratif bersama bapak kepala MIN 2 Mataram.

14 Buku Kolaborasi

Pandemi Covid-19 menjadi kenangan terindah karena bisa memberikan karya bersama bapak-ibu guru Se-Indonesia berupa 14 buku ber-ISBN.

Nara Sumber Sosialisasi 4 Pilar MPR-RI

Kegiatan sosialisasi 4 Pilar MPR-RI yang diselenggarakan oleh komunitas belajar atas prakarsa kepala SMPN 18 Mataram dan Alhamdulillah saya diamanahkan untuk menjadi nara sumber salah satu 4 Pilar tersebut.

Latihan Manasik Haji

Guru dan Siswa MI Nurul Jannah NW Ampenan mempraktikkan ilmu yang diperoleh tentang rukun Islam yang kelima dengan melakukan latihan manasik haji di kantor Embarkasi Lombok dan mudah-mudahan secepatnya bernasib menunaikan ibadah haji dan umrah ke baitullah.

Sabtu, 24 Oktober 2020

Tugas Modul Terintegrasi Youtube

 

Modul memegang peranan penting dalam pembelajaran daring. Modul didesain untuk belajar mandiri. Siswa dalam belajar daring lebih banyak berinteraksi dengan modul. Salah satu kelemahan dari modul konvensional adalah tidak penjelas tambahan tentang suatu materi dari guru pengajar. Hal ini yang melatarbelakangi muncul ide menyusun modul yang terintegrasi dengan Youtube. Youtube difungsikan sebagai media pelengkap yang penting dalam modul. Modul yang didesain untuk belajar mandiri dan Youtube digunakan untuk “mewakili” guru di kelas. Sehingga modul dan Youtube saling melengkapi satu dengan lainnya.

Materi lengkap dari pelatihan dapat diakses melalui tautan di bawah ini:

Pertemuan-1 Penjelasan Umum Pelatihan Menulis Modul Terintegrasi Youtube: https://youtu.be/Uh6dlq_tB28

Pertemuan-2 Kupas Tuntas Buku 4 PKB Tentang Modul: https://youtu.be/zp5i4u35YOE

Pertemuan-3 Kupas Tuntas Tentang Modul: https://youtu.be/ycyp700dyiE

Pertemuan-4 Sistematika Modul (Template): https://youtu.be/IX9exJUQ-Xk

Pertemuan-5 Analisis KI, KD, IPK, TP dalam Modul: https://youtu.be/D-6YkjOpK2w

Pertemuan-6 Pengembangan Materi Pelajaran: https://youtu.be/0TcG4eaG6l0

Pertemuan-7 Pengembangan LKS Dalam Modul: https://youtu.be/tR8UHL2YVHI

Pertemuan-8 Penyusunan Tes Evaluasi/Hasil Belajar: https://youtu.be/gGhiSI9tm-E

Pertemuan-9 Menyusun Petunjuk Siswa, Guru, dan Tugas Akhir: https://youtu.be/-WUhMQR-1Qs

Pertemuan-10 Mengapa Youtube? Sebuah Pengantar?: https://youtu.be/TKlJRLjQUbE

Pertemuan-11 Fungsi Youtube dalam Pembelajaran: https://youtu.be/k3aXRolTYFo

Pertemuan-12 Presentasi dan Teknik Presentasi: https://youtu.be/x5USLpEEPDI

Pertemuan-13 Project 1 Video Pembelajaran: https://youtu.be/DuQUyilsuUc

Pertemuan-14 Project 2 Video Pembelajaran: https://youtu.be/DXDfVTf-mlU

Pertemuan-15 Membuat Channel Youtube dan Mengunggah Video:https://youtu.be/y5VuE7aaVds

Pertemuan-16 Membuat QR CODE, Shortlink, dan Tugas Akhir (Selesai): https://youtu.be/KF3sqpM8oPU

Pengumpulan tugas dengan tahapan di bawah ini:

  1. Modul menggunakan kertas ukuran 18 cm x 25 cm dengan margin kanan = 2 cm, kiri = 2 cm, atas = 2 cm, dan bawah = 3 cm dan font calibri 20 untuk judul dan calibri 12 (sesuai template).
  2. Siapkan modul yang sudah disertai tautan QR dan Shortlink video dari Youtube yang telah dibuat oleh peserta.
  3. File yang dikumpulkan dalam format .doc atau docx (microsoft word).
  4. Peserta yang mengumpulkan akan mendapatkan sertifikat 32 jam.
  5. Tanggal sertifikat direncanakan 30 Oktober 2020.
  6. Kumpulan modul akan disatukan menjadi buku Kumpulan Modul Terintegrasi Youtube ber-ISBN.
  7. Bagi yang ingin memiliki Buku Kumpulan Modul Terintegrasi Youtube, akan diumumkan harga cetaknya setelah diketahui jumlah halamannya (TIDAK WAJIB).
  8. Tautan pengiriman melalui tautan: https://forms.gle/99REDBBjsEkk6yJR9
  9. Pengumpulan tugas paling lambat hari Sabtu, 31 Oktober 2020, pukul 19.00 WIB.

Semoga Allah memudahkan segala langkah kita. Aamiin.

Tauhid Teragung

 Tauhid teragung serta inti, jantung, dan permata tauhid adalah meng-Esa-kan nama Allah dan mengenal-Nya.

Seorang arif yang sudah sampai pada hakikat ditanya tentang nama teragung Allah. Ia menjawab:
 
Engkau mengucap “Allah,” sedang diri engkau tidak berada di dalamnya. Barang siapa mengucap “Allah” dari makhluk, ia mengucapkannya disertai bagian dari titiknya, padahal hakikat tidak dapat dicapai dengan bagian diri kita.
Barang siapa mengucap “Allah” dengan huruf, ia tidak benar-benar mengucap dan menyebut “Allah”. Allah berada diluar diri, huruf, pemahaman, indra, ilustrasi, dan ilusi. Hanya saja, dengan karunianya Dia menerima hal itu dari kita dan memberi ganjaran atasnya, sebab tidak ada jalan lain untuk berzikir dan menauhidkan Allah Yang Tidak Terbatas kecuali dengan itu sesuai dengan kemampuan manusia melalui jangkauan pengetahuannya.

Adapun kaum arif dan ulama berkedudukan khusus tidak rela berzikir dengan cara seperti itu: “Tiada seorang pun diantara kami melainkan mempunyai kedudukan tertentu yang sudah diketahui.”  
Sungguh benar ucapan seorang pujangga:
 
Wujud mereka fana dalam wujud-Nya
Dia suci dari bentuk gambaran dan rupa
Tidak ada yang menyerupai-Nya di mana dan bagaimana pun
Kapan pun pertanyaan tentag Batasan-Nya lenyap berlalu
Memang menakjubkan bahwa wujud-Nya
Di luar apa yang tampak dan betul-betul samar.
 
Sebenarnya tidak ada yang berzikir  mengingat Allah kecuali Allah. Tidak ada yang  mengenal- Nya selain diri-Nya. Tidak ada yang menauhidkankan-Nya secara benar kecuali Dia sendiri.

Zikir Allah terhadap diri-Nya sebagaimana yang difirmankan-Nya,

“Zikir Allah adalah lebih besar.” Zikir Allah terhadap diri-Nya lebih besar, lebih agung, dan lebih sempurna daripada zikir selain-Nya kepada-Nya.

Makrifat-Nya adalah seperti yang difirmankan-Nya, “Tidaklah mereka mengenal Allah sebagaimana ada-Nya.”

Hanya Dia yang mengenal kesempurnaan zat-Nya dan keagungan sifat-Nya. Untuk menjangkau sebagian makhluk-Nya saja, makhluk tidak mampu, apalagi menjangkau sifat-Nya.

Mengenai tauhid Allah, Dia berfirman, “Allah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Dia.”

Jadi Dialah yang paling tahu bagaimana bertauhid yang sesungguhnya dan sempurna.

Tidaklah makhluk mengesakan-Nya melainkan sesudah Dia mengesakan diri-Nya. Dia mencurahkan sedikit cahaya tauhid-Nya kepada para malaikat. Keberadaan Allah dipahami dengan cahaya tauhid-Nya, bukan dengan tauhid itu sendiri.

Setiap arif pun tidak mampu secara sempurna mengenal-Nya, namun makrifat memang terdapat dalam dirinya.

Ini antara makrifat darurat dan makfrifat puncak.
Makrifat darurat dihadapan makrifat puncak ibarat lentera di hadapan matahari.

Karena itu, tauhid paling sempurna adalah tauhid yang paling tertanam dalam akal, paling kuat sebagai hujah, paling jelas dalam pikiran, paling kukuh dalam keyakinan, dan paling terang dalam argumen.

Bertaklid dalam tauhid menjauhkan diri dari tambahan karunia, tidak bermanfaat, dan tidak berfaedah.
Taklid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dalil dan penjelasannya.
Yang rela dengan taklid  hanya orang dungu, bebal, bodoh, terhijab, dan terlantar.
Semoga Allah Swt. melindungi kita agar tidak terhijab, oleh sifat-sifat buruk tersebut dan semoga Dia menjadikan kita orang berilmu memahami, meneliti, dan akhirnya mengetahui.

Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda,

“Hati ada empat macam:

(1) hati bersih yang berisi lentera terang. Inilah hati orang beriman, (2) Hati yang hitam dan terbalik. Inilah hati orang kafir,
(3) hati yang tertutup dan terhalang. Inilah hati orang munafik, dan
(4) hati yang berisi campuran antara keimanan dan kemunafikan; Iman didalamnya ibarat pohon yang disirami air bagus, sementara kemunafikan di dalamnya ibarat bisul berisi nanah bercampur darah. Mana diantara keduanya yang dominan, itulah yang menguasainya.”

Sumber : Buku Terapi Makrifat “Rahasia Kecerdasan Tauhid”
Oleh : Syeikh Ibn ‘Athaillah al-Sakandari

Sahabat Sejati

Kadang” Sahabat yang suka TRAKTIR kita makan, bukan krn mereka BERKELEBIHAN tapi krn mereka meletakkan Persahabatan melebihi UANG ...

Kadang” Sahabat yang memohon MAAF dahulu setelah Pertengkaran bukan karena mereka merasa SALAH, tapi karena mereka MENGHARGAI kita sebagai sahabat Mereka ...

Kadang” Sahabat yang selalu SMS dan WA ke kita, bukan karena mereka tidak ada kerjaan tapi karena Mereka INGAT pada kita...

💡Persahabatan Tidak Menghitung Untung Rugi.

💡Persahabatan berlandaskan Hati Yg MURNI & TULUS.

💡 Persahabatan Tidak LEKANG Dimakan Zaman.

💡Pada Waktu Sebagian Besar Orang cuma memperhatikan KESUKSESAN kita, tapi ada Sebagian Kecil Orang yg peduli akan kondisi KESEHATAN kita, maka itulah PERSAHABATAN.

💡Teman”, meskipun tidak sering BERTEMU, tetapi selalu DIINGAT dan MENDO'AKAN Itulah SAHABAT.

💡Seorang SAHABAT tidak akan berpikiran NEGATIF, tapi Selalu POSITIF.

Semoga selalu dalam keadaan sehat wal 'afiat ...🙏🏻🙏🏻🙏🏻

SHOLATLAH SEBELUM DISHOLATI BAG. 22

(Menjaga Sholat Sunnah Harian-5)

_ www.hamhas095.blogspot.com
(Dakwah Bit-Tadwin Online)

"Jangan lihat siapa yang menyampaikan,
tapi lihat apa yang disampaikannya"
(Ali bin Abi Tholib r.a)

(Bagian Ke-22)

Bissmillaahirrahmaanirraahiim
Assalaamu’alaikum wr. Wb

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,
Washsholaatu wassalaamu
’Alaa asyrofil ambiyaai wal mursaliin
Wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi aj-maiin,
Amma ba’du

Sobat Netizen Rohimakumulloh

#SHOLAT FAJAR

@Rasululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasalam bersabda:   ^ROK’ATAAL FAJRI KHOIRUN MINADDUNYAA WAMA FIIHAA. / “Dua raka’at fajar (shalat sunnah qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.”  (HR. Muslim no. 725 dari ‘Aisyah).

@Dari ‘Aisyah radhiyallâhu'anha berkata: Tidaklah Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menjaga sesuatu dari shalat-shalat sunnah  lebih dari pada penjagaan Beliau terhadap rok’atal fajr (dua raka’at waktu fajar).”_  (HR Bukhari, no. 1163)

@Dalam hadits yang lain, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata : _”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melakukan satu shalat sunnah pun yang lebih beliau jaga dalam melaksanakannya melebihi dua rakaat shalat sunnah (sebelum) subuh.” (HR Bukhari 1093 dan Muslim 1191)

@Dari Ibnu Umar, beliau berkata bahwasanya Hafshoh Ummul Mukminin telah menceritakan kepadanya bahwa dahulu bila muadzin selesai mengumandangkan adzan untuk shalat subuh dan telah masuk waktu subuh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat sunnah dua rakaat dengan ringan sebelum melaksanakan shalat subuh. ( HR Bukhari 583).

@Diceritakan juga oleh ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha : ”Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat ringan antara adzan dan iqamat shalat subuh.” (HR. Bukhari 584).

*>Saking ringannya kata ‘Asiyah radhiyallahu ‘anha: _ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meringankan dua rakaat shalat sunnah subuh sebelum shalat fardhu Subuh, sampai-sampai aku bertanya : “Apakah beliau membaca surat Al-Fatihah?”_  (HR Bukhari 1095 dan Muslim 1189)

@Bacaan Surat Pada Setiap Roka’atnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : ^KAANA ROSULULLOH SHALLALLOHU ‘ALAIHI WA SALLAM, YAQRO`U FII ROK’ATAL FAJRI: QUL YAA AYYUHAAL KAAFIRUUN, WA QUL HUWALLLOHU AHAD, WA KAANA YUSIRRU BIHIMAA / ”Rasululloh Sholallohu ‘Aalaihi Wa Salam membaca surat pada 2 rokaat sholat sunnah sebelum subuh: surat Al Kaafiruun dan surat Al Ikhlas, dan beliau mempelankan bacaannya.” (HR. Muslim :69 dalam Kitab Al Hajj). Dalam lafadz yang lain artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dalam dua rakaat shalat sunnah subuh surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas”  (H.R Muslim, 726)

>Dalam hadits yangm lain: “Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wasalam  terbiasa membaca surat al-Kafirun dan al-Ikhlas ketika mengerjakan 2 rakaat sebelum subuh dan 2 rakaat setelah maghrib,” (HR. Thabrani-7304; Juga dalam HR. Achmad 4704, An Nasai-992, Turmidzi 431, dari A’isyah r.a).

@Keutamaan Sholat Sunnah Fajar. Dari ‘Aisyah r.a, Nabi Shallallohu 'Alaihi Wasallam, bersabda: ^ROK’ATAL FAJR MINADDUN-YAA WA MAA FIIHAA / _“Rok’atal fajr (dua raka’at waktu fajar), lebih baik daripada dunia dan segala yang ada padanya”. (HR Muslim, no. 725)

@Sholat Sunnah fajar lebih utama dilakukanlah dirumah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jadikanlah shalat (sunnah) kalian di rumah kalian. Janganlah jadikan rumah kalian seperti kuburan.” (HR. Bukhari  1187)

_>Dalam hadits yang lain:* _“Sebaik-baik shalat seseorang adalah shalat di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari no. 731 dan Ahmad 5: 186, dengan lafazh Ahmad)

@Jika terluput melakukannya hendaknya segera melakukannya ketika ia ingat, ^MAN LAM YUSHOLLA ROK’ATAYILFAJRI HATTA TADLU’ASY-SYAMSU FALYUSHOLLAHIMAA / ”Barang siapa yang belum mengerjakan dua roka’at sunnah sebelum subuh sampai matahari tebit, maka hendaklah dia tetap mengerjakannya.” (HR. Al Baihaqi dalam As-Sunanul Kubro: 2/484, sanadnya jayyid / bagus, dan Munhajul Muslim)

>Dalam hadits yang lain: Dari Abu Hurairah _rahidyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: _“Barangsiapa yang belum shalat sunnah dua rakaat subuh maka hendaknya melakukannya setelah terbit matahari”. (HR. At Tirmidzi  424, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi: 1/133).

>Diqodho’ setelah setelah selesai shalat subuh. Dari Qais bin Qahd radhiyallahu’anhu, bahwasanya ia shalat shubuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan belum melakukan shalat sunnah dua rakaat qabliyah subuh. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah salam maka ia pun salam bersama beliau, kemudian ia bangkit dan melakukan shalat dua rakaat qobliyah subuh, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat perbuatan tersebut dan tidak mengingkarinya.”_  (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi: 1/133).

@Berbaring sejenak setelah sholat sunnah fajar.  >“Apabila muadzdzin telah selesai adzan untuk shalat subuh, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum shalat subuh, beliau shalat ringan lebih dahulu dua rakaat sesudah terbit fajar. Setelah itu beliau berbaring pada sisi lambung kanan beliau sampai datang muadzin kepada beliau untuk iqamat shalat subuh.” (HR Bukhari 590)

>Para ulama ada ikhtilaf tentang berbaring sejenak ini. Anas bin Malik, Abu Hurairah r.a dan Ulama Syafiiyah (hukumnya sunnah secara mutlak); Madzhab Abu Muhammad bin Hazm, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (Hukumnya wajib); Ulama shalaf, Ibnu Mas’ud, Ibnul Musayyib, dan An Nakha’I, Al Qadhi ‘Iyad rahimahullah (Hukumnya Makruh); Ibnul ‘Arabi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah. (Hukumnya mustahab / dianjurkan,  dengan syarat: tidak dilakukan di masjid dan mampu bangun kembali untuk sholat subuh).***

(In Syaa Alloh Bersambung)

Wallôhu a’lam bishshowab
Al haqqu min robikum
Nas-alulloh as-salamah wal ‘afiyah

Wassalamu’alaikum warohmatullôhi wabarokatuh
*^(posting : Hamhas)^

Jumat, 23 Oktober 2020

SHOLATLAH SEBELUM DISHOLATI BAG. 21

(Menjaga Sholat Sunnah Harian-4)

_ www.hamhas095.blogspot.com
(Dakwah Bit-Tadwin Online)

"Jangan lihat siapa yang menyampaikan,
tapi lihat apa yang disampaikannya"
(Ali bin Abi Tholib r.a)

(Bagian Ke-21)

Bissmillaahirrahmaanirraahiim
Assalaamu’alaikum wr. Wb

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,
Washsholaatu wassalaamu
’Alaa asyrofil ambiyaai wal mursaliin
Wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi aj-maiin,
Amma ba’du

Sobat Netizen Rohimakumulloh

#SHOLAT WITIR

@Witir menurut bahasa berarti ganjil, Rosululloh Sholallohi ‘Alaihi Wasalam bersabda: ^INNALLOHA WITRUN YUHIBBUL WITRO / _“Sesungguhnya Allah itu Witr dan menyukai yang witr (ganjil).” (HR. Bukhari no. 6410dan Muslim no. 2677. Shahih).

@Dalam Kitab Riyadhus Sholihin bab 205, Hadits #1129, dari Ali r.a, katanya: Sholat witir itu bukannya wajib, sebagaimana sholat yang difardhukan, tetapi Rpsululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasalam mengerjakan sholat itu dan bersabda: >”Sesungguhnya Alloh itu Maha Witir yakni ganjil, maka lakukanlah sholat witir, yaitu yang rokaatnya ganjil, hai ahli al Qur’an” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, hadits Hasan).

@Dalam hadits yang lain, Rosululloh Sholallohi ‘Alaihi Wasalam bersabda: ^SHOLAATUL-LAILI MATSNA – MATSNA, FAIDZAA KHOSYIYA AHADUKUMUSH-SHUB-HA, SHOLLAA ROK’ATAN WAAHIDATAN  TUU TIRU LAHU MAA QOD SHOLLA / ”Sholat malam itu dua roka’at-dua roka’at, apabila salah seorang dari kalian khawatir dengan subuh (masuk waktu subuh) maka dia sholat satu roka’at yang mengganjilkan sholat (sholat malam) yang telah dikerjakan.”  (HR. Bukhori, 990, Muslim, 749, Achmad, 2/102).

@Rosululloh Sholallohi ‘Alaihi Wasalam juga bersabda:
_>Shalat Witir adalah hak atas setiap muslim. Barangsiapa yang ingin berwitir dengan lima raka’at, maka lakukanlah; barangsiapa yang ingin berwitir dengan tiga raka’at, maka lakukanlah; dan barangsiapa yang ingin berwitir dengan satu raka’at, maka lakukanlah.” _ (HR. Abu Dawud No. 1422, an-Nasa-iIII/238-239, dan Ibnu Majah No. 1190)

_>“Shalat Witir itu satu raka’at di akhir malam.” _ (HR. Muslim dalam kitab Shalaatul Musaafiriin, bab Shalaatil Laili Matsna Matsna wal Witru Rak’atan min Akhiiril Lail, No. 752)


_>“Siapa yang suka lakukan witir tiga rakaat, maka lakukanlah.” _ (HR. Abu Daud no. 1422 dan An Nasai no. 1712. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

_>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berwitir tiga raka’at sekaligus, beliau tidak duduk (tasyahud) kecuali pada raka’at terakhir.” (HR. Al Baihaqi 3:28, dari ‘Aisyah ra)

^^^^^
#JADIKAN WITIR SEBAGAI PENUTUP SHOLAT MALAM,
@Dari Ibnu Umar r.a, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ^AJ’ALUU AKHIRO SHOLAATIKUM BILLAILI WITROO / “Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari adalah shalat witir.”  (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751).

@Dalam lafadz yang lain, Ibnu ‘Umar mengatakan, _“Barangsiapa yang melaksanakan shalat malam, maka jadikanlah akhir shalat malamnya adalah witir karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hal itu. Dan jika fajar tiba, seluruh shalat malam dan shalat witir berakhir, karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat witirlah kalian sebelum fajar”. _ (HR. Ahmad 2/149. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih).

^^^^^
#WAKTU PELAKSANAAN SHOLAT WITIR
@Para ulama sepakat,  bahwa waktu shalat witir adalah antara shalat Isya hingga terbit fajar. Adapun jika dikerjakan setelah masuk waktu shubuh (terbit fajar), maka itu tidak diperbolehkan menurut pendapat yang lebih kuat.

@Dan Nabi _shallallahu ‘alaihi wa sallam, Berpesan “Sholat witirlah sebelum fajar” sebagaimana sabdanya:*
_>“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah ia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749, dari Ibnu ‘Umar).

_>Dan jika fajar tiba, seluruh shalat malam dan shalat witir berakhir, karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat witirlah kalian sebelum fajar”. _ (HR. Ahmad 2/149. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih).

@Sholat witir juga boleh dilakukan sesudah sholat Isya’ sebelum tidur. Dari Abu Hurairah r.a tentang wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya. Abu Hurairah berkata,
^AUSHOONII KHOLIILII SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM, BITSAALAATSI SHIYAAMI TSALATSATI AYYAAMIN, MIN KULLA SYAHRI, WA ROK’ATAYIDH-DHUHAA, WA AN UUTIRO QOBLA AN ANAAMA.

>“Kekasihku yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepadaku tiga wasiat: (1) berpuasa tiga hari setiap bulannya, (2) mengerjakan dua rakaat shalat Dhuha, (3) mengerjakan witir sebelum tidur.” (HR. Muttafaquh ‘alaih, Bukhari no. 1981 / 1178 dan Muslim ,o. 721).

@Imam Nawawi rahimahullah berkata, ”Witir sebelum tidur hanya dianjurkan kepada orang yang tidak yakin untuk dapat bangun tidur di akhir malam. Adapun jika ia dapat berkeyakinan bangun di akhir malam, maka witir pada waktu itu lebih utama.”

*@Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan, “Disunnahkan melakukan witir di awal malam (sebelum tidur) karena dua kondisi”:
^(1)- Khawatir tidak bisa bangun di akhir malam;
^(2)- Melaksanakan Qiyam Ramadhan (shalat tarawih) lalu ditutup dengan witir, karena sholat tarawih berjamaah bersama imam sampai selesai (sampai diakhiri dengan witir) dicatat sebagai sholat semalam suntuk. “sesungguhnya seseorang yang shalat bersama imam sampai selesai, ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk” (HR. Tirmidzi no. 806, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).


@Lantas manakah waktu shalat witir yang utama dari waktu-waktu tadi? Jawabannya, waktu yang utama atau dianjurkan untuk shalat witir adalah *sepertiga malam terakhir, (kecuali saat melakukan sholat tarawih berjamaah, maka disempurnakan witir bersama imam)

@Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,  ^MIN KULLALLAILI QOD AUTARO ROSULULLOHI SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA SALLAM, MIN AWWALIL-LAILI WA`AUSATHIHI WA KHIRIHI FAANTAHAA WITRUHU ILAAS-SAHORI /._>“Kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan witir di awal malam, pertengahannya dan akhir malam. Sedangkan kebiasaan akhir beliau adalah beliau mengakhirkan witir hingga tiba waktu sahur.” _ (HR. Muslim no. 745).

@Hadits dari Ibnu ‘Umar r.a, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ^AJ’ALUU AKHIRO SHOLAATIKUM BILLAILI WITROO / “Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari adalah shalat witir.”  (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751).

@Ini bila kondisi seseorang yakin (kuat) bangun di akhir malam. Namun jika ia khawatir tidak dapat bangun malam, maka hendaklah ia mengerjakan shalat witir sebelum tidur.

@Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Barang siapa diantara kalian mengira tidak akan bangun pada akhir malam maka hendaklah dia mengerjakan witir pada awal malam (sebelum tidur), dan barang siapa diantara kalian mengira akan bangun pada akhir malam maka hendaklah dia mengerjakan witir pada akhir malam, karena sholat pada akhir malam itu disaksikan para malaikat dan itu lebih utama.” (HR. Ahmad: 3/300).

@Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa di antara kalian yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia witir dan baru kemudian tidur. Dan siapa yang yakin akan terbangun di akhir malam, hendaklah ia witir di akhir malam, karena bacaan di akhir malam dihadiri (oleh para Malaikat) dan hal itu adalah lebih utama.” (HR. Muslim no. 755).

@Dari Abu Qotadah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Bakar, ” Kapankah kamu melaksanakan witir?” Abu Bakr menjawab, “Saya melakukan witir di permulaan malam”. Dan beliau bertanya kepada Umar, “Kapankah kamu melaksanakan witir?” Umar menjawab, “Saya melakukan witir pada akhir malam”. Kemudian beliau berkata kepada Abu Bakar, “Orang ini melakukan dengan penuh hati-hati.” Dan kepada Umar beliau mengatakan, “Sedangkan orang ini begitu kuat.” (HR. Abu Daud no. 1434 dan Ahmad 3/309. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).**

@Dan Bila sudah melakukan witir sebelum tidur, maka sehabis sholat malam / sholat tahajud, tidak ada lagi sholat witir, Kata Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam : ^LAA WITROONI FII LAILATIN / “Tidak ada dua witir dalam satu malam.“_ ( HR. Abu Daud no. 1439, At Tirmidzi no. 470, An Nasai no. 1679 dari hadits Tholq bin ‘Adi radhiyallahu ‘anhu.].***

(In Syaa Alloh Bersambung)

Wallôhu a’lam bishshowab
Al haqqu min robikum
Nas-alulloh as-salamah wal ‘afiyah

Wassalamu’alaikum warohmatullôhi wabarokatuh
*^(posting : Hamhas)^

Kamis, 22 Oktober 2020

MACAM-MACAM SANTRI

Sahal bin Abdullah berkata : Santri itu ada tiga macam :
 
1. Santri yang sibuk mencari ilmu waro' karena takut terjerumus kepada hal subhat ( perbuatan yang tidak jelas halal dan haramnya ), lalu dia tinggalkan yang halal karena takut haram.

2. Santri yang sibuk mencari pendapat-pendapat para ulama', lalu dia meninggalkan pendapat yang berat walaupun pendapat mu'tamad dan dia masuk di dalam hal yang perbolehkan Allah swt berdasarkan pendapat-pendapat ulama' yang lemah ( dhoif ).

3. Santri yang sering bertanya kepada gurunya tentang hukum agama,ketika gurunya menjawab : perbuatan itu tidak sah / haram, santri tersebut tidak terima dan tidak puas, lalu mencari cara agar perbuatan itu bisa menjadi sah dan halal dengan bertanya kembali kepada para ulama-ulama lainnya dan ulama-ulama tersebut memberikan jawaban atas perbedaan pendapat diantara ulama'.

Model Santri no 3, kelak ketika dia menjadi ulama' maka dia akan menjadi ulama' penjahat ( ulama' suu' ) dan dia menjadi penyebab binasanya makhluk.

Nb : kalau jadi santri yang lurus-lurus saja, jangan mencari sensasi dengan menghalalkan segala cara.

( Qutul-qulub.juz 1.hal 394-395 )

KEDUDUKAN SHALAT SETELAH TAUHID

 Setelah tauhid, tidak ada yang lebih agung dari pada sholat. Karena itu, sholat menjadi pilar kedua Islam sebagaimana sabda Nabi saw., “Islam dibangun di atas lima pilar: mengesakan Allah, mendirikan shalat….”98

Takbir pembuka sholat adalah “Allahu Akbar”, bukan nama lainnya.
Hanya ucapan itulah yang dibenarkan sebagaimana sabda Nabi saw., “Ucapan pembukanya adalah takbir.”

Demikian pula halnya dengan penyebutan nama tersebut dalam azan dan pada setiap takbir dalam sholat.
Penyebutan nama ini lebih baik daripada semua ibadah dan lebih dekat untuk munajat, bukan sholat atau bentuk ketaatan lainnya.

Dalam hadist qudsi difirmankan:
 
Aku adalah teman duduk bagi orang yang berzikir kepada-Ku. Aku menurut prasangka hamba-Ku kepada-Ku saat ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hati, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat sendiri, Aku mengingatnya dalam kesendirian-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kerumunan, Aku mengingat-Nya di kerumunan yang lebih baik daripada kerumunan itu.99
 
Allah Swt. berfirman, “Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepada kalian.”100

Dalil bahwa zikir ini lebih utama daripada shalat adalah ayat yang sama:

“Sesungguhnya shalat mencegah [diri] dari kekejian dan kemungkaran, dan zikir [mengingat] Allah adalah lebih besar [daripada ibadah-ibadah lain].”101

Sebagian besar sholat adalah zikir, namun zikir menyebut Allah lebih besar daripada sholat itu sendiri dan seluruh ibadah lain.

Firman-Nya, “Zikir [mengingat] Allah adalah lebih besar.”

Abu al-Darda’ meriwayatkan bahwa Nabi saw. bertanya,
“Maukah kuberitakan kepada kalian amal terbaik yang paling mengangkat derajat dan paling bersih disisi Tuhan kalian, lebih utama bagi kalian daripada bederma emas dan perak, serta lebih baik daripada menjumpai musuh dengan kalian memenggal leher mereka dan mereka pun memenggal leher kalian?”
Para sahabat menjawab, “Tentu kami mau.”
Beliau saw. bersabda, “Zikir [mengingat] Allah.”102

Maknazikir Allah terhadap hamba-Nya adalah bahwa barangsiapa mengingat-Nya dengan tauhid, niscaya Allah mengngatnya dengan surga dan tambahan karunia.

Allah Swt. berfirman, “Allah memberi mereka pahala sebagai balasan atas perkataan yang mereka ucapkan. Yaitu surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, sedangkan mereka kekal didalamnya.”103

Barang siapa mengingat-Nya dengan menyebut nama Allah lalu ia berdoa kepada-Nya dengan ikhlas, niscaya Dia kabulkan.

Allah Swt. berfirman,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku amat dekat.”104

Barang siapa berzikir mengingat-Nya dengan bersyukur, niscaya Dia mengingatnya dengan memberi tambahan nikmat.

Allah Swt. berfirman, “Sungguh jika kalian bersyukur, Aku benar-benar menambahi kalian [nikmat].”105

Tidaklah seorang hamba mengingat-Nya dengan zikir melainkan Allah mengingatnya secara sepadan sebagai balasan untuknya.

Bila seorang arif berzikir mengingat-Nya dengan makrifat, Dia mengingat-Nya dengan menyingkap hijab agar ia menyaksikan-Nya.

Bila seorang mukmin mengingat-Nya dengan keimanan, Dia mengingat-Nya dengan rahmat dan rida-Nya.

Bila orang bertobat mengingat-Nya dengan tobat, Dia mengingatnya dengan menerima tobatnya dan memberinya ampunan.

Bila pelaku maksiat mengingat-Nya dengan pengakuan dosa, Dia mengingatnya dengan penutupan aibnya.

Bila pelaku dosa mengingat-Nya dengan dosa dan kelalaian, Dia mengingatnya dengan siksa dan laknat-Nya.

Bila seorang kafir mengingat-Nya dengan kekufuran dan kesongongan, Dia mengingatnya dengan siksa dan hukuman-Nya.

Barang siapa bertahlil, niscaya Dia muliakan.

Barang siapa bertasbih, niscaya Dia perbaiki.

Barang siapa bertahmid, niscaya Dia tolong.

Barang siapa meminta ampun, niscaya Dia ampuni.

Barang siapa kembali kepada-Nya, niscaya Dia hampiri.

Sumber: Terapi Makrifat “Rahasia Kecerdasan Tauhid”
Oleh : Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari

KONDISI HAMBA BERZIKIR

Kondisi hamba terbagi empat, yaitu: (1) Kondisi taat; Hamba mengingat-Nya dengan melihat karunia Allah padanya sehingga mendapat taufik untuk taat. (2) Kondisi bermaksiat ; Hamba mengingat-Nya dengan hijab dengan tobat. (3) Kondisi mendapat nikmat; Ia mengingat-Nya dengan syukur. (4) Kondisi sulit; Ia mengingat-Nya dengan sabar.
 
Dalam zikir mengingat Allah terdapat lima hal: rida Allah, kehalusan hati, tambahan kebaikan, perlindungan dari setan, dan keterhalangan dari maksiat.

Tidaklah hamba berzikir mengingat-Nya kecuali itu terwujud berkat zikir-Nya terhadap si hamba.

Tidaklah kaum arif mengenal-Nya kecuali karena Allah Swt. memperkenalkan diri kepada mereka.

Tidaklah para ahli tauhid mengesakan-Nya kecuali dengan ilmu yang Allah ajarkan kepada mereka.

Tidaklah golongan taat mematuhi-Nya kecuali atas taufik-Nya kepada mereka.

Tidaklah kelompok pecinta mencintai-Nya kecuali dengan kecintaan kepada-Nya yang Allah tanam pada diri mereka.

Tidaklah pembangkang menduharkai-Nya kecuali karena dibiarkan-Nya.

Setiap nikmat-Nya adalah karunia dan setiap ujian-Nya adalah ketentuan.

Apa yang disembunyikan oleh masa sebelum ditampakkan oleh masa sesudah.

Seorang penyair menggubah:

Wahai Yang senantisa memberi karunia, apa yang mesti kuucap?
Karunia zikir dengan mengingat-Mu dengan sesuatu yang dikenal adalah zikir itu sendiri
Dengan zikir kepada-Mu tariklah diriku dan tutunlah kepada petunjuk
Petunjuk-Mu lewat jalan kebenaran adalah sinar dan cahaya
Tunjukilah aku amal yang yang Kau ridai, wahai Tumpuan harapan
Fasihkanlah lisanku untuk mengucap zikir kepada-Mu
 
Ketahuilah, kalimat tauhid berada diantara penafian dan penetapan. Awalnya adalah “la ilaha (tiada Tuhan)”, dan ini merupakan penafian, sikap berlepas diri, dan pengingkaran. Sementara, akhirnya adalah “illa Allah (selain Allah)”, dan ini merupakan penetapan, pengakuan, keimanan, tauhid, makrifat, penyerahan diri, kesaksian, dan cahaya.

Kata “la (tiada)” menafikan ketuhanan dari segala sesuatu yang tidak layak untuk itu, dan frasa “illa Allah (selain Allah)” menetapkan ketuhanan kepada zat yang berhak dan wajib untuk itu.

Makna ini terkumpul  dalam firman Allah Swt.:  
“Karena itu, barangsiapa ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat, yang tidak akan putus.”106
 
“La ilaha illa Allah” bagi kalangan umum (awam) menjadi pembersih pemahaman mereka dari segala kotoran dan ilusi serta merupakan pengakuan akan keesaan-Nya dan penafian atas keberadaan tuhan  selain-Nya.

Bagi kalangan khusus (khawash), ia menguatkan agama, menambah cahaya harapan dengan menetapkan zat dan sifat-Nya serta menyucikan-Nya dari segala perubahan dan cacat.

Bagi kalangan yang lebih khusus lagi (khawash al-khawash), ia merupakan bentuk penyucian dalam zikir kepada-Nya serta penyaksian anugerah dan karunia-Nya dengan syukur-Nya sebagai balasan atas syukur mereka.

Dalam  bertauhid dan berzikir, manusia terbagi atas tiga golongan:
1. Golongan awam yang merupakan para pemula. Tahuid mereka dengan lisan dalam bentuk ucapan, perkataan, keyakinan, dan keikhlasan lewat syahadat tauhid: “La illaha illa Allah Muhammad rasul Allah”, yang tidak lain adalah Islam.

2. Golongan khusus dan pertengahan. Tauhid mereka dengan hati dalam bentuk keyakinan dan keikhlasan, yang tidak lain adalah iman.

3. Golongan lebih khusus. Tauhid mereka dengan akal dalam bentuk penyaksian dan keyakinan, yang tidak lain adalah ihsan.
 
Jadi, ada tiga macam zikir.

(1) Zikir lisan: Ini adalah zikir sebagian besar manusia.
(2) Zikir hati; Ini adalah zikir kalangan khusus di antara kaum beriman.
(3) Zikir ruh; Ini adalah zikir kaum lebih khusus.

Ini adalah zikir kaum arif dengan kefanaan mereka dari zikir, penyaksian mereka akan Tuhan, dan anugerah-Nya atas mereka.

Orang yang berzikir dengan nama ini (Allah) memiliki beberapa kondisi: kondisi mabuk dan fana, kondisi hidup dan kekal, serta kondisi puas dan rida.

Sumber: Terapi Makrifat “Rahasia Kecerdasan Tauhid”
Oleh Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari

KONDISI ORANG BERZIKIR

Kondisi pertama, yaitu mabuk dan fana, terjadi pada orang yang hanya mengingat-Nya tanpa mengingat yang nama lain. Ia menjadikannya sebagai penyelamat dan menyatakan penyebutan ha’ dalam nama ini saat menyebutnya.

Barang siapa mendawamkan ini, lahirnya terhapus dan batinnya lenyap.

Secara lahir, ia seperti orang gila dan mabuk yang hilang akal.

Orang-orang menghindarinya dan tidak mau bersama kondisi mabuk yang menghiasi lahirnya serta rahasia nama-Nya yang ia ingat. Tak seorang pun dapat mengingat sifat Tuhan secara hakiki sedikit pun. Jiwa yang mengingat-Nya menjadi tidak stabil, sehingga keadaannya di tengah-tengah makhluk sebagaiman dikatakan Allah Swt.:

“Ketika itu tidak ada lagi hubungan nasab di antara mereka dan mereka tidak saling tegur bertegur sapa.”
Batinnya seperti orang mati yang fana, karena ia dalam kondisi “luar biasa”.
 
“La ilaha illa Allah” bagi kalangan umum (awam) menjadi pembersih pemahaman mereka dari segala kotoran dan ilusi serta merupakan pengakuan akan keesaan-Nya dan penafian atas keberadaan tuhan selain-Nya.

Bagi kalangan khusus (khawash), ia menguatkan agama, menambah cahaya harapan dengan menetapkan zat dan sifat-Nya serta menyucikan-Nya dari segala perubahan dan cacat.

Bagi kalangan yang lebih khusus lagi (khawash al-khawash), ia merupakan bentuk penyucian dalam zikir kepada-Nya serta penyaksian anugerah dan karunia-Nya dengan syukur-Nya sebagai balasan atas syukur mereka.
 
Anggota badannya tunduk dan hatinya khusyuk. Allah Swt. berfirman:
 
Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.107
 
Kamu lihat sebelumnya bumi ini kering, lalu apabila telah Kami turunkan air padanya, bumi manjadi hidup, subur, dan menumbuhkan berbagai macam tumbuhan indah. 108
 
Kondisi kedua, yaitu  hidup dan kekal, terjadi ketika orang yang mengingat-Nya berada dalam, dan senang dengan, nama ini serta seluruh gambaran dan sifat dirinya melenyap, perasaan rida menyusup dalam dirinya, segala kehendak dan keinginan dirinya mati, serta dirinya terbebas dari adat dan syahwat. Ia telah keluar dari sifat-sifat tercelanya dan berpindah dari kondisi mabuk dan fana kepada kondisi hidup dan kekal.

Dengan begitu, ia memiliki kemuliaan dan wibawa di tengah-tengah manusia. Seluruh makhluk menghormati, takut, dan tunduk kepadanya.

Kondisi ketiga, yaitu kondisi puas dan rida, dialami orang yang berzikir dengan nama ini ketika ia mengagungkan perintah Allah, menyayangi makhluk-Nya, mentaati agama Allah,  menjadikan dirinya bersama Allah dan untuk Allah, tidak terpengaruh oleh makhluk, serta tidak ada lagi sesuatu pun membebaninya-dengan izin Allah. Itu berpindah dari kondisi hidup dan kekal kepada kondisi puas dan rida. Ia senantiasa hidup tenang, mulia, puas, dan rida.
Tidak ada hal yang mengganggunya. Hidupnya bersih dan lurus. Ia demikian kukuh dalam kondisinya dan merasa tenteram.
Ia di tengah-tengah makhluk bagaikan hujan, yang, ketika turun dimana saja, menyuburkan dan menumbuhkan kebaikan. Ia puas dan rida kepada Allah.
Sebaliknya, Allah pun rela dan rida kepadanya.

Allah Swt. berfirman, “Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang lain, maka Mahasuci Allah, Pencipta Terbaik.”109

Sumber : Buku Terapi Makrifat “ Rahasia Kecerdasan Tauhid”
Oleh : Syeikh Ibn ‘Athaillah as-Sakandari

KISAH TENTANG "BERZIKIR"

 Alkisah, seorang miskin duduk dalam majelis al-Syibli. Orang tersebut mengucap, “Allah”. Mendengar itu, al-Sybli berujar,

“ Wahai fulan, jika tulus, niscaya engkau terkenal, namun jika berdusta, niscaya engkau binasa.”

Seseorang mengucapkan kata yang sama dihadapan Abu al-Qasim al-Junayd.

Al-Junayd bertutur,”Wahai saudaraku, jika Zat yang kau sebut menyaksikanmu dalam kondisi engkau hadir bersama-Nya, engkau telah membuka tirai dan kehormatan dengan sifat pecinta yang mabuk kepayang.

Namun, jika engkau menyebut-Nya dalam kondisi lalai kepada-Nya, zikirmu tanpa kehadiran-Nya, dan itu haram.”

Diceritakan bahwa Abu al-Hasan al-Tsawri berdiam di rumahnya selama tujuh hari tanpa makan, minum, dan tidur. Ia terus mengucap, “Allah, Allah.”

Keadaannya itu kemudian diceritakan kepada Abu al-Qasim al-Junayd.

Al-Junayd berkata, “Waktunya tetap terjaga?” Dijawab, “Ya. Ia melakukan sholat tepat waktunya.”

Al-Junayd berkata, “Segala puji bagi Allah Yang telah menjaganya dan tidak memberikan jalan kepada setan untuk menguasainya.”

Ia lalu bertutur kepada muridnya, “Mari kita kunjungi dia! Kita dapat memberi atau mengambil manfaat darinya.” Sesampainya di sana, al-Junayd menghampiri al-Tsawri dan berujar, “Wahai Abu al-Hasan, engkau mengucap Allah, Allah.” Apakah itu bersama Allah atau dengan dirimu sendiri?

Jika engkau mengucapkannya bersama Allah, bukan engkau yang mengucapkannya, tetapi Dia-lah yang mengucap lewat lisan hamba-Nya.

Jika engkau mengucapkannya dengan dirimu, engkau masih bersama dirimu.”

Al-Tsawri berucap, “Engkau memang pendidik terbaik, wahai ustaz,” sebelum langsung terdiam dan tidak sadar.
 
Aku mabuk kepada-Mu dengan zikir
yang Kau tuangkan
Ia terisi zikir kepada-Mu dan fana karena merindu-Mu
Barangsiapa tidak merindukan cinta yang merasuki akal
Ia sungguh malang dan menderita
Zikir adalah lenyap mengingat-Nya disertai lenyap
dari selain-Nya akibat mabuk yang dirasakan
Barang siapa masih sadar, ia tidak berzikir
Barang siapa lenyap dari zikirnya, layaklah ia untuk naik.
 
Ketahuilah, zikir adalah keluar dari kealpaan dan kelalaian dengan terus menghadirkan hati dan mengikhlaskan zikir lisan disertai perasaan bahwa Tuhanlah yang mengucapkan zikir dengan lisan hamba.

Ada yang berpendapat, zikir adalah keluar dari lubang kelalaian menuju angkasa penyaksian disertai perasaan takut, cinta, dan rindu.

Hakikat zikir adalah mengesakan Tuhan dengan si pezikir lenyap dari zikirnya sendiri, fana dalam kesaksian-Nya, serta hidup dalam penyaksian-Nya. Ia menyaksikan kebenaran lewat kebenaran, sehingga Allah lah yang berzikir dan dizikiri.

Dilihat dari sisi bahwa zikir mengalir lewat lisan hamba, hamba berzikir.

Dilihat dari kemudahan dan kemampuan yang diberikan pada lisannya, Dialah yang berzikir mengingat hamba-Nya.

Dilihat dari sisi bahwa Allah-lah yang menghembuskan ingatan, Dia berzikir akan diri-Nya lewat lisan hamba-Nya.

Dalam hadis sahih diriwayatkan bahwa Allah berfirman, “Aku menjadi pendengaran yang digunakannya untuk mendengar, penglihatan yang digunakan untuk melihat, dan lisan yang dipakainya untuk berucap.”110

Dalam Riwayat lain: “Aku menjadi pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, dan penolongnya.”

Zikir beragam, tetapi objeknya hanya satu. Ahli zikir adalah para kekasih Tuhan.

Zikir terdiri dari tiga macam: zikir lantang, zikir sunyi, dan zikir hakiki.

Zikir lantang untuk para pemula. Ia berupa zikir lisan yang merupakan ungkapan syukur dan pujian dengan mengagungkan nikmat dan karunia-Nya serta memelihara janji. Kebaikannya dibalas sepuluh hingga tujuh puluh kali lipat.

Zikir sunyi dalam batin milik para wali. Ia merupakan zikir hati dengan keluar dari kekosongan dan terus menyaksikan kehadiran Tuhan. Zikir ini mendapat balasan kebaikan tujuh puluh hingga tujuh ratus kali lipat.

Zikir sempurna dan hakiki dilakukan orang-orang yang sampai kepada Tuhan. Ia berupa zikir ruh dengan penyaksian Tuhan kepada hamba. Kebaikan zikir ini dibalas tujuh ratus kali lipat hingga tak terhingga. Itu karena penyaksian adalah kefanaan yang tidak menyimpan kelezatan.
Ruh berzikir mengingat zat-Nya, hati berzikir mengingat sifat-sifat-Nya, dan lisan berzikir sebagai kebiasaan.
Jika zikir ruh benar-benar terwujud, hati ditempati zikir-Nya. Zikir keagungan zat Tuhan mengisyaratkan terwujudnya kefanaan dan kedekatan kepada-Nya.
Apabila zikir hati benar-benar terwujud, lisan terdiam dan tak mampu lagi maenyebut-Nya. Ia merupakan zikir tentang karunia dan nikmat Tuhan sebagai jejak-jejak sifat-Nya.
Ketika hati lalai dari zikir, lisan berzikir sebagai kebiasaan.

Setiap jenis zikir tersebut memiliki ‘cacat’.
Cacat zikir ruh adalah terlihatnya rahasia hati.
Cacat zikir hati adalah terlihatnya diri.
Cacat zikir diri adalah kondisi saat menghadapi penyakit.
Cacat zikir lisan adalah kelalaian dan patah semangat.

Sumber: Buku Terapi Makrifat “Rahasia Kecerdasan Tauhid”
Oleh : Syeikh Ibn ‘Athaillah al-Sakandari.

TIPE BERZIKIR

Seorang penyair menggubah:
 
Dialah Allah, maka ingatlah Dia dan bertasbihlah dengan memuji-Nya
Tidak boleh ada tasbih kecuali untuk keagungan-Nya
Segala pujian adalah keagungan milik-Nya
Apa gerangan yang dicapai zikir hamba?
Andaikan laut meluap dan seluruh laut memberi tambahan
Lalu Zat Yang menghimpun laut kembali memenuhinya
Serta seluruh tumbuhan menuliskan pujian bagi-Nya
guna menunaikan pujian tak terhitung jumlahnya
Dia semakin disebut sebagai Zat Yang Terpuji
Makhluk-Nya terus bertasbih mengagungkan-Nya
Selama alam ini ada.
 
Dalam hal zikir manusia terbagi tiga golongan:
 
(1) golongan awam,
(2) golongan khusus yang bersungguh-sungguh,
(3) golongan yang lebih khusus yang mendapat petunjuk.
 
Zikir golongan awam adalah permulaan untuk membersihkan diri,
zikir golongan khusus berada ditingkat pertengahan untuk memuliakan,
dan zikir golongan lebih khusus merupakan tingkat akhir untuk menyaksikan.

Zikir golongan awam berada di antara penafian dan penetapan, zikir golongan khusus menetapkan apa yang telah ditetapkan, sedangkan zikir golongan lebih khusus merealisasikan penetapan sesungguhnya tanpa melihat dan menoleh kepada yang lain.

Zikir orang takut adalah terhadap ancaman-Nya, zikir orang berharap adalah terhadap janji-Nya , zikir orang bertauhid adalah dengan meng-esakan-Nya, zikir orang mencinta adalah dengan menyaksikan-Nya, dan zikir kaum arif adalah zikir-Nya untuk-Nya, bukan zikir mereka untuk mereka.

Orang arif berzikir dengan memuja dan mengagungkan. Orang alim berzikir dengan memuja dan mengagungkan. Orang alim berzikir dengan menyucikan dan memuliakan.
Ahli ibadah berzikir dengan rasa takut dan harap.
Pencinta berzikir dengan rasa mabuk kepayang.
Ahli tauhid berzikir dengan penuh hormat.
Orang awam berzikir sebagai kebiasaan.
Hamba tertunduk, dalam zikir ada yang diingat, dan mukalaf tidak punya alasan.

Ada tiga cara berzikir: (1) zikir permulaan untuk kehidupan dan kesadaran,
(2) zikir pertengahan untuk pembersihan dan penyucian, serta
(3) zikir penghabisan untuk sampai dan mengenal.

Zikir kehidupan dan kesadaran, setelah syaratnya terpenuhi, adalah dengan memperbanyak bacaan:
 
Yaa hayyu yaa qayyuum laa ilahaa illaa anta (Bahasa arab)
 
Wahai Yang Mahahidup dan Mahamandiri, tiada Tuhan selain Engkau
 
Zikir pembersihan dan penyucian, setelah syaratnya terpenuhi, adalah dengan memperbanyak bacaan:
 
Hasbiyallaahu alhayyul qayyum (Bahasa arab)
Cukuplah bagiku Allah, Zat Yang Mahahidup dan Mahamandiri
 
Zikir memiliki tiga tingkatan.

(1) Zikir yang disertai kelalaian; balasannya adalah penolakan dan laknat Tuhan.

(2) Zikir yang disertai kehadiran hati; balasannya adalah kedekatan dan tambahan karunia Tuhan.

(3) Zikir yang pelakunya tenggelam dalam zikir; balasannya adalah cinta, penyaksian, dan sambungan dengan-Nya.

Sumber : buku Terapi Makrifat “Rahasia Kecerdasan Tauhid”
Oleh : Syeikh Ibnu ‘Atahillah as-Sakandari